|
Pengembangan Tehnologi dan Kemiskinan
Tanya:
Tehnologi yang dikembangkan oleh NASA merupakan
tehnologi yang berguna bagi pengetahuan segenap umat
manusia. Namun tehnologi yang dikembangkan itu
memakan biaya yang tidak sedikit. Setahu saya, tujuan dari eksperimen
itu tidak lain hanya ingin mengetahui seberapa jauh
manusia bisa menjajaki angkasa luar dengan tehnologinya.
Padahal dalam Agama Buddha dengan kemampuan pikiran,
manusia bisa melanglang buana angkasa luar dengan enjoynya.
Alangkah baiknya dana yang besar yang digunakan untuk
membiayai kegiatan itu digunakan untuk membantu orang-orang
yang miskin yang ada di dunia dan juga untuk membangun
tempat meditasi yang bertujuan untuk mengembangkan batin
manusia. Toh, pekerjaan yang dilakukan mentok-mentoknya
hanya sebatas itu saja. Andaikan manusia bisa mencapai
planet-planet lain paling hanya sebatas galaksi yang
kita miliki, dan untuk mencapai galaksi yang lain dibutuhkan
juga waktu berjuta-juta tahun cahaya. Apakah dengan
umur manusia yang hanya paling banter 80 tahun itu bisa
melanglang galaksi yang jumlahnya jutaan bahkan milyaran
galaksi. Bagaimana tanggapan Agama Buddha mengenai hal ini? Mohon jawabannya.
Rusidi Sukatam Jaya, Jakarta
Jawaban dari Samaggi
Phala (Y.M. Uttamo Thera):
Namo Buddhaya,
Memang merupakan salah satu pendapat
yang menarik bahwa daripada mempergunakan biaya besar
untuk satu proyek luar angkasa, maka lebih baik membantu
mereka yang kurang mampu atau mendirikan pusat-pusat
latihan meditasi. Hanya saja, di dunia ini, tidak semua
orang memiliki pendapat yang sama, hal ini disebabkan
karena sudut pandang dan kerangka acuan yang tidak sama.
Ada pihak yang lebih menekankan pada perkembangan dunia
ilmu pengetahuan, sedangkan ada pihak lain yang mungkin
lebih berpihak pada kaum tak mampu.
Namun, kita tentunya juga menyadari,
bahwa kita tidak mungkin dapat menyamakan semua pendapat
di dunia ini. Ibarat sepasang sepatu, tidak mungkin
kita memiliki sepatu yang hanya kanan saja atau kiri
saja, semua tentu ada kanan dan kiri. Demikian pula
dengan beda pandangan. Kalau kita memang tidak sepakat
dengan pandangan pihak lain yang menekankan pengembangan
iptek, maka kita dapat menggalang orang-orang lain yang
sepaham dengan kita untuk bergerak secara nyata mengatasi
kemiskinan.
Jadi, dengan demikian, kita bukan
hanya merasa kurang sesuai dan mengkritik pandangan
orang lain, namun kita hendaknya juga memiliki semangat
untuk mewujudkan gagasan kita sendiri sebagai bentuk
kritikan positif terhadap pihak lain tersebut. Sesungguhnya
kemampuan hidup bersama dalam perbedaan adalah sikap
hidup yang membahagiakan
Semoga semua mahluk berbahagia dan tenteram.
Semoga bermanfaat.
Kirim
Artikel ini ke Teman Anda!
|