[an error occurred while processing this directive] [an error occurred while processing this directive]

[an error occurred while processing this directive]
Update Terakhir:
[an error occurred while processing this directive]

 

   
[an error occurred while processing this directive]

 

T i p i t a k a
(bagian ke-3)

 

  1. Anguttara Nikaya
    Merupakan buku keempat dari Sutta Pitaka yang terdiri atas 9.577 sutta (menurut "An Analysis of the Pali Canon & Buddhism" oleh Christmas Humphreys ada 2.308 sutta) dan terbagi atas 11 nipata (bagian). Sutta-sutta di sini disusun menurut urutan bernomor untuk memudahkan pengingatan.
    • Ekaka Nipata: (yang serba satu) misalnya pikiran terpusat/tidak terpusat; usaha ketekunan Sang Buddha dan sebagainya.
    • Duka: (yang serba dua), dua jenis kamma vipaka yaitu yang membuahkan hasil dalam kehidupan sekarang maupun yang membawa kepada tumimbal lahir dan seterusnya; dua jenis dana; dua golongan Bhikkhu dan sebagainya.
    • Tika: (yang serba tiga), tiga pelanggaran melalui jasmani, ucapan dan pikiran; tiga perbuatan yang patut dipuji yaitu kedermawanan, penglepasan, dan pemeliharaan orang tua; dan sebagainya.
    • Catuka: (yang serba empat), empat jenis orang yaitu tidak bijaksana dan tidak beriman; tidak bijaksana tapi beriman; bijaksana tapi tidak beriman, bijaksana dan beriman; empat jenis kebahagiaan (empat Brahma Vihara, empat sifat yang menjaga Bhikkhu dari kekeliruan); empat cara pemusatan diri dan sebagainya.
    • Pancaka: (yang serba lima), lima ciri yang baik dari seorang siswa; lima rintangan batin; lima obyek meditasi; lima sifat buruk; lima perbuatan baik; dan sebagainya.
    • Chakka: kewajiban rangkap enam dari seorang Bhikkhu.
    • Sattaka: tujuh jenis kekayaan; tujuh jenis kemelekatan.
    • Atthaka: delapan sebab kesadaran; delapan sebab pemberian dana; delapan sebab gempa bumi.
    • Navata: sembilan perenungan; sembilan jenis manusia.
    • Dasaka: sepuluh perenungan, sepuluh jenis penyucian batin.
    • Ekadasaka: sebelas jenis kebahagian / jalan menuju nibbana; sebelas sifat-sifat baik dan buruk dari seorang pengembala dan Bhikkhu.



  2. Khuddaka Nikaya
    Merupakan buku kelima dari Sutta Pitaka yang terdiri atas kumpulan lima belas kitab, yaitu:
    • Khuddaka Patha: bacaan dari bagian-bagian singkat; berisi empat teks dan lima sutta, yaitu:
      • Saranattaya: pengulangan tiga kali berlindung pada Buddha,Dhamma dan Sangha.
      • Dasasikkhapada: sepuluh sila yang harus dipatuhi oleh para samanera. Lima pertama harus dipatuhi oleh umat biasa.
      • Dvattimsakara: daftar 32 unsur pokok badan jasmani.
      • Kumarapanha: sepuluh macam tanya jawab untuk para samanera.
      • Mangala Sutta: sebuah syair untuk menjawab pertanyaan mengenai apakah kebahagian tertinggi itu.
      • Ratana Sutta: sebuah syair mengenai Tiratana dalam hubungannya untuk menerangkan kepada para makhluk halus.
      • Tirokudda Sutta: syair mengenai pelimpahan jasa untuk arwah sanak keluarga yang sudah meninggal, yang terlahir di alam yang menyedihkan.
      • Nidhikanda Sutta: syair tentang pengumpulan harta sejati.
      • Metta Sutta: syair tentang cinta kasih universal.
    • Dhammapada: kata-kata dari Dhamma; kumpulan 423 bait yang dibagi dalam 26 vagga.
    • Udana: kumpulan dari 80 udana yang terbagi menjadi 8 vagga. Kitab ini memuat khotbah Sang Buddha yang disabdakan pada berbagai kesempatan.
    • Bodhi Vagga: menggambarkan kejadian-kejadian tertentu setelah pencapaian Penerangan Sempurna oleh Sang Buddha, termasuk khotbah termasyur kepada Bahiya yang menekankan kehidupan pada saat sekarang.
    • Mucalinda: vagga ini dinamai menurut nama raja Naga yang melindungi Sang Buddha dengan kepalanya.
    • Nanda: Sang Buddha meyakinkan saudara tirinya, Nanda, tentang kehampaan hidup duniawi. Juga memuat nasehat-nasehat kepada Sangha.
    • Meghiya : tanpa memeprdulikan nasehat Sang Buddha, Meghiya mengasingkan diri ke sebuah hutan mangga untuk berlatih meditasi, tetapi batinnya segera diserang pikiran-pikiran tidak baik. Setelah kembali kepada Sang Buddha, ia diberitahukan bahwa lima faktor harus ditumbuhkan oleh orang yang batinnya belum berkembang yaitu persahabatan yang baik, moralitas, percakapan yang menguntungkan, keteguhan hati, dan pengetahuan. Juga memuat cerita-cerita Sundari dan serangan terhadap Sariputta oleh seorang Yakkha.
    • Sonathera: memuat kisah kunjungan Raja Pasenadi kepada Sang Buddha, khotbah kepada Suppabuddha yang menderita penyakit kusta, penjelasan mengenai delapan ciri Sasana dan tahun pertama dari kehidupan Sona sebagai bhikkhu.
    • Jaccandha: memuat gambaran tentang Sang Buddha akan mencapai parinibbana, percakapan Raja Pasenadi, dan kisah raja yang menyuruh orang-orang yang buta sejak lahir (jaccandha) untuk masing-masing meraba dan menggambarkan seekor gajah - untuk membantu menjelaskan realisasi sebagian dari kebenaran.
    • Cula: memuat peristiwa-peristiwa kecil, terutama mengenai para Bhikkhu secara perorangan.
    • Pataligama: memuat definisi termasyur dari Nibbãna sebagai yang tidak dilahirkan, tidak menjelma, tidak dibuat, tidak dibentuk, santapan Sang Buddha yang terakhir dan nasehatnya kepada Ananda mengenai Cunda, dan kunjungan ke Pataligama tempat Sang Buddha mengungkapkan lima manfaat menempuh kehidupan suci dan lima kerugian tidak melakukan hal itu.
    • Itivuttaka : kumpulan 112 sutta pendek dalam 4 nipata yang masing-masing disertai syair. Syair-syair ini biasanya dimulai dengan kata "Iti Vuccati" (demikian dikatakan). Karya ini terdiri atas ajaran-ajaran etika dari Sang Buddha
    • Sutta Nipata : kumpulan ini terdiri atas lima vagga yang memuat 71 sutta. Sutta-sutta itu diantaranya sbb.:
      • Uraga Sutta: Bhikkhu yang menyingkirkan semua nafsu (buruk) manusia, kemarahan, kebencian, kerakusan, dll.; dan terbebas dari khayalan dan ketakutan, diperbandingkan dengan seekor ular yang berganti kulit.
      • Dhaniya Sutta: ketenangan duniawi diperbandingkan dengan ketenangan Sang Buddha.
      • Kasibharadvaja Sutta: pekerjaan yang berguna secara sosial atau duniawi diperbandingkan dengan usaha-usaha Sang Buddha yang tidak kurang pentingnya untuk mencapai Nibbãna.
      • Cunda Sutta: Sang Buddha menguraikan tentang 4 jenis samana, seorang Buddha, seorang Arahat, seorang Bhikkhu yang sungguh-sungguh dan bertanggung jawab, dan seorang Bhikkhu penipu.
      • Parabhava Sutta: sebab-sebab kejatuhan seseorang dalam bidang moral dan batin diuraikan.
      • Vasala atau Aggika Bharadvaja Sutta: untuk menyangkal tuduhan orang buangan, Sang Buddha menjelaskan bahwa karena perbuatanlah, bukan garis keturunan, orang menjadi orang buangan atau brahmana.
      • Metta Sutta: unsur-unsur pokok latihan cinta kasih terhadap semua mahluk.
      • Hemawata Sutta: dua orang jakkha ragu-ragu tentang sifat-sifat Buddha yang dinyatakan olehnya. Sang Buddha merumuskan uraiannya dengan menjelaskan jalan pembebasan dari kematian.
      • Alavaka Sutta : Sang Buddha menjawab pertanyaan-pertanyaan Yakkha Alavaka mengenai kebahagiaan, pengertian, jalan ke Nibbana.
      • Vijaya Sutta: suatu analisa tubuh dalam bagian-bagian pokoknya (yang tidak bersih) dan sebutan Bhikkhu yang mencapai Nibbãna karena memahami sifat sejati badan jasmani.
      • Muni Sutta: konsepsi idealitas seorang muni atau orang bijaksana yang menjalani kehidupan menyepi yang bebas dari nafsu-nafsu.
      • Ratana Sutta: pujian kepada Tiratana (Buddha, Dhamma, dan Sangha).
      • Mahamangala Sutta: 38 macam petunjuk-petunjuk etika dalam menempuh kehidupan suci, mulai dengan petunjuk-petunjuk etika dasar dan mencapai puncaknya pada penyelaman Nibbãna.
      • Suciloma Sutta: untuk menanggapi sikap mengancam dari Yakkha Suciloma, Sang Buddha menyatakan bahwa nafsu, kebencian, keraguan, dan sebagainya bermula dengan badan jasmani, keinginan, dan konsep aku.
      • Rahula Sutta: Sang Buddha menasehati putra-Nya yang telah ditahbiskan, Rahula, untuk menghormati orang bijaksana, bergaul dan berhubungan sesuai dengan prinsip-prinsip seorang pertapa.
      • Vangisa Sutta: Sang Buddha memberi kepastian kepada Vangisa bahwa gurunya yang telah wafat, Nigrodhakappa, telah mencapai Nibbãna.
      • Dhammika Sutta: Sang Buddha menjelaskan kepada Dhammika kewajiban masing-masing dari seorang Bhikkhu dan umat biasa; umat biasa diharapkan untuk mentaati Pancasila dan memperingati hari-hari Uposatha.
      • Pabbajja Sutta : Raja Bimbisara dari Magadha menggoda Sang Buddha dengan kekayaan meterinya dan menanyakan garis keturunannya. Sang Buddha menunjukkan kenyataan tentang kelahiran di antara kaum Sakya dari Kosala dan Ia telah mengatasi khayal dari kenikmatan-kenikmatan indria.
      • Padhana Sutta: uraian yang jelas sekali mengenai godaan Mara menjelang pencapaian Penerangan Sempurna oleh Sang Buddha.
      • Subhasita Sutta: bahasa para Bhikkhu hendaknya baik dalam penuturannya, menyenangkan, tepat, dan benar.
      • Salla Sutta: kehidupan itu berlangsung singkat dan semua kehidupan terancam oleh kematian, tetapi orang bijaksana yang memahami sifat kehidupan tidak merasa takut.
      • Vasetta Sutta: dua orang pemuda, Bharadvaja dan Vasettha, membahas masalah martabat brahmana karena kelahiran, tetapi Vasettha mengatakan bahwa seseorang menjadi brahmana hanya karena perbuatan. Sang Buddha akhirnya menegaskan pandangan Vasettha sebagai pendapat yang benar.
      • Kokaliya Sutta: Kokaliya secara keliru menganggap keinginan-keinginan jahat berasal dari Sariputta dan Moggallana dan akhirnya menimbulkan penderitaan, karena kematian dan tumimbal lahir di salah satu alam neraka. Sang Buddha kemudian menyebutkan satu persatu neraka-neraka yang berbeda dan menggambarkan hukuman atas perbuatan mengumpat dan menfitnah.
      • Nalaka Sutta: ramalan Pertapa Asita mengenai Buddha Gotama yang akan datang. Putra adik perempuannya, Nalaka, memiliki kebijaksanaan tertinggi yang dibentangkan kepadanya oleh Sang Buddha.
      • Dvayatanupassana Sutta: dukkha timbul dari substansi, ketidaktahuan, panca khandha, keinginan, kemelekatan, usaha, makanan, dan sebagainya.
      • Magandiya Sutta: kembali Sang Buddha menekankan kepada Magandiya, seorang yang yakin akan kesucian melalui filsafat, bahwa kesucian hanya dapat terjadi karena kedamaian batin.
      • Purabheda Sutta: kelakuan dan ciri-ciri seorang bijaksana sejati yaitu kebebasan dari keserakahan, kemarahan, keinginan, nafsu, dan kemelekatan dan senatiasa tenang, tenggang ras, dan bermental seimbang.
      • Culaviyuha Sutta: uraian mengenai mazhab-mazhab filsafat yang berbeda semuanya saling bertentangan tanpa menyadari bahwa kebenaran itu satu.
      • Mahaviyuha Sutta: para ahli filsafat hanya memuji diri mereka sendiri dan mengecam orang lain, tetapi seorang brahmana sejati tetap tidak tertarik kepada pencapaian intelektual yang meragukan itu dan karenanya tenang dan damai.
      • Attadanda Sutta: orang bijaksana hendaknya tulus, tidak berbohong, sederhana, bebas dari ketamakan dan fitnah, bersemangat dan tanpa keinginan untuk memperoleh nama dan kemasyuran.
    • Vimanavatthu: cerita-cerita mengenai rumah di surga yang merupakan 85 syair dalam tujuh vagga mengenai pahala dan tumimbal lahir di alam-alam surga.
    • Petavatthu: terdiri atas 51 syair dalam 4 vagga mengenai tumimbal lahir sebagai setan pengembara karena perbuatan-perbuatan tercela.
    • Theragatha: syair tentang para Bhikkhu senior (thera), kumpulan syair-syair, yang disusun oleh para Thera semasa hidup Sang Buddha. Beberapa syair berisi riwayat hidup para Thera, sedang lainnya berisi pujian yang diucapkan para Thera atas pembebasan yang telah dicapai.
    • Therigatha: syair tentang para Bhikkhuni senior (theri), buku yang serupa dengan Theragatha yang merupakan kumpulan dari ucapan para Theri semasa hidup Sang Buddha.
    • Jataka: cerita kelahiran merupakan kumpulan yang memuat 547 kisah yang dianggap sebagai cerita tentang kehidupan-kehidupan lampau Sang Buddha. Nidana Katha atau cerita tentang garis silsilah adalah ulasan pengantar yang menguraikan kehidupan Sang Buddha sampai pembukaan Vihãra Jetavana di Savatthi dan juga kehidupan-kehidupan lampaunya di bawah Buddha-Buddha terdahulu.
    • Niddesa: terbagi dalam Mahaniddesa, sebuah ulasan mengenai Atthakavagga dari Sutta Nipata, dan Culaniddesa, sebuah ulasan mengenai Parayanavagga dan Khaggavisana Sutta yang juga dari Sutta Nipata. Niddesa ini sendiri diulas dalam Saddhammapajjotika dari Upasena dan di situ dihubungkan dengan Sariputta.
    • Patisambhidamagga: suatu analisa Abhidhamma tentang konsep dan latihan yang sudah disebutkan dalam Vinaya Pitaka dan Digha, Samyutta dan Anguttara Nikaya. Ini dibagi dalam 3 bagian; Maha vagga, Yuganaddha-vagga dan Panna-vagga; tiap-tiap vagga memuat sepuluh topik (katha).
    • Apadana: Kisah dalam syair tentang kehidupan lampau dari 550 orang Bhikkhu dan 40 orang Bhikkhuni, yang semuanya diceritakan hidup pada masa Sang Buddha.
    • Buddhavamsa: Riwayat Para Buddha yang di dalamnya Sang Buddha menuturkan cerita tentang kebulatan hatinya untuk menjadi Buddha, dan mengungkapkan riwayat 24 Buddha yang mendahuluinya.
    • Cariyapitaka: 35 kisah dari Jataka dalam syair yang melukiskan 7 dari 10 Kesempurnaan (dasa parami) yaitu kemurahan hati, moralitas, penglepasan, kebijaksanaan, daya usaha, kesabaran, kebenaran, keteguhan hati, cinta kasih, dan keseimbangan batin.

 

Disusun oleh: Dhamma Study Group Bogor

<<Sebelumnya

 

 

Kirim Artikel ini ke Teman Anda!

 

[an error occurred while processing this directive]