|
Update
Terakhir:
|
Wednesday, September 28, 2005 Masa Pembenahan BuddhistOnline.com
Tuesday, May 24, 2005 Selamat Hari Tri Suci Waisak 2549
Tuesday, May 24, 2005 Renungan Waisak 2549 STI
Friday, May 20, 2005 Tanya Dhamma: Hubungan Deja Vu dan Kamma Masa Lampau
Sunday, May 1, 2005 Benarkah Mahabodhi Vihara Bodh Gaya Dicoret dari Daftar Cagar Budaya Dunia UNESCO?
|
|
|
|
 |
|
[an error occurred while processing this directive]
|
|
T i p i t a k a
(bagian ke-2)
URAIAN SINGKAT TIPITAKA
Berikut ini akan diuraikan secara singkat bagian-bagian
dari Kitab Suci Tipitaka Pali.
VINAYA PITAKA
Vinaya Pitaka berisi hal-hal yang berkenaan dengan peraturan-peraturan
bagi para Bhikkhu dan Bhikkhuni yang terdiri atas 3
bagian:
- Sutta Vibhanga
Kitab Sutta Vibhanga berisi peraturan-peraturan bagi
para Bhikkhu dan Bhikkhuni, terdiri dari:
- Bhikkhu Vibhanga: berisi 227 peraturan yang
mencakup 8 jenis pelanggaran, diantaranya terdapat
4 pelanggaran yang menyebabkan dikeluarkannya
seorang Bhikkhu dari Sangha dan tidak dapat menjadi
Bhikkhu lagi seumur hidup. Keempat pelanggaran
itu, adalah : berhubungan kelamin; mencuri; membunuh
atau menganjurkan orang lain bunuh diri; membanggakan
diri secara tidak benar tentang tingkat-tingkat
kesucian atau kekuatan-kekuatan batin luar biasa
yang dicapai. Untuk ketujuh jenis pelanggaran
yang lain ditetapkan hukuman dan pembersihan yang
sesuai dengan berat ringannya pelanggaran yang
bersangkutan.
- Bhikkhuni Vibhanga : berisi peraturan-peraturan
yang serupa bagi para Bhikkhuni, hanya jumlahnya
lebih banyak.
- Khandhaka
Kitab Khandhaka terbagi atas Mahavagga dan Culavagga.
- Kitab Mahavagga: berisi peraturan-peraturan
dan uraian tentang upacara pentahbisan Bhikkhu;
upacara uposatha pada saat bulan purnama dan bulan
baru dimana dibacakan Patimokha (peraturan disiplin
bagi para Bhikkhu); peraturan tentang tempat tinggal
selama musim hujan (vassa); upacara pada akhir
vassa (pavarana); peraturan-peraturan mengenai
jubah, peralatan, obat-obatan dan makanan; pemberian
jubah Kathina setiap tahun; peraturan-peraturan
bagi para Bhikkhu yang sakit; peraturan tentang
tidur; peraturan tentang bahan jubah; tata cara
melaksanakan Sanghakamma (upacara Sangha); dan
tata cara dalam hal terjadi perpecahan.
- Kitab Culavagga: berisi peraturan-peraturan
untuk menangani pelanggaran-pelanggaran; tata
cara penerimaan kembali seorang Bhikkhu ke dalam
Sangha setelah melakukan pembersihan atas pelanggarannya;
tata cara untuk menangani masalah-masalah yang
timbul; berbagai peraturan yang mengatur cara
mandi, pengenaan jubah, menggunakan tempat tinggal,
peralatan, tempat bermalam dan sebagainya; mengenai
perpecahan kelompok-kelompok Bhikkhu; kewajiban-kewajiban
guru (acariya) dan calon Bhikkhu (samanera);
pengucilan dari upacara pembacaan Patimokkha;
pentahbisan dan bimbingan bagi Bhikkhuni; kisah
mengenai Pasamuan Agung Pertama di Rajagaha; dan
kisah mengenai Pasamuan Agung Kedua di Vesali.
- Parivara
Kitab Parivara memuat ringkasan dan pengelompokan
peraturan-peraturan Vinaya, yang disusun dalam bentuk
tanya jawab untuk dipergunakan dalam pengajaran dan
ujian.
SUTTA PITAKA
Sutta Pitaka terdiri atas 5 kumpulan (nikaya)
atau buku, yaitu:
- Digha Nikaya
Merupakan buku pertama dari Sutta Pitaka yang terdiri
atas 34 Sutta panjang dan terbagi menjadi 3 vagga
(Silakkhandhagga, Mahavagga, Patikavagga).
Beberapa di antara Sutta-sutta yang terkenal adalah:
- Bramajala Sutta: "Jala para Brahma" Sang Buddha
bersabda bahwa Beliau mendapat penghormatan bukan
semata-mata karena kesusilaan, melainkan karena
kebijaksanaan yang mendalam yang beliau temukan
dan nyatakan. Beliau memberikan sebuah daftar
berisi 62 bentuk spekulasi mengenai dunia dan
pribadi dari guru-guru lain.
- Samannaphala Sutta: "Pahala yang dimiliki oleh
tiap pertapa". Kepada Ajatasattu yang berkunjung
pada Sang Buddha, Beliau menerangkan keuntungan
menjadi seorang Bhikkhu, dari tingkat terendah
sampai tingkat Arahat.
- Ambattha Sutta: Percakapan antara Sang Buddha
dengan Ambattha mengenai kasta, yang sebagian
memuat cerita tentang raja Okkaka, leluhur Sang
Buddha.
- Kutadanta Sutta: Percakapan dengan Brahmana
Kutadanta tentang ketidaksetujuan terhadap penyembelihan
binatang untuk sajian.
- Mahali Sutta: Percakapan dengan Mahali mengenai
penglihatan gaib. Yang lebih tinggi dari pada
ini adalah latihan menuju kepada pengetahuan sempurna.
- Kassapasihanada Sutta: Percakapan dengan seorang
pertapa telanjang Kassapa tentang tidak bermanfaatnya
menyiksa diri.
- Tevijja Sutta: tentang ketidakbenaran pelajaran
ketiga Veda untuk menjadi anggota kelompok dewa-dewa
Brahma.
- Mahapadana Sutta: Penjelasan Sang Buddha mengenai
6 orang Buddha yang sebelumnya dan beliau sendiri,
mengenai masa-masa mereka muncul, kasta, susunan
keluarga, jangka kehidupan, pohon bodhi, siswa-siswa
utama, jumlah pertemuan, pengikut, ayah, ibu dan
kota dengan sebuah khotbah kedua mengenai Vipassi
dari saat meninggalkan surga Tusita hingga saat
permulaan memberi pelajaran.
- Mahanidana Sutta: mengenai rantai sebab musabab
yang bergantungan dan teori-teori tentang jiwa.
- Mahaparinibbana Sutta: cerita tentang hati-hari
terakhir dan kemangkatan Sang Buddha, serta pembagian
relik-relik.
- Sakkapanha Sutta: Dewa Sakka mengunjungi Sang
Buddha, menanyakan 10 persoalan dan mempelajari
kesunyataan bahwa segala sesuatu yang timbul akan
berakhir dengan kemusnahan.
- Maha Satipatthana Sutta: Khotbah mengenai 4
macam meditasi (mengenai badan jasmani, perasaan,
pikiran dan Dhamma) disertai penjelasan mengenai
4 Kesunyataan.
- Payasi Sutta: Kumarakassapa menyadarkan Payasi
dari pandangan keliru bahwa tiada kehidupan selanjutnya
atau akibat dari perbuatan. Setelah Payasi mangkat,
Bhikkhu Gavampati menemuinya di surga dan melihat
keadaannya.
- Pitika Sutta: cerita mengenai seorang siswa
yang mengikuti guru lain, karena Sang Buddha tidak
menunjukkan kegaiban maupun menerangkan asal mula
banda-benda. Selama percakapan, Sang Buddha menerangkan
kedua hal tersebut.
- Cakkavattisihanada Sutta: cerita tentang raja
dunia dengan berbagai tingkat penyelewengan moral
dan pemulihannya serta tentang Buddha Metteyya
yang akan datang.
- Aganna Sutta: perbincangan mengenai kasta dengan
penjelasan mengenai asal mula benda-benda, asal
mula kasta-kasta dan artinya yang sesungguhnya.
- Sampasadaniya Sutta: percakapan antara Sang
Buddha dengan Sariputta yang menyatakan keyakinannya
kepada Sang Buddha dan menjelaskan ajaran Sang
Buddha. Sang Buddha berpesan untuk kerap kali
mengulangi pelajaran ini kepada para siswa.
- Lakkhana Sutta: Penjelasan mengenai 32 tanda
"Orang Besar" (Raja alam semesta atau seorang
Buddha), yang dijalin dengan syair berisi 20 bagian;
tiap bagian dimulai dengan "Disini dikatakan".
- Sigalovada Sutta: Sang Buddha menemukan Sigala
sedang memuja enam arah. Beliau menguraikan kewajiban
seorang umat dengan menjelaskan bahwa pemujaan
itu adalah menunaikan kewajiban terhadap enam
kelompok orang (orang tua, guru, sahabat dan lain-lain).
- Majjhima Nikaya
Merupakan buku kedua dari Sutta Pitaka yang memuat
khotbah-khotbah menengah. Buku ini terdiri atas tiga
bagian (pannasa); dua pannasa pertama
terdiri atas 50 sutta dan pannasa terakhir
terdiri atas 52 sutta; seluruhnya berjumlah 152 sutta.
Beberapa sutta diantaranya adalah :
- Mulapariyaya Sutta: pelajaran mengenai akar
segala benda mulai dari unsur-unsur sampai Nibbana.
- Satipatthana Sutta: sama dengan di Digha Nikaya,
tetapi tanpa ulasan mengenai 4 Kesunyataan.
- Kakacupama Sutta: "Tamsil Gergaji". Perihal
tidak marah jika dihina. Seorang Bhikkhu yang
marah seandainya anggota badannya digergaji satu
demi satu bukanlah siswa Sang Buddha.
- Alagaddupama Sutta : "Tamsil seekor ular air".
Seorang Bhikkhu dimarahi karena melakukan perbuatan
yang bertentangan dengan ajaran. Mempelajari Dhamma
secara tidak benar bagaikan manangkap seekor ular
pada ekornya.
- Cula Saccaka Sutta : diskusi umum antara Sang
Buddha dan seorang Jain Saccaka mengenai lima
khandha seseorang.
- Maha Saccaka Sutta : mengenai perenungan atas
nama dan rupa, dengan penjelasan oleh Sang Buddha
tentang ia meninggalkan keduniawian, pengendalian
nafsu dan penerangan sempurna.
- Seleyyaka Sutta : khotbah kepada para Brahmana
dari Sala mengenai sebab-sebab mengapa makhluk
ada yang memasuki surga dan ada yang menuju neraka.
- Vedalla Sutta (Maha dan Cula) : 2 khotbah dalam
bentuk komentar atas istilah-istilah kejiwaan.
Yang pertama oleh Sariputta kepada Mahakotthita
dan yang kedua oleh Bhikkhuni Dhammadinna kepada
upasaka Visakha.
- Brahmanimantanika Sutta : Sang Buddha menceritakan
kepada para Bhikkhu bagaimana Beliau pergi ke
surga Brahma untuk memberi pelajaran kepada Baka,
yakni salah satu penghuni surga, tentang ketidakbenaran
pendapat tentang kekekalan.
- Maratajjaniya Sutta: cerita tentang Mara yang
menyelusup dalam perut Moggallana. Moggallana
memerintahkan keluar dan memberikan pelajaran
dengan mengingatkannya akan suatu masa ketika
Moggallana sendiri terlahir sebagai Mara bernama
Dusi dan Mara adalah kemenakannya.
- Kandaraka Sutta: percakapan dengan Pessa dan
Kandaraka dan khotbah tentang empat jenis orang.
- Jivaka Sutta: Jivaka mengajukan pertanyaan
apakah benar Sang Buddha menyetujui pembunuhan
dan memakan daging. Sang Buddha menunjukkan dengan
contoh bahwa itu tidak benar dan bahwa seorang
bhikkhu makan daging hanya jika ia tidak melihat,
mendengar dan menduga bahwa daging itu khusus
dibuat untuknya.
- Upali Sutta: cerita tentang Upali yang diutus
oleh pemimpin Jaina Nataputta untuk berdebat dengan
Sang Buddha, tetapi akhirnya menjadi pengikut.
- Kukkuravatika Sutta: percakapan mengenai kamma
antara Sang Buddha dengan dua orang pertapa, yang
satu diantara mereka hidup seperti anjing dan
satu lagi seprti lembu.
- Abhayarajakumara Sutta: Pangeran Abhaya diutus
oleh seorang Jain Nataputta untuk membantah Sang
Buddha dengan megajukan pertanyaan berganda tentang
kutukan hebat yang diterima oleh Devadatta.
- Bahuvedaniya Sutta: mengenai penggolongan perasaan-perasaan
dan perasaan tertinggi.
- Maha Rahulovada Sutta: nasehat kepada Rahula
tentang pemusatan pikiran dengan jalan menarik
dan mengeluarkan napas serta memusatkan pikiran
kepada unsur-unsur.
- Ratthapala Sutta: cerita mengenai Ratthapala
yang kedua orang tuanya tidak menyetujui ia memasuki
Sangha dan membujuknya untuk kembali menjadi umat
biasa.
- Makhadeva Sutta: cerita mengenai Sang Buddha
dalam kehidupannya di masa lampau sebagai Raja
Makhadeva dan keturunannya sampai Raja Nimi.
- Angulimala Sutta: cerita mengenai Angulimala,
penyamun yang kemudian menjadi Bhikkhu.
- Piyajatika Sutta: nasehat Sang Buddha kepada
seorang laki-laki yang kehilangan anak dan pertengkaran
antara Raja Pasenadi dan permaisurinya mengenai
hal itu.
- Brahmayu Sutta: mengenai 32 tanda pada tubuh
Sang Buddha dan penerimaan Brahmana Brahmayu sebagai
pengikut Buddha.
- Sela Sutta: Pertapa Keniya mengundang Sang
Buddha dan para Bhikkhu untuk jamuan makan. Brahmana
Sela melihat 32 tanda dan menjadi siswa. (Ini
terdapat pula dalam Sn III 7).
- Vasettha Sutta: Khotbah yang sebagian besar
dalam bentuk syair mengenai brahmana sejati, baik
karena kelahiran maupun perbuatan (ini terdapat
pula dalam Sn IIII 9).
- Subha Sutta: mengenai soal apakah seseorang
dapat berbuat kebaikan lebih banyak sebagai kepala
keluarga atau dengan jalan meninggalkan keduniawian.
- Isigili Sutta: Sang Buddha menjelaskan nama
bukit Isigili dan menyebutnya nama-nama Pacceka
Buddha yang dahulu tinggal di sana.
- Maha Cattarisaka Sutta: penjelasan mengenai
Jalan Mulia Beruas Delapan dengan tambahan mengenai
pengetahuan yang benar dan emansipasi yang benar.
- Anapanasati Sutta: perihal cara dan jasa melatih
meditasi masuk dan keluarnya napas.
- Kayagatasati Sutta: perihal cara dan jasa meditasi
badan jasmani.
- Cula Kammavibhanga Sutta: Sang Buddha menerangkan
sifat-sifat batin dan jasmani orang yang berbeda-beda
dan keberuntungan mereka menurut kamma.
- Maha Kammavibhanga Sutta: seorang pertapa secara
keliru menuduh bahwa Sang Buddha mengatakan kamma
tidak berguna dan Sang Buddha menerangkan pandangannya
sendiri.
- Dhatuvibhanga Sutta: uraian mengenai unsur-unsur.
Khotbah ini dimasukkan dalam cerita Pukkusati,
seorang siswa yang belum pernah melihat Sang Buddha
akan tetapi mengenalinya melalui ajarannya.
- Dakkhinavibhanga Sutta: Mahapajapati menghadiahkan
satu pasang jubah kepada Sang Buddha, yang menjelaskan
berbagai jenis orang yang patut menerima pemberian
dan berbagai jenis orang yang memberi.
- Samyutta Nikaya
Merupakan buku ketiga dari Sutta Pitaka yang terdiri
atas 7.762 sutta (menurut "An analysis of the Pali
Canon" [wheel no.217/218/219/220] ada 2.889 sutta).
Buku ini dibagi menjadi lima vagga utama dan 56 bagian
yang disebut Samyutta. Beberapa Samyutta di antaranya
sebagai berikut:
- Mara: perbuatan-perbuatan bemusuhan dari Mara
terhadap Sang Buddha dan para siswaNya.
- Bhikkhuni: bujukan yang tidak berhasil dari
Mara terhadap para bhikkuni dan perbedaan pendapatnya
dengan mereka.
- Brahma: Brahma Sahampati memohon Sang Buddha
untuk membabarkan Dhamma kepada dunia.
- Sakka: Sang Buddha menguraikan sifat-sifat
Sakka, Raja para Dewa.
- Nidana Samyutta: penjelasan mengenai Paticcasamuppada
(doktrin sebab musabab yang saling bergantungan).
- Abhisamaya: dorongan untuk membasmi kekotoran
batin secara tuntas.
- Khandha Samyutta: kumpulan unsur, fisik dan
mental yang membentuk individu.
- Kilesa: kekotoran batin muncul dari enam pusat
indria dan kesadaran indria.
- Vedana: tiga jenis perasaan dan sikap yang
benar terhadap perasaan itu.
- Citta: alat indria dan obyeknya pada hakekatnya
tidak jahat, melainkan kehendak-kehendak tidak
baik yang timbul melalui kontak mereka.
- Asankhata: tidak terbentuk (Nibbana)
- Magga Samyutta: jalan beruas delapan.
- Bojjhanga: tujuh faktor Penerangan Agung.
- Satipatthana: empat dasar kesadaraan.
- Indriya: lima kemampuan
- Sammappadhana: empat macam usaha benar.
- Bala: lima kekuatan.
- Iddhipada: empat kekuatan batin.
- Anuruddha: kekuatan-kekuatan gaib yang dicapai
oleh Anuruddha melalui kesadaran.
- Jhana: empat jhana.
- Anapana: kesadaraan dari pernapasan.
- Sotapatti: gambaran tentang seorang "penakluk
arus".
- Sacca: empat kesunyataan mulia.
Disusun oleh: Dhamma
Study Group Bogor (bersambung)
Kirim
Artikel ini ke Teman Anda!
|
|
 |
|
|