|
Lobha
oleh: Selamat Rodjali
Hal-hal tertentu telah memberikan kepuasan kepada kita
pada waktu yang lampau sehingga kita mencoba untuk memperolehnya
lebih banyak. Hal-hal tertentu lain telah mendatangkan
ketidaksenangan kepada kita sehingga kita mencoba untuk
menyingkirkan atau melepaskannya. Menurut Buddha Dhamma,
keadaan-keadaan ini sering disebut sebagai "nafsu
keinginan dan kebencian" dan keduanya memiliki
kekuatan menggerakkan kita dari satu pengalaman ke pengalaman
lain sampai akhirnya kita mampu mengendalikannya.
Seseorang yang kehausan akan mencoba untuk menyingkirkan
perasaan tidak menyenangkan itu dengan mencari sesuatu
yang dipikirnya dapat menghilangkan kehausan itu dan
mendatangkan kesenangan. Apabila hal ini tidak diperolehnya,
maka ia tetap kehausan. Apabila ia mendapatkannya, maka
kehausan tersebut menjadi terpuasi dan untuk sementara
waktu, 'haus' tersebut lenyap. Kesenangan akan sesuatu
yang diharapkan dan diinginkan telah pergi dan sering
kali muncul kekecewaan.
Banyak hal kita harap dapat memberikan kesenangan,
namun setelah kita peroleh muncul kekecewaan. Bagi orang-orang
tertentu, kedengarannya memang enak apabila memperoleh
banyak uang. Namun, apabila uang telah didapat, muncul
persoalan baru, kebingungan bagaimana menggunakan uang
itu, bagaimana melindunginya, atau bahkan akan menjerumuskan
seseorang untuk berlaku bodoh. Orang-orang kaya mungkin
bertanya-tanya apakah teman-temannya menghargainya karena
'kepribadiannya' atau karena uangnya, dan ini merupakan
salah satu bentuk penderitaan mental yang lain.
Ada satu ketakutan akan hilangnya barang yang dimiliki,
apakah itu harta benda atau beberapa orang yang dicintai.
Lalu, apabila kita mau jujur dan melihat secara mendalam
apa yang kita sebut 'kesenangan', temyata kita dapati
bahwa itu hanya satu macam bayangan di dalam pikiran,
tak pernah sepenuhnya tergenggam, tak pemah lengkap,
atau dalam arti yang lebih mendekati, berhubungan dengan
rasa takut akan kehilangan.
Musuh utama dari seluruh kehidupan ini adalah nafsu
yang kuat, keserakahan atau kehausan. Tentu tidak hanya
keserakahan atau kemelekatan terhadap kesenangan indera,
kemakmuran, kekayaan, keinginan menggulingkan orang
lain dan menaklukkan negara lain saja, tetapi juga kemelekatan
terhadap cita-cita, gagasan-gagasan, konsep atau pandangan,
opini-opini dan kepercayaan-kepercayaan yang akan membawa
kepada bencana dan kehancuran dan mendatangkan penderitaan
yang tak terkatakan bagi seluruh bangsa, bagi dunia
ini! Betapa dahsyatnya kekuatan lobha ini, dan tentunya
umat Buddha khususnya dan makhluk hidup umumnya patut
waspada akan kekuatan lobha karena pikiran yang mengandung
lobha memiliki ciri khas dan kondisi unik yang menyebabkan
kemunculannya.
JENIS CITTA
Sang Buddha telah membabarkan segala sesuatu yang nyata.
Apa yang beliau ajarkan dapat dibuktikan melalui pengalaman
kita sendiri. Namun, kita tidak mengetahui secara aktirat
kesunyataan yang terdapat dalam kehidupan sehari-hari,
yaitu fenomena batin (mental) dan fenomena fisik (jasmani)
yang diterima melalui mata, telinga, hidung, lidah,
badan, dan pikiran.
Di dalam kehidupan kita sehari-hari, terdapat banyak
sekali benda yang kita pandang dan kita pergunakan,
seperti rumah, makanan, pakaian atau alat-alat rumah
tangga. Benda-benda tersebut tidak muncul demikian saja.
Mereka adalah bentukan pikiran atau kesadaran (citta).
Citta adalah fenomena batin yang mengetahui atau mengalami
objek. Citta dapat menghasilkan berbagai akibat. Apabila
kita memperhatikan segata sesuatu yang dihasilkan oleh
citta, seperti perbuatan-perbuatan baik dan perbuatan-perbuatan
buruk, maka dapat diterima, bahwa jenis citta tidak
hanya satu macam. Apabila dikelompokkan menurut bangsa
(jatibhedanaya), citta dibagi meniadi empat macam,
yaitu :
1. Akusala citta, yaitu kesadaran atau pikiran yang
tidak baik.
2. Kusala citta, yaitu kesadaran atau pikiran yang baik.
3. Vipaka citta, yaitu kesadaran atau pikiran yang menjadi
hasil atau akibat dari akusala atau kusala.
4. Kiriya citta. yaitu kesadaran atau pikiran yang bukan
sebab juga bukan akibat dari akusala dan kusala.
Dalam sehari, semua jenis citta yang beragam ini muncul!
Sebagian besar dari waktu kita sehari-hari terbuang
percuma, kita tidak mengetahui apakah citta yang muncul
itu akusala, kusala, vipaka atau kiriya. Apabila kita
belajar mengamati dan membedakan pikiran kita, maka
kita akan memperoleh pengertian yang lebih banyak mengenai
diri kita atau orang lain: kita akan lebih banyak memiliki
belas kasihan (karuna) dan cinta kasih (metta) kepada
orang lain walaupun orang lain itu bertingkah laku tidak
pantas terhadap kita.
Umumnya, kita tidak menyukai akusala citta yang dimiliki
orang lain; kita tidak senang apabila orang itu kikir
atau berbicara kasar. Namun, apakah kita menyadari saal-saat
sewaktu kita memiliki akusala citta? Ketika kita tak
menyukai kata-kata kasar orang lain, kita sendiri mempunyai
akusala citta dengan kebencian pada saat itu. Apabila
seseorang tidak mempelajari Abhidhamma yang menielaskan
realitas secara rinci, seseorang mungkin tidak mengetahui
apakah akusala itu. la mungkin menganggap perbuatan
buruk sebagai perbuatan baik, dan seterusnya ia menumpuk
perbuatan buruknya tanpa disadari. Apabila kita lebih
banyak mengetahui perbedaan jenis citta, kita dapat
melihat sendiri jenis citta mana yang lebih sering muncul
dalam diri kita sehingga kita lebih banyak mengenal
diri kita, dan upaya untuk perbaikan diri menjadi lebih
mudah.
AKUSALA CITTA
Perbuatan-perbuatan tidak baik akan memberikan hasil
yang tidak menvenangkan. Tak seorang pun ingin mengalami
hasil yang tidak menyenangkan, tetapi kebanyakan orang
tidak mengetahui penyebab yang memberikan hasil tak
menyenangkan; mereka tidak menyadari kapan citta itu
tidak baik dan mereka tidak selalu tahu ketika mereka
melakukan perbuatan tidak baik; pengetahuan mereka tentang
akusala masih samar-samar atau bahkan gelap gulita.
Apabila kita mempelajari Buddha Dhamma dengan lebih
rinci lagi, maka kita dapat mengetahui bahwa akusala
citta dibagi meniadi tiga kelompok, yaitu :
- Lobha-mula-citta, yaitu kesadaran yang berakar
pada keserakahan (lobha).
- Dosa-mula-citta, yaitu kesadaran yang berakar pada
kebencian (dosa).
- Moha-mula-citta. yaitu kesadaran yang berakar pada
kebodohan (moha).
Moha (kebodohan batin) muncul pada setiap jenis akusala
citta.
Akusala citta yang berakar pada lobha (lobha-mula-citta)
sebenarnya memiliki dua akar. yaitu moha dan lobha.
Dinamai lobha-mulacitta karena lobha cetasika yang menjadi
pemimpin. Dosa-mula-citta juga memiliki dua akar, yaitu
moha dan dosa. Dosa-mula-citta dipimpin oleh dosa cetasika.
CIRI KHAS LOBHA
Setiap kelompok citta dari akusala citta memiliki lebih
dari satu tipe citta. lobha-mula-citta memiliki delapan
tipe citta yang berbeda. Lobha adalah kesunyataan mutlak
(paramattha dhamma) yang merupakan cetasika (faktor
batin yang muncul bersama citta); lobha adalah kesunyataan;
oleh karena itu, lobha dapat dialami.
Di dalam Visuddhi-magga dinyatakan bahwa lobha memiliki
ciri khas memegang objek, seperti getah (perekat). Fungsinya
adalah menempel, mirip daging di sebuah panci panas,
ibarat jelaga yang secara nyata bersifat tidak menolak.
Penyebabnya yang paling dekat adalah melihat kenikmatan
dalam segala hal yang menjerumuskan ke perbudakan, menambah
arus kecanduan.
Kadang kata lobha disebut sebagai keinginan (tanha),
kadangkadang disebut Pula sebagai nafsu serakah (abhijjha),
nafsu indera (kama), atau hawa nafsu (raga). Lobha memiliki
banyak tingkatan, yang kasar, sedang dan halus.
Kebanyakan orang dapat mengakui lobha ini apabila munculnya
sangat kasar; pada tingkah yang lebih halus, umumnya
mereka tidak mengakui. Misalnya, seseorang dapat mengakui
lobha ketika ia cenderung untuk makan terlalu banyak
makanan yang nikmat atau ketika ia terikat kepada minuman
beralkohol atau rokok. Seseorang melekat kepada orang-orang
tertentu, bahkan terhadap gurunya, dan ia tidak puas,
apabila kehilangan mereka yang dicintai. Juga, kita
dapat melihatnya, bahwa kemelekatan membawa kesedihan.
Citta muncul dan padam cepat sekali dan disusul dengan
citta-citta berikutnya. Pada tingkat lobha yang lebih
halus, kita mungkin tidak menyadari ketika lobha-mula-citta
muncul akibat apa yang kita alami dalam kehidupan sehari-hari
melalui keenam pintu indera. Setiap waktu, di mana saja,
tak terhitung betapa banyaknya, lobha muncul di dalam
diri kita dalam kehidupan sehari-hari!
LOBHA DAN KONDISINYA
Citta muncul karena adanya kondisi. Demikian pula,
lobha muncul karena terdapat kondisi. Di dalam Maha-dukkhakkhandhasutta
dapat dibaca bahwa ketika berdiam di dekat Savathi,
di Hutan Jeta, Sang Buddha berkata kepada para bhikkhu,
sebagai berikut: "Para bhikkhu, apakah kepuasan
dalam kesenangan indera itu?
Para bhikkhu, terdapat lima untai kesenangan indera.
Apakah kelima hal itu? Bentuk-bentuk materi yang diterima
oteh mata, serasi, menyenangkan, disukai, menarik, berhubungan
dengan kesenangan indera, memikat. Suara-suara yang
diterima oleh telinga,... . Bebauan yang diterima oleh
hidung,... . Rasa yang diterima oleh lidah, ... . Sentuhan-sentuhan
yang diterima oleh tubuh, serasi, menyenangkan, disukai,
menarik, berhubungan dengan kesenangan indera, memikat.
Inilah, Para bhikkhu, lima untai kesenangan indera.
Apapun kesenangan, kegembiraan, yang muncul karena konsekuensi
kelima untai kesenangan indera ini, merupakan kepuasan
dalam kesenangan indera."
Di dalam Salayatanavagga dapat dibaca bahwa Sang Buddha
ketika berdiam di Devadaha berkata kepada Para bhikkhu,
sebagai berikut :
"O Para bhikkhu, Para dewa dan manusia sangat
gembira di dalam obiek Penglihatan, mereka tertarik
kepada objek penglihatan. Akibat ketidakstabilan mengenai
akhir, musnanya obiek-obiek; Para bhikkhu; Para dewa
dan manusia hidup menderita. Mereka senang kepada suara-suara,
bebauan, rasa-rasa, sentuhan, mereka senang kepada bentuk-bentuk
pikiran, dan tertarik kepadanya. Karena ketidakstabilan
mengenai akhir, lenyapnya bentuk-bentuk pikiran; Para
bhikkhu; Para dewa dan manusia hidup penuh penderitaan.
Akan tetapi 0 Para bhikkhu, Tathagata, seorang Arahat,
yang mencapai kesempurnaan secara mandiri, melihat hal-hal
itu sebagaimana adanya, munculnya dan hancurnya, kepuasan,
kesengsaraan dan jalan untuk membebaskan diri dari obiek-objek.
Beliau tidak gembira di dalam objek, tak tertarik kepadanya.
Akibat ketidakstabilan mengenai akhir, lenyapnya obiek-objek,
Sang Tathagata tetap tenang..."
Kepuasan di dalam kesenangan indera bukantah kebahagiaan
seiati. Kepuasan di dalam kesenangan indera merupakan
kebahagiaan bermata kail, umpan diperoleh namun mata
kail ikut -menusuk. Ikan yang bodoh tidak pernah mengetahui
bahwa umpan yang diterima mengandung mata kail malapetaka.
LOBHA-MULA-CITTA DAN VEDANA
Tiga dhamma yang berkaitan di dalam lobha-niwa-citta
ialah vedana (perasaan), ditthi (pandangan) dan sankhara
(wujud).
Mereka yang tidak mengenal dan memahami ajaran Buddha
mungkin berpikir bahwa kemelekatan adalah perbuatan
baik, khususnya ketika kemelekatan itu muncul bersama
perasaan senang. Mereka tidak mengetahui Perbedaan antara
kemelekatan (lobha) dengan cinta kasih (metta);
kedua fenomena ini dapat muncul dan disertai perasaan
senang. Namun, citta yang bersekutu dengan perasaan
senang belum tentu kusala citta. Perasaan (vedana)
yang menyertai lobha-mula-citta adalah akusala vedana.
Lobha-mula--citta dapat muncul disertai perasaan senang
sangat kuat (somanassa-vedana) atau muncul diserta
perasaan netral (upekkha-vedana). Akusala citta yang
disertai somanassa-vedana ini akan memproduksi akusala
vipaka yang lebih berat jika dibandingkan efek akusala
citta dengan upekkha-vedana.
LOBHA-MULA-CITTA DAN DITTHI
Lahir, usia tua, sakit dan mati merupakan ciri khas
kehidupan. Namun, kita tak pemah mau memikirkan bahwa
tubuh kita atau orang lain yang dikasihi akan meniadi
bangkai. Kita menerima ketahiran, namun kita sulit menerima
konsekuensi dari kelahiran, yaitu usia tua, sakit dan
mati. Kita menginginkan semua benda yang berkondisi
selalu kekat. Ketika bercermin, kita cenderung menganggap
badan kita sebagai benda yang statis dan 'milikku'.
Padahal, badan hanyalah fenomena materi (rupa). Mereka
secara kontinyu muncul dan padam karena partikel-partikel
badan tidak pernah kekal.
Menganggap badan ini sebagai 'aku' adalah ditthi. Ditthi
yang dimaksud di dalam akusala citta ini tentunya miccha
ditthi (pandangan salah). Ditthi ini muncul khusus
di dalam lobha-mula-citta. Pada saat lobha-mula-citta
bersama ditthi muncul, maka pada saat tersebut terdapat
pandangan salah. Seorang anak mungkin saia mencuri sebuah
mangga dengan berpandangan bahwa tidak ada ketidakbaikan
dalam perbuatannya itu.
Lobha-mula-citta yang tidak bersekutu dengan pandangan
salah (ditthigatavippayutta) bukan berarti bahwa
citta itu bersekutu dengan pandangan benar.
Beberapa orang percaya bahwa terdapat jiwa yang kekal
yang bertransmigrasi dari kehidupan ini ke kehidupan
berikutnya (sassata ditthi). Ada pula pandangan
yang menganggap bahwa segala sesuatu muncul tanpa sebab
(ahetuka ditthi); pandangan lain menganggap bahwa
tidak ada perbuatan baik atau buruk yang memproduksi
akibat, tak ada sesuatu yang bersebab atau berakibat
(akiriya ditthi). Ada pula orang-orang yang berpikir
bahwa mereka dapat menjadi suci semata-mata dengan mandi
dalam air tertentu di tengah malam atau dengan menyebutkan
mantram tertentu. Mereka menganggap bahwa kamma buruknya
dapat dicuci bersih! Sementara orang berpendapat bahwa
kamma tidak berakibat apapun (natthika ditthi).
Semua makhluk berbuat apa saja tidak menerima akibat.
Mereka yang berpandangan seperti ini cenderung menghalalkan
segala cara demi cita-citanya.
LOBHA-MULA-CITTA DAN SANKHARA
Lobha-mula-citta dapat muncul karena ajakan (sasankharika)
atau tanpa ajakan (asankharika). Berbagai jenis
ajakan datang melalui tiga jalan, yaitu melalui jasmani
seperti menunjuk, menggapai, main mata; melalui ucapan
seperti anjuran, permohonan, panggilan, pujian, rayuan;
melatui pikiran seperti mengenang hal-hal yang menyenangkan.
Lobha-mula-citta muncul dengan ajakan apabila pikiran
sedang lemah (manda), tetapi apabila pikiran
sedang kuat (tikkha), maka ia muncul secara spontan.
tanpa ajakan.
LOBHA DAN DHAMMACHANDA
Konflik sering terjadi pada seseorang yang senang sekali
belajar Dhamma dan bercita-cita ingin merealisasi Nibbana
karena pada satu hari ia 'dikuliahi' oleh oknum tertentu.
"Kamu kok senang sekali mengumpulkan buku Dhamma
dan belajar Dhamma. You know, itu salah satu bentuk
lobha!" kata sang oknum dengan keren.
Lobha bersifat akusala (immoral), dan produk dari lobha
ini bersifat tidak menyenangkan. Lobha memiliki ciri
melekat terhadap objek, seperti daging yang diletakkan
di panci panas. Kegiatan mengumpulkan buku Dhamma dan
belajar Dhamma dengan tekun merupakan Dhammacchanda,
yaitu keinginan mulia atau keinginan baik. Dhammacchanda
inilah yang mendorong Pangeran, Siddhattha untuk meninggalkan
megahnya kerajaan, dan dhammacchanda inilah yang dimiliki
oleh semua umat Buddha untuk merealisasi Nibbana. Hal
ini bukan sejenis 1obha!
PENGHANCURAN LOBHA SECARA BERTAHAP
Bentuk-bentuk batin Yang dipimpin oleh bentuk batin
lobha ialah lobha cetasika (ketamakan), ditthi cetasika
(pandangan keliru) dan mana cetasika (kesombongan).
Lobha cetasika ditemui di dalam kedelapan jenis lobha-mulacitta,
yaitu :
Somanassa-sahagatam, ditthigatasampayuttam, asankharikam
Somanassa-sahagatam, ditthigatasampayuttam, sasankharikam
Somanassa-sahagatam, ditthigatavippavuttam, asankharikam
Somanassa-sahagatam, ditthigatavippayuttam, sasankharikam
Upekkhasabagatam, ditthigatasampayuttam, asankharikam
Upekkhasahagatam, ditthigatasampayuttam, sasahkharikam
Upekkhasahagatam, ditthigatavippayutam, asatikharikam
Upekkhasahagatam, ditthigatavippayuttam, sasafikharikam
Ditthi cetasika ditemui di dalam empat jenis lobha-mula-citta
yang bersekutu dengan pandangan salah (ditthigatasampayutta).
Mana cetasika ditemui di dalam empat jenis lobha-mula-citta
yang tidak bersekutu dengan pandangan salah (ditthigatavippayutta).
Kita ingin menghancurkan penyebab dukkha, yaitu lobha,
namun ia tak dapat dibasmi sekaligus. Kita dapat menekannya
sementara, tetapi ia muncul lagi bila ada kondisi yang
tepat. Bagaimanapun juga, terdapat satu cara untuk menghancurkannya,
yaitu dengan senjata kebijaksanaan yang memandang segala
sesuatu dengan "wajar".
Ditthi merupakan dhamma pertama yang harus dihancurkan,
baru kemudian bentuk kemelekatan lain dapat dihapuskan.
Seorang Sotapanna telah menyadari bahwa semua fenomena
batin dan jasmani bukan 'aku'; oleh karena itu, ia telah
menghancurkan ditthi; ditthigatasampayutta citta tak
mungkin muncul lagi dalam batinnya. Namun, la masih
memiliki ditthigatavippayutta citta 4. Sakadagami hanya
mampu meringankan ditthigatavippayutta citta 4 ini.
Anagami telah membasmi total (samuccheda pahana)
ditthigatavippayutta citta 4 yang berkenaan dengan kamaraga.
Ditthigatavippayutta citta 4 yang berkenaan dengan Ruparaga
dan Aruparaga hanya dapat dibasmi total (samuccheda
pahana) oleh Arahat. Jadi, delapan tipe lobha-mula-citta
di atas dibasmi secara bertahap.
SUMBER BACAAN UTAMA
- Dhammananda, K.S. 1967. Why Worry. Buddhist Missionary
Society, Kuala Lumpur, 116P.
- Kaharuddin, J. (tanpa tahun). Diktat Abhidhanuna
1, Jakarta.
- Kaharuddin, J. 1981. Kamus Buddha Dhamma. Edisi
Niramayanara, Tangerang, 216 hal.
- Narada. 1977. The Buddha and His Teachings. Buddhist
Missionarv Society, Kuala Lumpur, 713p.
- Narada. 1979. Abhidhammatthasangaha. Yayasan Dhammadipa
A,-ama, Jakarta, 451p.
- Van Gorkom, N. 1979. Abhidhamma in Daily Life. H.M.
Gunasekera Trust, Sri Lanka, 259P.
Pernah dimuat dalam majalah Pancaran Dharma no.
169.
Diedit kembali oleh Chandadhammo Benny Chandra dan
dimuat atas ijin penulis.
Kirim
Artikel ini ke Teman Anda!
|