|
Agama dan Tujuan Hidup
Umat Buddha
[sambungan]
Keempat hal tersebut adalah merupakan persyaratan (kondisi)
yang dapat menghasilkan kebahagiaan dalam kehidupan
duniawi sekarang ini, sedangkan untuk dapat mencapai
dan merealisasi kebahagiaan yang akan datang, yaitu
kebahagiaan yang dapat terlahir di alam-alam yang menyenangkan
dan kebahagiaan terbebas dari yang berkondisi, ada empat
persyaratan pula yang harus dipenuhi, yaitu sebagai
berikut:
- Saddhasampada: harus mempunyai keyakinan,
yaitu keyakinan terhadap nilai-nilai luhur. Keyakinan
ini harus berdasarkan pengertian, sehingga dengan
demikian diharapkan untuk menyelidiki, menguji dan
mempraktikkan apa yang dia yakini tersebut. Di dalam
Samyutta Nikaya V, Sang Buddha menyatakan demikian:
"Seseorang … yang memiliki pengertian, mendasarkan
keyakinannya sesuai dengan pengertian." Saddha (keyakinan)
sangat penting untuk membantu seseorang dalam melaksanakan
ajaran dari apa yang dihayatinya; juga berdasarkan
keyakinan ini, maka tekadnya akan muncul dan berkembang.
Kekuatan tekad tersebut akan mengembangkan semangat
dan usaha untuk mencapai tujuan.
- Silasampada: harus melaksanakan latihan kemoralan,
yaitu menghindari perbuatan membunuh, mencuri, asusila,
ucapan yang tidak benar, dan menghindari makanan/minuman
yang dapat menyebabkan lemahnya kesadaran (hilangnya
pengendalian diri). Sila bukan merupakan suatu peraturan
larangan, tetapi merupakan ajaran kemoralan yang bertujuan
agar umat Buddha menyadari adanya akibat baik dari
hasil pelaksanaannya, dan akibat buruk bila tidak
melaksanakannya. Dengan demikian, berarti dalam hal
ini seseorang bertanggung jawab penuh terhadap setiap
perbuatannya. Pelaksanaan sila berhubungan erat dengan
melatih perbuatan melalui ucapan dan badan jasmani.
Sila ini dapat diintisarikan menjadi 'hiri' (malu
berbuat jahat / salah) dan 'ottappa' (takut akan akibat
perbuatan jahat / salah). Bagi seseorang yang melaksanakan
sila, berarti ia telah membuat dirinya maupun orang
lain merasa aman, tentram, dan damai. Keadaan aman,
tenteram dan damai merupakan kondisi yang tepat untuk
membina, mengembangkan dan meningkatkan kemajuan serta
kesejahteraan masyarakat dalam rangka tercapainya
tujuan akhir, yaitu terealisasinya Nibbana.
- Cagasampada: murah hati, memiliki sifat kedermawanan,
kasih saying, yang dinyatakan dalam bentuk menolong
mahluk lain, tanpa ada perasaan bermusuhan atau iri
hati, dengan tujuan agar mahluk lain dapat hidup tenang,
damai, dan bahagia. Untuk mengembangkan caga dalam
batin, seseorang harus sering melatih mengembangkan
kasih saying dengan menyatakan dalam batinnya (merenungkan)
sebagai berikut: "Semoga semua mahluk berbahagia,
bebas dari penderitaan, … kebencian, … kesakitan,
… dan kesukaran. Semoga mereka dapat mempertahankan
kebahagiaan mereka sendiri."
- Panna: harus melatih mengembangkan kebijaksanaan,
yang akan membawa ke arah terhentinya dukkha (Nibbana).
Kebijaksanaan di sini artinya dapat memahami timbul
dan padamnya segala sesuatu yang berkondisi; atau
pandangan terang yang bersih dan benar terhadap segala
sesuatu yang berkondisi, yang membawa ke arah terhentinya
penderitaan. Panna muncul bukan hanya didasarkan pada
teori, tetapi yang paling penting adalah dari pengalaman
dan penghayatan ajaran Buddha. Panna berkaitan erat
dengan apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak
perlu dilakukan. Singkatnya ia mengetahui dan mengerti
tentang: masalah yang dihadapi, timbulnya penyebab
masalah itu, masalah itu dapat dipadamkan / diatasi
dan cara / metode untuk memadamkan penyebab masalah
itu.
Itulah uraian dari Vyagghapajja sutta yang ada
hubungannya dengan kesuksesan dalam kehidupan duniawi
yang berkenaan dengan tujuan hidup umat Buddha.
Sutta lain yang juga membahas tentang kesuksesan dalam
kehidupan duniawi ini, bisa kita lihat pula dalam Anguttara
Nikaya II 65, di mana Sang Buddha menyatakan beberapa
keinginan yang wajar dari manusia biasa (yang hidup
berumah tangga), yaitu:
- Semoga saya menjadi kaya, dan kekayaan itu terkumpul
dengan cara yang benar dan pantas.
- Semoga saya beserta keluarga dan kawan-kawan dapat
mencapai kedudukan social yang tinggi.
- Semoga saya selalu berhati-hati di dalam kehidupan
ini, sehingga saya dapat berusia panjang.
- Apabila kehidupan dalam dunia ini telah berakhir,
semoga saya dapat terlahirkan kembali di alam kebahagiaan
(surga).
Keempat keinginan wajar ini, merupakan tujuan hidup
manusia yang masih diliputi oleh kehidupan duniawi;
dan bagaimana caranya agar keinginan-keinginan ini dapat
dicapai, penjelasannya adalah sama dengan uraian yang
dijelaskan di dalam Vyagghapajja sutta tadi.
Jadi, jelaslah sekarang bahwa Sang Buddha di dalam
ajaran-Nya, sama sekali tidak menentang terhadap kemajuan
atau kesuksesan dalam kehidupan duniawi. Dari semua
uraian di atas tadi bisa kita ketahui bahwa Sang Buddha
juga memperhatikan kesejahteraan dalam kehidupan duniawi;
tetapi memang, Beliau tidak memandang kemajuan duniawi
sebagai sesuatu yang benar kalau hal tersebut hanya
didasarkan pada kemajuan materi semata dengan mengabaikan
dasar-dasar moral dan spiritual; sebab seperti yang
dijelaskan tadi, yaitu bahwa tujuan hidup umat Buddha
bukan hanya mencapai kebahagiaan di dalam kehidupan
duniawi (kebahagiaan yang masih berkondisi saja), tetapi
juga bisa merealisasi kebahagiaan yang tidak berkondisi,
yaitu terbebas total dari dukkha, terealisasinya Nibbana.
Maka meskipun menganjurkan kemajuan material dalam rangka
kesejahteraan dalam kehidupan duniawi, Sang Buddha juga
selalu menekankan pentingnya perkembangan watak, moral,
dan spiritual untuk menghasilkan suatu masyarakat yang
bahagia, aman, dan sejahtera secara lahir maupun batin;
dalam rangka tercapainya tujuan akhir, yaitu terbebas
dari dukkha atau terealisasinya Nibbana.
<<Sebelumnya
Disusun oleh: Dhamma Study Group Bogor
Kirim
Artikel ini ke Teman Anda!
|