|
Update Terakhir:
|
Wednesday, September 28, 2005 Masa Pembenahan BuddhistOnline.com
Tuesday, May 24, 2005 Selamat Hari Tri Suci Waisak 2549
Tuesday, May 24, 2005 Renungan Waisak 2549 STI
Friday, May 20, 2005 Tanya Dhamma: Hubungan Deja Vu dan Kamma Masa Lampau
Sunday, May 1, 2005 Benarkah Mahabodhi Vihara Bodh Gaya Dicoret dari Daftar Cagar Budaya Dunia UNESCO?
|
|
|
|
 |
|
[an error occurred while processing this directive]
|
|
Mengapa Banyak Agama?
Tanya:
- Pertanyaan terbesar yang sampai sekarang belum terjawab
bagi saya adalah mengapa di dunia ini terdapat banyak
agama / kepercayaan?
- Bagaimanakah pandangan Agama Buddha terhadap mukjizat-mukjizat
yang dilakukan oleh seorang tokoh tertentu dari agama
lain, khususnya mengenai 'mukjizat'nya menyembuhkan
orang sakit?
- Kadang, saya bertanya-tanya seandainya terdapat
suatu alam di mana alam tersebut merupakan tempat
dimana orang-orang suci yang telah meraih Nibbana
berkumpul, maka apakah Buddha, Yesus dan Muhammad
itu --- dengan asumsi bahwa Yesus dan Muhammad juga
telah meraih Nibbãna --- berkumpul menjadi
satu dan sudah saling mengenal sebelumnya?
- Mengapa ketiga tokoh tersebut tidak pernah menyinggung
keberadaan satu sama lain?
Terima kasih.
Surja Muliadi, Jakarta Utara
Jawaban dari Samaggi
Phala (Y.M. Uttamo
Thera):
Namo Buddhaya,
- Karena adanya perbedaan dari berbagai latar belakang
budaya, maka timbulnya agama di berbagai belahan dunia
yang akhirnya banyak juga memiliki perbedaan. Perbedaan
ini sering berkisar pada tradisi dan pendekatan atas
permasalahan kehidupan yaitu misteri kematian. Sesungguhnya,
banyak orang menyebutkan bahwa karena ketakutan pada
kematianlah, maka satu agama dibangun. Oleh karena
itu, bila diperhatikan, agama banyak membicarakan
kehidupan setelah kematian, dan juga tuntunan perilaku
kebajikan sebagai bekal di kehidupan yang berikutnya.
- Mukjizat bisa saja ditemukan dalam kehidupan ini,
bahkan, kalau kita membaca riwayat Sang Buddha pun,
cukup banyak mukjizat yang Beliau pernah lakukan.
Salah satu mukjizat Sang Buddha yang luar biasa yang
tidak pernah diketemukan di manapun juga sampai saat
ini adalah ketika Sang Buddha menunjukkan kesaktian
kembarNya, yaitu setengah badan mengeluarkan air,
dan setengah yang lainnya mengeluarkan api. Jadi,
mukjizat sesungguhnya bukanlah keanehan, karena segala
sesuatu memiliki hukum sebab dan akibat, adanya ini
muncullah itu, hilang ini maka hilang pula itu.
- Istilah "orang suci berkumpul setelah mencapai
Nibbãna" adalah merupakan satu penyederhanaan
yang tidak bisa diterima dalam konsep Buddhis. Hal
ini karena dalam Buddha Dhamma disebutkan bahwa konsep
Nibbãna adalah tak terceritakan, dan bukan
merupakan tempat yang bisa untuk berkumpul. Kemudian,
kondisi orang yang telah mencapai Nibbãna pun
juga tak terceritakan, karena itu, tentu saja, tidak
bisa menggunakan istilah "berkumpul", karena
istilah itu berarti mencoba untuk menceritakan hal
yang tak terceritakan. Kondisi tak terceritakan ini
bisa diibaratkan dengan perbedaan warna merah antara
lilin, dupa, dan bunga yang biasa ada di altar Sang
Buddha. Sesungguhnya kita tidak akan pernah mampu
menceritakan perbedaan warna itu dengan baik dan benar,
kecuali mengalaminya sendiri. Apalagi dengan kondisi
Nibbãna. Oleh karena itu, semoga bisa mengerti
bahwa istilah "berkumpul" tadi memang sangat
tidak tepat.
Mengenai apakah mereka telah saling mengenal sebelumnya,
hal ini tidak pernah diceritakan dalam kitab-kitab
suci manapun juga. Oleh karena itu, tidak ada referensi
untuk menjawab pertanyaan ini. Hanya saja, dengan
teori kamma, maka satu mahluk bisa terlahir di salah
satu alam adalah karena kammanya. Jadi, kalau mereka
semua lahir di dunia yang sama ini walau dengan waktu
yang berlainan, ada kemungkinan memiliki kamma yang
berdekatan.
- Hal ini tentu hanya Merekalah yang mempunyai otoritas
jawaban, bukan kita-kita yang hidup pada jaman sekarang.
Karena, tentu hanya Mereka sendiri yang mengetahui
dan memiliki alasan sehingga tidak saling menceritakan
antara satu nabi dengan yang lainnya. Hanya saja,
sebagai informasi, Nabi Mohammad pernah menyebut Yesus
sebagai Nabi Isa. Ini pun, tentu karena Beliau memiliki
alasan tersendiri.
Semoga bermanfaat.
Semoga semua mahluk berbahagia.
Kirim
Artikel ini ke Teman Anda!
|
|
 |
|
|