Eksistensi Setelah
Mencapai Nibbãna
Tanya:
Saya mau bertanya, jika kita sudah mencapai Nibbăna
apakah berarti kita tidak terlahir kembali? Jika demikian,
apakah eksistensi suatu mahluk yang mencapai Nibbăna
langsung hancur atau ego sebagai pribadi yang lenyap
dan melebur ke dalam kekosongan? Atau bagaimana?
Antonius, Medan
Jawaban dari Samaggi
Phala (Y.M. Uttamo
Thera) dan Dhamma
Study Group Bogor (Sdr. Selamat Rodjali):
Namo Buddhaya,
Keadaan setelah meninggal untuk
orang yang telah mencapai Nibbăna, sering disebut sebagai
"tak terceritakan" karena memang kondisi itu
tidak terbayangkan. Pernah diibaratkan sebagai seekor
ikan yang tidak akan bisa membayangkan daratan apabila
mendapatkan cerita dari seekor kura-kura. Oleh karena
itu, Sang Buddha pernah ditanya, apakah kondisi itu
ada? Apakah kondisi itu tidak ada? Apakah kondisi itu
antara ada dan tidak? dan seterusnya. Namun, oleh Sang
Buddha pertanyaan ini tidak dijawab, karena tidak akan
pernah bisa terbayangkan. Namun, orang yang telah mencapai
Nibbăna, semuanya akan mengerti kondisi ini, walau tetap,
bahasa manusia tidak akan pernah bisa mewakili kondisi
tersebut.
Sdr. Antonius yang baik, merealisasi Nibbăna, artinya
batin terbebas dari kekotoran batin tertentu untuk tingkat
kesucian tertentu. Tingkat kesucian di dalam paham Buddhisme
ada empat, yaitu Sotapana, Sakadagami, Anagami, dan
Arahat. Untuk Sotapana, Sakadagami, dan Anagami masih
tumimbal lahir lagi, sedangkan untuk Arahat tidak lagi.
Masalah ego, baik umat awam maupun mahluk suci dalam
hakekat sesungguhnya tidak ada ego / aku / jiwa / pribadi.
Istilah ego / aku / jiwa / pribadi tersebut ada di dalam
kesepakatan sehari-hari untuk berkomunikasi, mendefinisikan,
menamakan, menyebut, dan sebagainya. Artinya ego / aku
/ jiwa / pribadi tersebut ada sebatas konsep (pannatti),
namun di dalam hakekat yang sesungguhnya (paramattha)
tidak ada. Sang Buddha telah menyebutkan sebelumnya
sebagai Sabbe Dhamma Anatta, artinya semua Dhamma
(yang berkondisi maupun tak berkondisi) adalah tanpa
atta. Ajaran inilah yang membedakan dari semua
ajaran lain, dan ajaran inilah yang paling sulit ditembus
oleh batin seseorang. Penembusan ajaran ini tidak mungkin
muncul secara instan maupun dipaksakan, namun hanya
secara bertahap dimulai dari aspek tertentu di dalam
kehidupan yang berbeda bagi tiap orang.
Semoga bermanfaat.
Semoga semua mahluk berbahagia.
Kirim
Artikel ini ke Teman Anda!
|