Latar Belakang Gelar
Thera dan Mahathera
Tanya:
Bagaimana sejarah / latar belakang munculnya gelar
Thera dan Mahathera untuk Bhikkhu Sangha Theravada Indonesia?
Zendy, Denpasar
Jawaban dari Samaggi
Phala (Y.M. Uttamo
Thera) dan Dhamma
Study Group Bogor (Sdr. Selamat Rodjali):
Namo Buddhaya,
Sangha Theravada Indonesia sebagai
penerus tradisi Theravada, sesungguhnya bukan memunculkan
sendiri istilah Thera dan Mahathera. Namun, kedua istilah
ini memang sudah disepakati sejak waktu yang lama. Apalagi
istilah "thera" terdapat juga dalam Bojjhangga
Paritta (Paritta Suci, hal. 94), bait yang ketiga, kalau
diterjemahkan menjadi: "Suatu ketika Sang Dhammaraja
sendiri sakit demam, Yang Ariya Cunda THERA diminta
mengulangi sutta ini dengan khitmad."
Jadi, untuk mengetahui penggunaan
istilah "thera" untuk Bhikkhu yang sudah sepuluh
tahun usia kebhikkhuannya dan istilah "maha thera"
untuk para Bhikkhu yang sudah dua puluh tahun usia kebhikkhuannya,
hendaknya merujuk pada beberapa konsili yang diadakan
ratusan tahun yang lalu di berbagai negara Buddhis.
Yang jelas, saat ini, istilah "mahathera"
juga dipakai di Thailand, misalnya saja "mahathera
samagama", yaitu persatuan para sesepuh di Thailand.
Sdr. Zendy yang baik, Gelar Thera dan Mahathera merupakan
gelar yang diberikan orang setelah banyak tahun Buddha
Gotama parinibbana. Thera untuk para Bhikkhu yang lebih
dari 10 tahun vassa, dan Mahathera untuk para Bhikkhu
yang lebih dari 20 tahun vassa. Pada jaman Buddha Gotama,
tidak ada istilah Mahathera, yang ada adalah Thera,
yaitu sesepuh (literal) dan biasa digunakan untuk menyebut
siswa yang telah suci (merealisasi minimum Sotapana).
Jadi saat ini memang terjadi pergeseran arti Thera,
dari sebutan untuk para sesepuh menjadi satu gelar semacam
masa 'karir' kebhikkhuan tanpa melihat lagi kualitas
batin Bhikkhu tersebut.
Semoga bermanfaat.
Semoga semua mahluk berbahagia.
Kirim
Artikel ini ke Teman Anda!
|