|
Menghadapi Orangtua
Pemarah
Tanya:
Namo Buddhaya,
Seandainya kita mempunyai orang tua yg stres, sering
marah-marah, dan memaki seperti tak punya perasaan,
apa yang harus kita perbuat dan apakah kalau kita melawan
termasuk kamma buruk?
Lusiana Tjandi, North Adams, Amerika Serikat
Jawaban dari Samaggi
Phala (Y.M. Uttamo
Thera) dan Dhamma
Study Group Bogor (Sdr. Selamat Rodjali):
Namo Buddhaya,
Memiliki orangtua yang suka marah
dan memarahi kita, adalah merupakan BUAH kamma buruk
yang kita miliki. Namun, kalau kita melawan mereka sehingga
menambah kemarahan mereka, maka kita berarti menanam
BIBIT kamma buruk di ladang yang subur. Oleh karena
itu, untuk menghadapi masalah ini, sebaiknya, jika orangtua
marah-marah dan memaki, kita bisa mendiamkannya saja,
atau kalau memungkinkan, kita menghindarinya. Selain
itu, sebaiknya, apabila kondisinya memungkinkan, kita
juga berusaha memberikan keterangan Dhamma yang berhubungan
dengan perbaikan sikap agar orangtua bisa menghindari
kata-kata makian dalam kehidupan sehari-harinya. Namun,
kalau kondisi untuk memperbaiki keadaan ini tidak ada,
cobalah cari pihak lain yang orangtua mau mendengarkan
nasehatnya, lalu, mintalah kepada pihak lain tersebut
untuk menasehati orangtua kita agar tidak mengembangkan
watak buruknya itu. Dengan demikian, diharapkan, kita
bisa tetap bergaul dan berpikiran positif pada orangtua
sendiri, dan juga, orangtua akan menjadi lebih baik
perilakunya sehingga tidak menanam kamma buruk terus
menerus lewat ucapannya.
Sdri. Lusiana Tjandi yang baik, kata-kata menyenangkan
ataupun tidak menyenangkan dalam hakekat sesungguhnya
adalah semata-mata objek pendengaran. Objek pendengaran
itu sendiri sebenarnya netral, karena tiap orang yang
mengalaminya akan memberikan response yang berbeda.
Response tersebutlah yang menyebabkan objek itu disebut
menyenangkan ataupun tidak. Oleh karena itu, pandanglah
dalam batin bahwa kata-kata / suara makian itu adalah
semata objek pendengaran yang selalu muncul dan padam
dan Saudari mengalaminya karena saat itu tepat kondisinya
kamma buruk lampau berbuah, dikondisikan oleh makian
tersebut. Janganlah membuat kamma buruk baru dengan
melawan apalagi menyakiti orang tua Saudari. Tunjukkanlah
kebesaran batin Saudari disertai dengan tindak tanduk
yang positif, dan secara perlahan tapi pasti, maka contoh
baik yang positif dari tindakan batin, jasmani maupun
ucapan Saudari akan menyadarkan dan meredakan tingkat-tingkat
makian secara bertahap. Semoga Saudari selalu tabah
bertahan di dalam gejolak berbuahnya kamma buruk dengan
response yang positif.
Semoga bermanfaat.
Semoga semua mahluk berbahagia.
Kirim
Artikel ini ke Teman Anda!
|