Aborsi dan Perasaan
Bersalah
Tanya:
Teman saya pernah melakukan aborsi. Saat ini ia
dilanda perasaan bersalah. Tindakan apakah yang harus
dilakukan untuk mengatasi hal ini? Mengenai 'anak' yang
diaborsi, apakah yang harus dibuat untuk 'anak' itu?
Candy, Biak
Jawaban dari Samaggi
Phala (Y.M. Uttamo
Thera):
Namo Buddhaya,
Melakukan aborsi memang merupakan
kamma buruk. Hanya saja, semakin terpaksa dilakukan,
buah kamma buruk yang akan dipetiknya tidak sebesar
kalau dia melakukan aborsi demi memuaskan kesenangannya
untuk hidup bersuka ria tanpa bertanggung jawab. Apabila
aborsi sudah dilakukan, maka orang hendaknya merenungkan
bahwa kamma buruk yang sudah dilakukan, hendaknya menjadi
kamma buruk yang terakhir yang dilakukannya. Artinya,
di masa depan, dengan berbagai peralatan kesehatan yang
tersedia, hendaknya orang berusaha mencegah kehamilan
yang tidak dikehendaki. Dengan demikian, tindakan aborsi
tidak lagi diulangi.
Sedangkan untuk 'anak' yang sudah
diaborsi, orangtua bisa melakukan pelimpahan jasa. Artinya,
orangtua berbuat baik atas nama 'anak' yang sudah diaborsi.
Hal ini bisa diucapkan sebagai: "Semoga dengan
kebajikan yang dilakukan pada hari ini akan memberikan
kebahagiaan sesuai dengan kondisi semua mahluk yang
pernah berhubungan kamma dengan saya". Lakukanlah
hal ini sesering mungkin. Dengan demikian, kalau 'anak'
itu bisa menerima jasa kebajikan yang dikirimkan, dia
akan mendapatkan manfaatnya. Namun, bisa tidak, maka
orangtuapun juga sudah menanam kamma baik secara rutin
yang tentunya buah kebahagiaannya akan dipetik pada saatnya nanti.
Semoga bermanfaat.
Semoga semua mahluk berbahagia.
Kirim
Artikel ini ke Teman Anda!
|