BuddhistOnline.com
»  
MENGENAI KAMI FAQ KONTAK
Index | Ajaran-Dasar | Berita | Dhammadesana | Tanya-Dhamma | Forum | Galeri | Vihara | Dokumen | Sejarah | Link
Dhamma Study Group Bogor
 
[]

Update Terakhir:
Wednesday, September 28, 2005
Masa Pembenahan BuddhistOnline.com

Tuesday, May 24, 2005
Selamat Hari Tri Suci Waisak 2549

Tuesday, May 24, 2005
Renungan Waisak 2549 STI

Friday, May 20, 2005
Tanya Dhamma: Hubungan Deja Vu dan Kamma Masa Lampau

Sunday, May 1, 2005
Benarkah Mahabodhi Vihara Bodh Gaya Dicoret dari Daftar Cagar Budaya Dunia UNESCO?

 

[]    
[]
[an error occurred while processing this directive]

 

Hamil di Usia Beresiko Tinggi dan Aborsi

Tanya:
Tindakan apa yang harus dilakukan untuk seorang perempuan berumur 46 tahun yang karena keteledorannya sekarang hamil lagi? Dokter menyarankan untuk di aborsi karena dikhawatirkan bayi yang lahir bisa ada kelainan.

Pannasagara M., Denpasar

 

Jawaban dari Samaggi Phala (Y.M. Uttamo Thera):
Namo Buddhaya,

Dalam usia yang sudah cukup tinggi apabila hamil memang memiliki resiko yang tinggi pula, baik untuk ibunya maupun bayinya. Oleh karena itu, ada beberapa dasar pemikiran yang bisa dijadikan pertimbangan.

Pertama, kehamilan sesungguhnya adalah merupakan kondisi kesesuaian kamma satu mahluk untuk ikut dalam keluarga kita. Apabila kita menyadari ini, dan kemudian kita berusaha merawatnya, dengan segala resikonya, maka silahkan kandungan itu dilanjutkan dengan perawatan dokter yang sebaik yang kita mampu kerjakan. Jika, setelah lahir ternyata bayi itu memang kurang sempurna, maka kita hendaknya menyadari bahwa itulah resiko buah kamma yang harus kita tanggung. Mungkin kita memiliki 'hutang' kamma lampau pada bayi itu, sehingga sejak lahir bayi itu selalu membawa masalah dalam keluarga. Namun, jangan lupa, ada kemungkinan juga bahwa bayi itu ternyata lahir normal dan sehat, maka tentunya, kita juga akan memetik buah kamma baik karena kelahirannya.

Kedua, kalau memang kita cenderung menuruti nasehat dokter yaitu aborsi, maka berarti kita tentu saja tidak bisa menghindari kamma buruk. Aborsi dengan segala macam alasan, sesungguhnya adalah merupakan kamma buruk. Hanya saja, kalau memang terpaksa dilakukan, maka buah karma buruk itu tidak separah apabila perbuatan itu dilakukan karena kebencian. Misalnya saja, seorang ibu yang memberikan obat cacing perut kepada anaknya adalah melakukan kamma buruk yang lebih ringan dibandingkan dengan ibu itu melakukan pembunuhan pada cacing tanah yang masuk ke dalam rumahnya. Perbedaan buah kamma kedua perbuatan membunuh cacing ini terletak pada niatnya. Jadi, niat yang mendasari perbuatan itu sangatlah penting. Oleh karena itu, kalau memang pilihan kedua ini yang diambil, maka siaplah untuk menghadapi segala resiko yang akan timbul di belakang hari, termasuk adanya tekanan batin dan rasa bersalah yang mendalam. Oleh karena itu, perbanyaklah melakukan kebajikan, serta mengurangi kamma buruk yang lainnya, sehingga dengan demikian, batin akan sedikit merasa lega, tidak terlalu dibebani dengan perasaan bersalah.

Semoga semua mahluk berbahagia.

Semoga bermanfaat.

 

 

Kirim Artikel ini ke Teman Anda!

 

[]
[]
Copyright © 2000-2003, BuddhistOnline.com. Hak cipta dilindungi undang-undang. Tidak diperkenankan mereproduksi seluruh maupun sebagian isi halaman ini tanpa ijin tertulis dari BuddhistOnline.com dan mencantumkan sumber dari: BuddhistOnline.com (http://www.buddhistonline.com).
Hosting powered by HostingAnda.com. Designed by mediacyber.com.
[]