|
Hamil di Usia Beresiko
Tinggi dan Aborsi
Tanya:
Tindakan apa yang harus dilakukan untuk seorang
perempuan berumur 46 tahun yang karena keteledorannya sekarang
hamil lagi? Dokter menyarankan untuk di aborsi karena
dikhawatirkan bayi yang lahir bisa ada kelainan.
Pannasagara M., Denpasar
Jawaban dari Samaggi
Phala (Y.M. Uttamo Thera):
Namo Buddhaya,
Dalam usia yang sudah cukup tinggi
apabila hamil memang memiliki resiko yang tinggi pula,
baik untuk ibunya maupun bayinya. Oleh karena itu, ada
beberapa dasar pemikiran yang bisa dijadikan pertimbangan.
Pertama, kehamilan sesungguhnya
adalah merupakan kondisi kesesuaian kamma satu mahluk
untuk ikut dalam keluarga kita. Apabila kita menyadari
ini, dan kemudian kita berusaha merawatnya, dengan segala
resikonya, maka silahkan kandungan itu dilanjutkan dengan
perawatan dokter yang sebaik yang kita mampu kerjakan.
Jika, setelah lahir ternyata bayi itu memang kurang
sempurna, maka kita hendaknya menyadari bahwa itulah
resiko buah kamma yang harus kita tanggung. Mungkin
kita memiliki 'hutang' kamma lampau pada bayi itu, sehingga
sejak lahir bayi itu selalu membawa masalah dalam keluarga.
Namun, jangan lupa, ada kemungkinan juga bahwa bayi
itu ternyata lahir normal dan sehat, maka tentunya,
kita juga akan memetik buah kamma baik karena kelahirannya.
Kedua, kalau memang kita cenderung
menuruti nasehat dokter yaitu aborsi, maka berarti kita
tentu saja tidak bisa menghindari kamma buruk. Aborsi
dengan segala macam alasan, sesungguhnya adalah merupakan
kamma buruk. Hanya saja, kalau memang terpaksa dilakukan,
maka buah karma buruk itu tidak separah apabila perbuatan
itu dilakukan karena kebencian. Misalnya saja, seorang
ibu yang memberikan obat cacing perut kepada anaknya
adalah melakukan kamma buruk yang lebih ringan dibandingkan
dengan ibu itu melakukan pembunuhan pada cacing tanah
yang masuk ke dalam rumahnya. Perbedaan buah kamma kedua
perbuatan membunuh cacing ini terletak pada niatnya.
Jadi, niat yang mendasari perbuatan itu sangatlah penting.
Oleh karena itu, kalau memang pilihan kedua ini yang
diambil, maka siaplah untuk menghadapi segala resiko
yang akan timbul di belakang hari, termasuk adanya tekanan
batin dan rasa bersalah yang mendalam. Oleh karena itu,
perbanyaklah melakukan kebajikan, serta mengurangi kamma
buruk yang lainnya, sehingga dengan demikian, batin
akan sedikit merasa lega, tidak terlalu dibebani dengan
perasaan bersalah.
Semoga semua mahluk berbahagia.
Semoga bermanfaat.
Kirim
Artikel ini ke Teman Anda!
|