|
Roh: Apa, Di mana, Dari mana, dan Ke mana?
oleh: Selamat Rodjali
Sejak kecil manusia telah terbiasa dengan istilah roh,
baik secara lisan maupun di dalam batin. Di dalam perjalanan
kehidupan sehari-hari, efek tentang roh di dalam batin
itu sangat kuat, bahkan sangat erat kaitannya dengan
perilaku orang itu dalam menghadapi setiap aktivitasnya.
Mengapa sejak kecil manusia telah terlekati oleh konsep
tentang roh tersebut? Secara sportif diakui bahwa pengaruh
lingkungan (keluarga, tetangga, dan seterusnya) begitu
kuat. Secara sadar ataupun tidak, baik umat Buddha ataupun
bukan telah menanamkan konsep roh itu kepada orang di
sekitarnya, dan 'memelihara' konsep itu. Tentu umat
Buddha tersebut bertitel 'umat KTP' atau mereka yang
berani menyebut dirinya sebagai pakar Buddhis namun
tak pernah mau mengkaji dan mempraktekkan ajaran Buddha
secara konsisten.
Kita semua menyadari bahwa di sekitar kita penuh dengan
pandangan sesat tentang roh yang senantiasa ada di dalam
tubuh, merasakan, melihat, serta dapat 'bertransmigrasi'
ke surga atau ke neraka abadi. Spekulasi ini terus berlangsung,
bahkan para ilmuwan yang selalu berasaskan logika dan
sistematika berpikir masih terus berspekuIasi dalam
usaharnya menelanjangi misteri roh.
DNA (asam deoksi ribonukleat) ROH?
Secara biologi. makhluk tersusun atas organ-organ. Organ
tersusun atas jaringan-jaringan yang memiliki fungsi
unik. Jaringan terbentuk oleh gabungan ribuan bahkan
jutaan sel. Sel merupakan bagian terkecil dari makhluk
yang mampu beraktivitas hidup. Apabila sel kita urai
lagi, maka sel tersusun atas komponen sel (organel)
yang dibentuk oleh senyawa karbohidrat, protein, lipid,
dan asam nukleat. Senyawa-senyawa tersebut berasal dari
oksigen. karbondioksida, nitrogen, garam organik, dan
ion logam yang umum dijumpai dalam kehidupan sehari-hari.
Masalahnya, apakah perbedaan antara zat hidup dan
tak hidup? Ciri utama pembeda zat hidup dan tak hidup
adalah kemampuan mereplikasi diri menghasilkan zat yang
memiliki bentuk, struktur molekul, dan massa yang identik
dengan zat asal. Kemampuan ini dimiliki oleh makromolekul
DNA RNA. Melihat hal ini, di dalam sebuah surat kabar
ibukota diberitakan bahwa ada pendapat dari ahli filsafat
biokimia yang mengatakan kalau roh itu ada. maka ada
di dalam DNA bahkan menyamakan DNA dengan roh! Agaknya
terlalu pagi untuk memberi jawaban 'ya' bagi pernyataan
tersebut, apalagi bagi umat Buddha, walaupun DNA dapat
digunakan sebagai sarana mengubah sistem hidup melalui
rekayasa genetika.
APA ROH ITU?
Sang Buddha menghadapi semua teori dan spekulasi roh
kekal ini dengan doktrin anatta, yang berarti tanpa
roh, tanpa aku. Seseorang harus melihat secara objektif
apa yang disebut roh itu secara semestinya. Roh semata-mata
kombinasi dari kekuatan yang berubah (anicca). Hal ini
memerlukan penjelasan analitis.
Sang Buddha mengajarkan bahwa apa yang kita anggap
sesuatu yang kekal di dalam diri kita hanyalah kombinasi
fenomena fisik dan batin (pancakkhandha), yang
terdiri atas fenomena jasmanil, materi (rupakkhandha),
fenomena perasaan (vedana-kkhandha), fenomena
pencerapan (sannakkhandha), fenomena bentuk-bentuk
pikiran (sankharakkhandha) dan fenomena kesadaran
(vinnanakkhandha). Fenomena-fenomena ini bekerja
sama dalam sebuah aliran perubahan; mereka tak pernah
sama dalam satu saat yang beriringan. Mereka merupakan
komponen psikofisik kehidupan. Di dalam psiko-fisik
kehidupan ini, Sang Buddha tidak menemukan roh kekal.
Namun, masih banyak orang yang memiliki miskonsepsi
bahwa roh itu kesadaran. Kepercayaan akan kekekalan
roh merupakan sebuah dogma yang bertentangan dengan
kebenaran empiris. Menurut Buddha Dhamma, istilah orang
atau jiwa merupakan pannatti dhamma, namun secara
paramattha dhamma, istilah itu tidak ada lagi.
DI MANA ROH MENGALAMI OBJEK DAN DARIMANA ROH ITU
MUNCUL?
Di dalam kehidupan sehari-hari, manusia mengalami rangsangan
luar. Kita pun sadar mengalaminya. Kesadaran itu telah
lama dianggap sebagai roh yang mengalami sesuatu dan
bersifat kekal, padahal apa yang disebut 'kesadaran'
itu merupakan bagian dari pancakkhandha. Kesadaran
atau vinnanakkhandha (citta) selalu berkombinasi
dengan tiga kelompok batin lain (cetasika). Mereka
mempunyai objek yang sama, timbul bersama, lenyap bersama.
selalu berubah-ubah, dan memiliki kualitas yang berbeda.
Pengalaman-pengalaman dalam kehidupan sehari-hari secara
global dapat dikelompokkan menjadi enam, yaitu pengalaman
melihat, mencium, merasa kecapan, mendengar, pengalaman
sentuhan badan, dan pengalaman melalui pikiran. Pengalaman-pengalaman
itu menyangkut segi batiniah dan kesadaran yang mengalami
keenam dunia tersebut memiliki fungsi yang unik (khas).
Munculnya kesadaran tersebut sepenuhnya tergantung pada
kondisi. Sebagai contoh, kesadaran melihat adalah hasil
(vipaka), diproduksi oleh kamma. Objek penglihatan
(ruparammana) mengkondisikan 'melihat' sebagai
kesadaran melihat. Apabila tidak ada objek penglihatan,
tidak muncul kesadaran melihat. Indera mata, sejenis
rupa di dalam mata (pasada rupa) yang mampu menerima
objek penglihatan, merupakan kondisi lain bagi proses
melihat. Jadi, kesadaran melihat berbeda dengan kesadaran
mendengar, juga berbeda dengan kesadaran lain. Fenomena
di atas sangat berbeda pula dengan anggapan 'umum' yang
menyatakan bahwa setiap kesadaran mengalami objek yang
berbeda itu dialami oleh satu 'roh'. Fenomena di atas
secara tegas 'mengkanvaskan ke bawah ring' teori roh
kekal dan teori keakuan yang kekal. Lantas akan muncul
pertanyaan, apabila fenomena-fenomena itu demikian adanya,
maka di manakah kesadaran itu mengalami objek dan dari
manakah mereka muncul?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita patut kembali
merenungkan poses-proses batin melalui keenam indera.
Proses pikiran melalui pintu panca indera adalah sebagai
berikut
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17
1, 2 dan 3 = Bhavanga citta (kesadaran penyambung kehidupan)
4 = panca-dvaravaijana citta (kesadaran menyelidiki
obiek yang datang
menuju lima pintu inde-a)
5 = dvi-panca-vinnana citta (kesadaran rnelihat, mendengar,
mencium,
merasakan rasa, dan kesadaran sentuhan badan)
6 = sampaticchana-citta (kesadaran menerima)
7 = santirana citta (kesadaran memeriksa/mengamati)
8 = votthapana citta (kesadaran memutuskan)
9 - 15 = javana citta (dorongan terhadap obiek Yyng
talah diputuskan baik buruknya)
16 dan 17 = tadarammana citta (kesadaran mencatat)
Kesadaran (citta) mengalami objek melalui pintu
(dvara), sedangkan kesadaran (citta) itu
sendiri muncul dari landasan (vatthu). Marilah
kita amati skema di bawah ini untuk membedakan antara
dvara dan vatthu:
| Jenis
citta dalam proses pikiran di pancavokara
bhumi |
|
|
| Panicadvara vithi |
|
|
|
| Bhavanga |
|
Hadaya
vatthu |
Hadaya
rupa |
| Paficadvaravajjana |
Panca dvara |
Hadaya
vatthu |
Hadaya
rupa |
| dvipancavinnana |
Panca dvara |
Panca vatthu* |
Pasada
rupa |
| sampaticchana |
Panca dvara |
Hadaya
vatthu |
Hadaya
rupa |
| santirana |
Panca dvara |
Hadaya
vatthu |
Hadaya
rupa |
| votthapana |
Panca dvara |
Hadaya
vatthu |
Hadaya
rupa |
| javana |
Panca dvara |
Hadaya
vatthu |
Hadaya
rupa |
| tadarammana |
Panca dvara |
Hadaya
vatthu |
Hadaya
rupa |
| Manodvara vithi |
|
|
|
| Bhavanga |
- |
Hadaya
vatthu |
Hadaya
rupa |
| Manodvaravajjana |
Mano dvara |
Hadaya
vatthu |
Hadaya
rupa |
| |
(bhavangu
paccheda) |
|
|
| Javana |
Mano dvara |
Hadaya
vatthu |
Hadaya
rupa |
| tadarammana |
Mano dvara |
Hadaya
vatthu |
Hadaya
rupa |
|
|
*Panca vatthu ialah Cakkhu vatthu, Sota vatthu, Ghana
vatthu, Jivha vatthu dan Kaya vatthu.
Para makhluk di alam yang memiliki nama dan
rupa (pancavokara bhumi), kesadaran (citta)
tak mungkin muncul tanpa jasmani. Sebuah citta yang
muncul memiliki sebuah rupa sebagai tempat munculnya
citta tersebut. Ketika terdapat kesadaran melihat,
dapatkah melihat muncul di luar badan? Ketika mendengar
atau berpikir, dapatkah citta-citta itu muncul tanpa
badan? Hal tersebut tidak mungkin terjadi. Dari mana
munculnya kesadaran melihat? Kesadaran melihat tidak
mungkin muncul di tangan atau di kaki kita. Kesadaran
tersebut memerlukan mata sebagai landasan fisiknya.
Cakkhuppasada rupa, rupa di dalam organ
mata yang dapat menerima objek penglihatan (tepatnya
retina), adalah landasan fisik (vatthu) tempat munculnya
kesadaran melihat.
Landasan fisik (vatthu) ini tidak sama dengan
pintu (dvara) walaupun cakkhuppasada rupa dalam
hal ini adalah dvara, juga vatthu bagi
kesadaran melihat (cakkhu vinnana), namun dvara
dan vatthu memiliki fungsi yang berbeda. Cakkhu-dvara
(pintu mata) adalah tempat di mana proses kesadaran
melihat atau cakkhu dvara vithi citta (lebih
dari satu citta yang terlibat) mengalami objek penglihatan.
Cakkhu vatthu (landasan fisik mata) adalah tempat munculnya
kesadaran melihat (cakkhu vinnana) saja. Cakkhu
vatthu adalah landasan fisik hanya untuk kesadaran
melihat, kesadaran lain di dalam proses melihat tersebut
memiliki vatthu (landasan) yang berbeda.
Landasan fisik untuk kesadaran mendengar adalah sotappasada
rupa, untuk kesadaran merasakan kecapan adalah jivhappasada
rupa, untuk kesadaran mencium adalah ghanappasada
rupa, untuk kesadaran sentuhan badan adalah kayappassada
rupa. Tujuh puluh sembilan citta sisanya
(tak termasuk dvipahca vinnana 10) muncul dari
hadaya vatthu.
Landasan fisik keenam yang bukan termasuk pasada
rupa 5 ialah hadaya vatthu (landasan hati
sanubari). Hadaya vatthu tidak sama dengan pintu
pikiran (manodvara). Manodvara adalah citta,
yaitu bhavanga upaccheda citta, citta
sebelum manodvaravajjana citta (kesadaran menyelidiki
objek dari pintu pikiran), sedangkan hadaya vatthu
adalah materi, yaitu hadaya rupa (unsur hati
sanubari).
KE MANA ROH ITU PERGI?
Secara analitis, dapat kembali dilihat di dalam proses
pikiran melalui panca dvara di atas bahwa setiap citta
(kesadaran) yang muncul dan lenyap segera disusul dengan
munculnya citta yang lain, demikian seterusnya, tanpa
ada satu celah kosong di antara dua citta yang berurutan.
Secara otomatis, cetasika pun muncul dan lenyap bersama
citta yang disekutuinya. Ternyata, apa disebut roh yang
merasakan segala sesuatu itu adalah semu, ilusi belaka.
Aliran kesadaran yang muncul lenyap muncul lenyap tersebut
berkondisi, dan apabila kondisi-kondisi tersebut tidak
ada, kesadaran itu tidak akan ada. Dengan kata lain,
kesadaran yang lenyap bukan berarti kesadaran itu pergi
(transmigrasi) ke tempat atau wadah lain, juga bukan
berarti bahwa kesadaran itu tetap diam. Perenungan itu
memang unik dan inilah ciri khas Buddha Dhamma.
KALAU TIDAK ADA ROH, APAKAH YANG DITUMIMBAL-LAHIRKAN?
Di luar batin dan jasmani, yang menyusun makhluk hidup,
Buddha Dhamma tidak mempercayai keberadaan roh kekal
yang diperoleh makhluk dari sebuah sumber yang misterius.
Di dalam pertanyaan "apabila tak ada roh yang berpindah
dari kehidupan ke kehidupan lain, apakah yang ditumimbal-lahirkan",
terdapat anggapan ada yang ditumimbal-lahirkan. Bagaimana
mungkin tumimbal lahir terjadi tanpa satu roh yang dilahirkan?
Menurut Buddha Dhamma, lahir adalah munculnya khandha.
Proses penjadian saat ini merupakan hasil dari keinginan
menjadi pada kehidupan lampau, dan keinginan saat ini
mengkondisikan hidup pada masa kelahiran mendatang.
Proses di dalam satu jangka kehidupan merupakan aliran
proses kesadaran yang dilanjutkan pada masa kehidupan
berikutnya tanpa ada yang hijrah ke tempat lain dan
pandangan ini berbeda dengan teori reinkarnasi roh yang
diajarkan oleh kepercayaan tertentu.
Ilmuwan modern mengilustrasikan proses tumimbal lahir
ini seperti bola-bola bilyar berangkai berdekatan. Misalnya,
sebuah bola menggelinding mengenai bola lain, bola menggelinding
ini akan berhenti mati, sedangkan bola yang dikenainya
akan bergerak, demikian seterusnya selama momentum atau
impuls (dorongan) kamma masih ada, maka impuls tersebut
akan melahirkan penggelindingan bola selanjutnya.
Jadi, ketika tumimbal lahir, tidak ada roh yang berpindah,
namun ada khandha yang muncul. Kesadaran di dalam kelahiran
yang baru tidak sama dengan kesadaran di dalam hidup
yang telah lewat dan juga tidak berbeda, karena sekarang
dan lampau masih dalam sebuah proses aliran kehidupan.
Ibarat keju, berasal dari susu namun keju tidak sama
dengan susu, demikian pula kehidupan lampau tidak sama
dengan kehidupan sekarang, namun sekarang berasal dari
lampau.
DAFTAR PUSTAKA
- Kaharuddin, J. 1989. Abhidhammatthasangaha. Sekolah
Tinggi Agama Buddha Nalanda. Jakarta, 187 hal.
- Narada. The Buddha and His Teachings. Buddhist Misionary
Society, Kuala Lumpur, 713 hal.
- Van Gorkom, Nina. 1979. Abhidhamma in Daily Life.
H.M. Gunasekera Trust, Sri Lanka, 259 p.
Pernah dimuat dalam majalah Pancaran Dharma Mei
1989 .
Diedit kembali oleh Chandadhammo Benny Chandra dan
dimuat atas ijin penulis.
Kirim
Artikel ini ke Teman Anda!
|