BuddhistOnline.com
»  
MENGENAI KAMI FAQ KONTAK
Index | Ajaran-Dasar | Berita | Dhammadesana | Tanya-Dhamma | Forum | Galeri | Vihara | Dokumen | Sejarah | Link
Dhamma Study Group Bogor
 
[]

Update Terakhir:
Wednesday, September 28, 2005
Masa Pembenahan BuddhistOnline.com

Tuesday, May 24, 2005
Selamat Hari Tri Suci Waisak 2549

Tuesday, May 24, 2005
Renungan Waisak 2549 STI

Friday, May 20, 2005
Tanya Dhamma: Hubungan Deja Vu dan Kamma Masa Lampau

Sunday, May 1, 2005
Benarkah Mahabodhi Vihara Bodh Gaya Dicoret dari Daftar Cagar Budaya Dunia UNESCO?

 

[]   
[]
[an error occurred while processing this directive]

 

Cara Menghilangkan Keakuan

Tanya:
Salam hormat. Soalan saya adalah seperti berikut:

  1. Apa yang dimaksud dengan "tiada wujud" melainkan "hari ini dan sekarang".
  2. Sudi berikan penjelasan yang rinci dan mudah untuk menghilangkan apa itu "aku atau sifat2 keakuan".
  3. Sudi jelaskan apa yang dimaksud dengan "mengenal diri".

Terima kasih.

 

Azfar Arif, Singapura

 

Jawaban dari Samaggi Phala (Y.M. Uttamo Thera):
Namo Buddhaya,

  1. Untuk menjelaskan hal ini, bisa dicontohkan bahwa kita yang satu jam lalu, sesungguhnya hanya tinggal kenangan, karena kita sudah tidak dapat kembali pada waktu itu. Sebaliknya, kita yang satu jam mendatang, masih berupa khayalan,karena belum tentu kita masih hidup pada waktu itu. Namun, sesungguhnya, kita hanya ada dan hidup pada saat ini saja - yang kalau diperluas menjadi hari ini atau sekarang- padahal hanya SAAT INI saja, bukan pada saat yang lalu ataupun yang akan datang. Satuan hitungan "SAAT INI" merupakan satuan hitungan yang lebih cepat daripada menit, maupun detik. Sangat cepat, dan oleh karena itu, yang disebut "wujud" kita, sebenarnya hanya bertahan pada saat ini saja, bukan pada saat sebelumnya maupun berikutnya, oleh karena itulah, dalam pengertian ini muncul istilah "tiada wujud".



  2. Keakuan sering diartikan sebagai kegelapan batin yang dimiliki seseorang sehingga ia berkeinginan untuk selalu memuaskan ketamakan dan kebenciannya dengan berbagai cara. Kegelapan batin yang merupakan sumber keakuan ini timbul karena ia tidak menyadari bahwa kehidupan ini tidaklah kekal. Ia akhirnya merasa jengkel dan sedih (kebencian timbul) kalau keinginannya tidak terpenuhi; atau ia merasa bahagia dan bangga (ketamakan timbul) kalau keinginannya dapat terpenuhi. Padahal, kalau dia menyadari bahwa kehidupan yang sesungguhnya hanyalah SAAT INI, maka apa artinya suka dan duka tersebut? Karena semua adalah milik masa lampau. Dengan orang menyadari kehidupan hanyalah "saat ini" maka ia akan terus mengembangkan hal positif melalui ucapan, perbuatan dan pikirannya semaksimal mungkin, karena ada kemungkinan kematian datang pada saat berikutnya. Dengan demikian batinnya menjadi seimbang, tidak lagi mudah terombang ambing oleh suka dan duka. Untuk dapat mengembangkan kesadaran akan "hidup saat ini", maka satu-satunya jalan adalah dengan banyak melatih meditasi. Pada saat bermeditasi, dengan usaha selalu memegang obyek, misalnya saja, memperhatikan masuk dan keluarnya pernafasan, maka seseorang dilatih memiliki kebiasaan berpikir "hidup saat ini", karena selama meditasi, pikirannya terpusat pada kesadaran "saat ini saya sedang apa?"; "saat ini saya sedang duduk memperhatikan masuk dan keluarnya nafas." Dan itulah yang dia kerjakan sebagai awal dalam latihan meditasi sehingga tercapailah kesadaran pada setiap perilaku, ucapan dan bahkan proses berpikirnya sebagai tujuan akhirnya. Dan bila tahap ini tercapai, tiada lagi keakuan yang masih dimilikinya.



  3. Pengenalan diri diperlukan sebagai awal seseorang melatih batinnya dalam Dhamma. Disebutkan dalam Dhamma bahwa mahluk, dalam hal ini manusia, hanyalah terdiri dari badan dan batin saja. Sedangkan batin manusia itupun masih dibagi lagi menjadi perasaan, pikiran, ingatan dan kesadaran. Serta kelima bagian ini (badan, perasaan, pikiran, ingatan dan kesadaran) masih bisa dibagi menjadi bagian yang lebih kecil lagi. Sehingga setelah melalui begitu banyak pembagian, akhirnya bisa disimpulkan bahwa sesungguhnya yang disebut manusia itu hanyalah sebagai paduan unsur yang segalanya tidak kekal, semuanya hanya proses dari saat ke saat yang berikutnya, dengan demikian, bukan hanya wujud yang tidak nyata (seperti jawaban pertanyaan no. 1), ternyata "diri" ini pun juga tidak nyata. Dengan menyadari tentang hakekat "diri" yang merupakan proses ini, maka seseorang hendaknya terpacu untuk lebih mengembangkan batin dan berjuang mengatasi keakuan (seperti yang telah diterangkan pada jawaban pertanyaan no.2).

Semoga semua mahluk berbahagia dan tenteram.

Semoga bermanfaat.

 

 

Kirim Artikel ini ke Teman Anda!

 

[]
[]
Copyright © 2000-2003, BuddhistOnline.com. Hak cipta dilindungi undang-undang. Tidak diperkenankan mereproduksi seluruh maupun sebagian isi halaman ini tanpa ijin tertulis dari BuddhistOnline.com dan mencantumkan sumber dari: BuddhistOnline.com (http://www.buddhistonline.com).
Hosting powered by HostingAnda.com. Designed by mediacyber.com.
[]