|
Mangala Sutta dan
Nepotisme
Tanya:
Dalam Mangala Sutta, di antara berkah utama
itu adalah menyokong anak-istri, membantu sanak keluarga.
Tidakkah itu termasuk nepotisme?
Yang lainnya, saya juga mohon penjelasan lebih lanjut
mengenai "membahas Dhamma pada saat yang tepat
dan tinggal di tempat yang sesuai".
Iskandar A.Wanagiri, Tangerang
Jawaban dari Samaggi
Phala (Y.M. Uttamo Thera):
Namo Buddhaya,
Hendaknya kita jangan terlalu
menggeneralisasi segala sesuatu. Misalnya saja, nepotisme
pasti kurang sesuai...kan hal ini tidak tidak selalu
benar. Dalam hal-hal tertentu, kita sebaiknya tetap
nepotisme. Misalnya saja, ayah dan ibu akan bepergian,
apakah kita menunjuk orang yang belum dikenal untuk
menjaga rumah, demi menghilangkan kesan nepotisme...?
Tentu saja tidak. Secara logika, kita pasti akan menunjuk
anak atau sanak keluarga kita untuk menjaga rumah tersebut.
Dan, hal ini jelas nepotisme yang bermakna positif.
Hal yang keliru dalam nepotisme adalah kalau kerapatan
keluarga ini dipergunakan untuk hal-hal yang negatif
sehingga merugikan kepentingan orang banyak. Inilah
yang sebaiknya dihindari. Sebagai seorang yang bertanggung
jawab, maka sudah sepantasnya orang mendukung dan memberikan
bantuan untuk keluarga terdekat (anak dan istri) juga
kepada sanak keluarga yang lain, karena memang inilah
yang merupakan tanggung jawab kita dalam hidup ini.
Diskusi Dhamma memang baik untuk
sering dilaksanakan, namun janganlah melupakan waktu
yang sesuai. Kesesuaian ini memang sangat relatif, tapi
paling tidak, sebagai gambaran, janganlah diskusi Dhamma
itu mengganggu salah satu pihak. Misalnya saja, diskusi
Dhamma sampai larut malam, padahal keesokan harinya
teman diskusi tersebut akan ujian, maka jelas, ini bukan
waktu yang tepat untuknya. Namun, diskusi Dhamma di
vihãra seusai kebaktian, di kala orang tidak
terlalu memikirkan pekerjaan rutin, maka bisa dikatakan,
inilah waktu yang sesuai.
Mengenai tempat tinggal, yaitu
tempat tinggal yang mendukung untuk seseorang mengenal,
mempelajari, dan melaksanakan Buddha Dhamma sehingga
memiliki kemungkinan untuk mencapai kesucian (Nibbãna).
Semoga semua mahluk berbahagia.
Semoga bermanfaat.
Kirim
Artikel ini ke Teman Anda!
|