Kamma dan Permohonan Maaf
Tanya: Permohonan maaf si A kepada si B yang dilakukan
dengan sadar, dan kemudian si B juga memaafkan si A
dengan tulus. Apakah hal itu dapat mengeliminir kamma
buruk yang sebelumnya telah diperbuat si A? Bagaimana
pula kalau permohonan maaf si A dilakukan hanya dalam
hatinya?
Surja Muliadi, Jakarta Utara
Jawaban dari Samaggi
Phala (Y.M. Uttamo
Thera) dan Dhamma
Study Group Bogor (Sdr. Selamat Rodjali):
Namo Buddhaya,
Kebiasaan melakukan permohonan
maaf adalah merupakan kebiasaan yang baik. Namun, dalam
Dhamma, segala perbuatan yang telah dilakukan tidak
dapat dibatalkan buah kammanya. Akan tetapi, apabila
seseorang telah melakukan kamma buruk dan kemudian meminta
maaf, maka sesungguhnya, pada saat meminta maaf, dia
sudah melakukan kamma baik yang tentunya pada saatnya
nanti akan berbuah dalam bentuk kebahagiaan. Sedangkan
orang yang memaafkan, juga telah menanam kamma baik.
Adapun kalau permintaan maaf
itu hanya dilakukan dalam hati, maka, sesungguhnya,
dia hanya menyesali perbuatan yang telah dilakukan,
dan mungkin kurang ada tekad untuk tidak mengulangi
kembali perbuatan itu di masa depan. Jadi, tampaknya
masih kurang kuat dorongan untuk memperbaiki sikap.
Berbeda bila permohonan maaf itu disampaikan langsung,
maka, paling tidak, orang itu akan merasa malu untuk
mengulang perbuatan buruknya. Jadi, lebih baik, permohonan
maaf bukan hanya dalam hati, tetapi disampaikan secara
langsung, karena manfaatnya bisa untuk diri sendiri
maupun orang yang telah disalahi tersebut.
Sdr. Surja yang baik, perbuatan baik yang dilakukan
dengan tulus niscaya akan menghasilkan buah yang lebih
luhur, sikap batin dalam respon terhadap hasil akan
lebih luhur dan menyenangkan. Permohonan maaf bisa juga
dilakukan melalui batin, karena tindakan seseorang dikelompokkan
ke dalam 3 jenis, yaitu melalui ucapan, tindakan, dan
pikiran.
Semoga bermanfaat.
Semoga semua mahluk berbahagia.
Kirim
Artikel ini ke Teman Anda!
|