|
Mengatasi Rasa Takut
Tanya:
Namo Buddhaya,
Saya orangnya penakut. Kalau di kos saya tidak berani
sendirian karena katanya ada hantunya. Saya sudah baca
paritta dan mendengarkan kaset liamkeng dan paritta
tapi tetap saja merasa takut. Bagaimana agar saya dapat
menghilangkan perasaan takut tersebut. Thanks.
Fransista, Jakarta
Jawaban dari Samaggi
Phala (Y.M. Uttamo Thera) dan Dhamma
Study Group Bogor (Sdr. Selamat Rodjali):
Namo Buddhaya,
Perasaan takut bisa muncul karena
pikiran kita tidak terkonsentrasi pada kondisi hidup
saat ini. Kita hanya berpikiran tentang masa lampau
dan yang akan datang. Kita mengetahui, mungkin dulu
pernah ada orang yang melihat hantu, atau kita berpikir,
nanti akan melihat hantu. Padahal, kenyataannya SAAT
INI, kita tidak melihat maupun kontak dengan mahluk
tersebut. Oleh karena itu, untuk mengatasi rasa takut,
cobalah untuk selalu menyadari bahwa kehidupan adalah
saat ini, bukan masa lampau maupun yang akan datang.
Cara melatih kesadaran ini bisa dengan menggunakan obyek
pembacaan atau mendengarkan paritta tersebut. Jadi,
begitu rasa takut muncul, konsentrasikan pikiran pada
paritta atau liam keng. Kalau masih takut, berarti
pikiran tidak terkonsentrasi, maka konsentrasi harus
ditingkatkan, dengan demikian, ketakutan lambat laun
akan bisa dikendalikan. Selain itu, ketakutan juga bisa
diatasi dengan selalu mengucap kalimat: "Semoga
semua mahluk berbahagia". Dengan kalimat ini, kita
bertekad, bahwa kita adalah mahluk, semoga kita bahagia;
demikian pula dengan para mahluk halus, semoga mereka
bahagia. Dengan pengucapan kalimat ini, kita tidak lagi
menganggap mahluk halus sebagai sesuatu yang menakutkan,
melainkan menjadi obyek untuk pemancaran cinta kasih
kita. Inilah salah satu cara untuk mengatasi ketakutan.
Sdr. Fransista, untuk menghilangkan rasa takut, harus
dilakukan secara bertahap dengan berlatih batin. Namun,
pertama kali harus ditegaskan ke dalam batin bahwa tiap
mahluk tidak ada yang perlu ditakuti. Hantu juga mahluk,
dan mahluk itu menderita. Justru kita harus kasihan
terhadap mahluk tersebut. Membaca paritta, belum tentu
mengubah keadaan. Bacalah paritta dan diterjemahkan,
dan upayakan paritta yang artinya baik dan benar. Contoh,
Karaniya Metta Sutta, Mangala Sutta, Ratana Sutta, dan
sebagainya. Semua dibaca juga terjemahannya. Bacalah
dengan penuh konsentrasi dan pengertian yang benar.
Andaikan benar hantu itu ada, dia kita ajak untuk mendengarkan
Dhamma sehingga tidak mengganggu. Ok? Selamat mencobanya.
Semoga bermanfaat.
Semoga semua mahluk berbahagia.
Kirim
Artikel ini ke Teman Anda!
|