|
Update Terakhir:
|
Wednesday, September 28, 2005 Masa Pembenahan BuddhistOnline.com
Tuesday, May 24, 2005 Selamat Hari Tri Suci Waisak 2549
Tuesday, May 24, 2005 Renungan Waisak 2549 STI
Friday, May 20, 2005 Tanya Dhamma: Hubungan Deja Vu dan Kamma Masa Lampau
Sunday, May 1, 2005 Benarkah Mahabodhi Vihara Bodh Gaya Dicoret dari Daftar Cagar Budaya Dunia UNESCO?
|
|
|
![[]](images/space.gif) |
|
[an error occurred while processing this directive]
|
|
Cara Menghilangkan
Keakuan
Tanya:
Salam hormat. Soalan saya adalah seperti berikut:
- Apa yang dimaksud dengan "tiada wujud"
melainkan "hari ini dan sekarang".
- Sudi berikan penjelasan yang rinci dan mudah untuk
menghilangkan apa itu "aku atau sifat2 keakuan".
- Sudi jelaskan apa yang dimaksud dengan "mengenal
diri".
Terima kasih.
Azfar Arif, Singapura
Jawaban dari Samaggi
Phala (Y.M. Uttamo Thera):
Namo Buddhaya,
- Untuk menjelaskan hal ini,
bisa dicontohkan bahwa kita yang satu jam lalu, sesungguhnya
hanya tinggal kenangan, karena kita sudah tidak dapat
kembali pada waktu itu. Sebaliknya, kita yang satu
jam mendatang, masih berupa khayalan,karena belum
tentu kita masih hidup pada waktu itu. Namun, sesungguhnya,
kita hanya ada dan hidup pada saat ini saja - yang
kalau diperluas menjadi hari ini atau sekarang- padahal
hanya SAAT INI saja, bukan pada saat yang lalu ataupun
yang akan datang. Satuan hitungan "SAAT INI" merupakan
satuan hitungan yang lebih cepat daripada menit, maupun
detik. Sangat cepat, dan oleh karena itu, yang disebut
"wujud" kita, sebenarnya hanya bertahan pada saat
ini saja, bukan pada saat sebelumnya maupun berikutnya,
oleh karena itulah, dalam pengertian ini muncul istilah
"tiada wujud".
- Keakuan sering diartikan sebagai
kegelapan batin yang dimiliki seseorang sehingga ia
berkeinginan untuk selalu memuaskan ketamakan dan
kebenciannya dengan berbagai cara. Kegelapan batin
yang merupakan sumber keakuan ini timbul karena ia
tidak menyadari bahwa kehidupan ini tidaklah kekal.
Ia akhirnya merasa jengkel dan sedih (kebencian timbul)
kalau keinginannya tidak terpenuhi; atau ia merasa
bahagia dan bangga (ketamakan timbul) kalau keinginannya
dapat terpenuhi. Padahal, kalau dia menyadari bahwa
kehidupan yang sesungguhnya hanyalah SAAT INI, maka
apa artinya suka dan duka tersebut? Karena semua adalah
milik masa lampau. Dengan orang menyadari kehidupan
hanyalah "saat ini" maka ia akan terus mengembangkan
hal positif melalui ucapan, perbuatan dan pikirannya
semaksimal mungkin, karena ada kemungkinan kematian
datang pada saat berikutnya. Dengan demikian batinnya
menjadi seimbang, tidak lagi mudah terombang ambing
oleh suka dan duka. Untuk dapat mengembangkan kesadaran
akan "hidup saat ini", maka satu-satunya jalan adalah
dengan banyak melatih meditasi. Pada saat bermeditasi,
dengan usaha selalu memegang obyek, misalnya saja,
memperhatikan masuk dan keluarnya pernafasan, maka
seseorang dilatih memiliki kebiasaan berpikir "hidup
saat ini", karena selama meditasi, pikirannya terpusat
pada kesadaran "saat ini saya sedang apa?"; "saat
ini saya sedang duduk memperhatikan masuk dan keluarnya
nafas." Dan itulah yang dia kerjakan sebagai awal
dalam latihan meditasi sehingga tercapailah kesadaran
pada setiap perilaku, ucapan dan bahkan proses berpikirnya
sebagai tujuan akhirnya. Dan bila tahap ini tercapai,
tiada lagi keakuan yang masih dimilikinya.
- Pengenalan diri diperlukan
sebagai awal seseorang melatih batinnya dalam Dhamma.
Disebutkan dalam Dhamma bahwa mahluk, dalam hal ini
manusia, hanyalah terdiri dari badan dan batin saja.
Sedangkan batin manusia itupun masih dibagi lagi menjadi
perasaan, pikiran, ingatan dan kesadaran. Serta kelima
bagian ini (badan, perasaan, pikiran, ingatan dan
kesadaran) masih bisa dibagi menjadi bagian yang lebih
kecil lagi. Sehingga setelah melalui begitu banyak
pembagian, akhirnya bisa disimpulkan bahwa sesungguhnya
yang disebut manusia itu hanyalah sebagai paduan unsur
yang segalanya tidak kekal, semuanya hanya proses
dari saat ke saat yang berikutnya, dengan demikian,
bukan hanya wujud yang tidak nyata (seperti jawaban
pertanyaan no. 1), ternyata "diri" ini pun juga tidak
nyata. Dengan menyadari tentang hakekat "diri" yang
merupakan proses ini, maka seseorang hendaknya terpacu
untuk lebih mengembangkan batin dan berjuang mengatasi
keakuan (seperti yang telah diterangkan pada jawaban
pertanyaan no.2).
Semoga semua mahluk berbahagia dan tenteram.
Semoga bermanfaat.
Kirim
Artikel ini ke Teman Anda!
|
|
![[]](images/space.gif) |
| |