|
Agama dan Tujuan Hidup
Umat Buddha
Pengertian Agama
Kata agama berasal dari kata dalam bahasa Pali atau
bisa juga dari kata dalam bahasa Sansekerta, yaitu dari
akar kata gacc, yang artinya adalah pergi ke,
menuju, atau datang, kepada suatu tujuan, yang dalam
hal ini yaitu untuk menemukan suatu kebenaran. Adapun
penjelasan maknanya di antaranya sebagai berikut:
- Dari kehidupan tanpa arah, tanpa pedoman, kita datang
mencari pegangan hidup yang benar, untuk menuju kehidupan
yang sejahtera dan kebahagiaan yang tertinggi.
- Dari biasa melakukan perbuatan rendah di masa lalu,
kita beralih menuju hakekat ketuhanan, yaitu melakukan
perbuatan benar yang sesuai dengan hakekat ketuhanan
tersebut sehingga kita bisa hidup sejahtera dan bahagia.
- Dari kehidupan tanpa mengetahui hukum kesunyataan
(hukum kebenaran mutlak), dari kegelapan batin, kita
berusaha menemukan sampai mendapat atau sampai mengetahui
dan mengerti suatu hukum kebenaran yang belum kita
ketahui, yaitu hukum kesunyataan yang diajarkan oleh
Sang Buddha.
Ada juga pendapat yang mengatakan bahwa kata agama
mempunyai arti tidak kacau. Bila memang dapat diartikan
demikian, maka kata agama ini bias mempunyai makna yaitu
menjalankan suatu peraturan kemoralan untuk menghindari
kekacauan dalam hidup ini yang tujuannya adalah guna
mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan hidup.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa timbulnya agama di dunia
ini adalah untuk menghindari terjadinya kekacauan, pandangan
hidup yang salah, dan sebagainya, yang terjadi pada
waktu dan tempat yang berbeda; guna mendapatkan suatu
kehidupan yang sejahtera dan kebahagiaan tertinggi.
Memang, setiap orang di dunia ini pasti menginginkan
adanya kebahagiaan dan kedamaian dalam hidupnya. Inilah
alasan mengapa orang mau mencari jalan yang benar yang
dapat membawa mereka kepada suatu tujuan, yaitu suatu
kebahagiaan mutlak terbebas dari semua bentuk penderitaan.
Semua agama di dunia ini muncul karena adanya alasan
ini.
Agama Buddha (Buddha Dhamma)
Agama Buddha biasanya lebih dikenal dengan sebutan Buddha
Dhamma. Seluruh ajaran Sang Buddha merupakan ajaran
yang membahas tentang hukum kebenaran mutlak, yang disebut
Dhamma. Dhamma adalah kata dalam bahasa Pali. Bahasa
Pali adalah bahasa yang dipergunakan oleh masyarakat
di kerajaan Magadha pada masa sekitar hidupnya Buddha
Gotama dulu.
Dhamma artinya kesunyataan mutlak, kebenaran mutlak
atau hukum abadi. Dhamma tidak hanya terdapat di dalam
hati sanubari atau di dalam pikiran manusia saja, tetapi
juga terdapat di seluruh alam semesta. Seluruh alam
semesta juga merupakan Dhamma. Jika bulan timbul atau
tenggelam, hujan turun, tanaman tumbuh, musim berubah,
dan sebagainya, hal ini tidak lain juga merupakan Dhamma;
juga yang membuat segala sesuatu bergerak, yaitu sebagai
yang dinyatakan oleh ilmu pengetahuan modern, seperti
ilmu fisika, kimia, biologi, astronomi, psikologi, dan
sebagainya, adalah juga merupakan Dhamma. Dhamma merupakan
hukum abadi yang meliputi seluruh alam semesta; tetapi
Dhamma seperti yang baru dijelaskan ini, adalah merupakan
Dhamma yang berkondisi atau kebenaran mutlak dari segala
sesuatu yang berkondisi; sedangkan selain itu, Dhamma
adalah juga merupakan kebenaran mutlak dari yang tidak
berkondisi, yang tidak bias dijabarkan secara kata-kata,
yang merupakan tujuan akhir kita semua.
Jadi sifat Dhamma adalah mutlak, abadi, tidak bias
ditawar-tawar lagi. Ada Buddha atau tidak ada Buddha,
hukum abadi (Dhamma) ini akan tetap ada sepanjang jaman.
Di dalam Dhammaniyama sutta, Sang Buddha bersabda
demikian: "O, para bhikkhu, apakah para Tathagatha muncul
di dunia atau tidak, terdapat hukum yang tetap dari
segala sesuatu (Dhamma), terdapat hukum yang pasti dari
segala sesuatu. …".
Buddha, adalah merupakan suatu sebutan atau gelar dari
suatu keadaan batin yang sempurna. Buddha bukanlah nama
diri yang dimiliki oleh seseorang, Buddha berarti yang
sadar, yang telah mencapai penerangan sempurna, atau
yang telah merealisasi kebebasan agung dengan kekuatan
sendiri.
Dengan demikian, Buddha Dhamma adalah Dhamma yang telah
direalisasi dan kemudian dibabarkan oleh Buddha (yang
sekarang ini bernama Gotama); atau dapat juga dikatakan
agama yang pada hakekatnya mengajarkan hukum-hukum abadi,
pelajaran tata susila yang mulia, ajaran yang mengandung
paham filsafat mendalam, yang semuanya secara keseluruhan
tidak dapat dipisahkan. Buddha Dhamma memberikan kepada
penganutnya suatu pandangan tentang hukum abadi, yaitu
hukum alam semesta yang berkondisi dan yang tidak berkondisi.
Hal tersebut semuanya juga berarti menunjukkan bahwa
selain ada kehidupan keduaniaan yang fana ini, yang
masih berkondisi, atau yang masih belum terbebas dari
bentuk-bentuk penderitaan; ada pula suatu kehidupan
yang lebih tinggi, yang membangun kekuatan-kekuatan
batin yang baik dan benar, untuk diarahkan pada tujuan
luhur dan suci. Dengan mengerti tentang hukum kebenaran
ini, atau dapat pula dikatakan bila manusia sudah berada
di dalam Dhamma, maka ia akan dapat membebaskan dirinya
dari semua bentuk penderitaan atau akan dapat merealisasi
Nibbana, yang merupakan terhentinya semua derita. Tetapi,
Nibbana, yang merupakan terhentinya semua derita tersebut,
tidak dapat direalisasi hanya dengan cara sembahyang,
mengadakan upacara atau memohon kepada para dewa saja.
Terhentinya derita tersebut hanya dapat direalisasi
dengan meningkatkan perkembangan batin. Perkembangan
batin ini hanya dapat terjadi dengan jalan berbuat kebajikan,
mengendalikan pikiran, dan mengembangkan kebijaksanaan
sehingga dapat mengikis semua kekotoran batin, dan tercapailah
tujuan akhir. Sehingga dalam hal membebaskan diri dari
semua bentuk penderitaan, untuk mencapai kebahagiaan
yang mutlak, maka kita sendirilah yang harus berusaha.
Di dalam Dhammapada ayat 276, Sang Buddha sendiri
bersabda demikian:"Engkau sendirilah yang harus berusaha,
para Tathagata hanya menunjukkan jalan."
Tujuan Hidup Umat Buddha
Setelah kita dapat mengerti atau memahami apa arti Buddha
Dhamma seperti yang telah dijelaskan sebelumnya tadi,
maka kita sudah dapat mengetahui bahwa tujuan hidup
umat Buddha adalah tercapainya suatu kebahagiaan, baik
kebahagiaan yang masih bersifat keduniawian (yang masih
berkondisi) yang hanya bias menjadi tujuan sementara
saja; maupun kebahagiaan yang sudah bersifat mengatasi
keduniaan (yang sudah tidak berkondisi) yang memang
merupakan tujuan akhir, dan merupakan sasaran utama
dalam belajar Buddha Dhamma.
Banyak orang yang masih memiliki salah pengertian mengatakan
bahwa Agama Buddha (Buddha Dhamma) hanya menaruh perhatian
kepada cita-cita yang luhur, moral tinggi, dan pikiran
yang mengandung filsafat tinggi saja, dengan mengabaikan
kesejahteraan kehidupan duniawi dari umat manusia. Padahal,
Sang Buddha di dalam ajaran-Nya, juga menaruh perhatian
besar terhadap kesejahteraan kehdiupan duniawi dari
umat manusia, yang merupakan kebahagiaan yang masih
berkondisi. Memang, walaupun kesejahteraan kehidupan
duniawi bukanlah merupakan tujuan akhir dalam Agama
Buddha, tetapi hal itu bisa juga merupakan salah satu
kondisi (sarana / syarat) untuk tercapainya tujuan yang
lebih tinggi dan luhur, yang merupakan kebahagiaan yang
tidak berkondisi, yaitu terealisasinya Nibbana. Sang
Buddha tidak pernah mengatakan bahwa kesuksesan dalam
kehidupan duniawi adalah merupakan suatu penghalang
bagi tercapainya kebahagiaan akhir yang mengatasi keduniaan.
Sesungguhnya yang menghalangi perealisasian Nibbana
bukanlah kesuksesan atau kesejahteraan kehidupan duniawi
tersebut, tetapi kehausan dan keterikatan batin kepadanya
itulah, yang merupakan halangan untuk terealisasinya
Nibbana.
Di dalam Vyagghapajja sutta, seorang yang bernama
Dighajanu, salah seorang suku Koliya, datang menghadap
Sang Buddha. Setelah memberi hormat, lalu ia duduk di
samping beliau dan kemudian berkata: "Bhante, kami adalah
upasaka yang masih menyenangi kehidupan duniawi, hidup
berkeluarga, mempunyai isteri dan anak. Kepada mereka
yang seperti kami ini, Bhante, ajarkanlah suatu ajaran
(Dhamma) yang berguna untuk mendapatkan kebahagiaan
duniawi dalam kehidupan sekarang ini dan juga kebahagiaan
yang akan datang." Menjawab pertanyaan ini, Sang Buddha
bersabda bahwa ada empat hal yang berguna yang akan
dapat menghasilkan kebahagiaan dalam kehidupan duniawi
sekarang ini, yaitu:
- Utthanasampada: rajin dan bersemangat dalam
mengerjakan apa saja, harus terampil dan produktif;
mengerti dengan baik dan benar terhadap pekerjaannya,
serta mampu mengelola pekerjaannya secara tuntas.
- Arakkhasampada: ia harus pandai menjaga penghasilannya
yang diperolehnya dengan cara halal, yang merupakan
jerih payahnya sendiri.
- Kalyanamitta: mencari pergaulan yang baik,
memiliki sahabat yang baik, yang terpelajar, bermoral,
yang dapat membantunya ke jalan yang benar, yaitu
yang jauh dari kejahatan.
- Samajivikata: harus dapat hidup sesuai dengan
batas-batas kemampuannya. Artinya bias menempuh cara
hidup yang sesuai dan seimbang dengan penghasilan
yang diperolehnya, tidak boros, tetapi juga tidak
pelit / kikir.
[bersambung]
Selanjutnya>>
Disusun oleh: Dhamma Study Group Bogor
Kirim
Artikel ini ke Teman Anda!
|