Nibbăna dan Kesadaran
Tanya:
Dalam Upanisa Sutta, disebutkan bahwa yang menunjang
nama-rupa adalah kesadaran. Apakah benar seseorang yang
telah mencapai Nibbăna sudah tidak memiliki kesadaran
lagi (sehingga tak ada nama-rupa)? Kalau ya, mengapa
Pancasila Buddhis 'melarang' minum minuman keras yang
dapat melemahkan kesadaran?
Surja Muliadi, Jakarta Utara
Jawaban dari Samaggi
Phala (Y.M. Uttamo
Thera) dan Dhamma
Study Group Bogor (Sdr. Selamat Rodjali):
Namo Buddhaya,
Seseorang yang telah mencapai
kesucian (Nibbăna) justru adalah orang yang telah mengembangkan
kesadarannya secara sempurna. Dalam batinnya, karena
kesadarannya penuh, tidak ada lagi ketamakan, kebencian,
dan kegelapan batin. Batinnya menjadi bersih dari noda
batin.
Sedangkan dalam Pancasila Buddhis
berisikan untuk "tidak minum dan makan barang-barang
yang dapat melemahkan kesadaran", karena dengan
lemahnya kesadaran seseorang, maka ada kecenderungan
keempat sila lainnya akan dilanggar. Oleh karena itu,
di masa sekarang, mudah sekali kita jumpai, kerusuhan
yang dilakukan oleh mereka yang sedang mabuk. Inilah
hasil yang bisa dilihat apabila orang tidak melaksanakan
salah satu dari Pancasila Buddhis, menghindari mabuk-mabukkan.
Sdr. Surja yang baik, seseorang yang sudah merealisasi
Nibbăna, tetap memiliki kesadaran. Contohnya Buddha
Gotama masih memiliki kesadaran. Kesadaran erat kaitannya
dengan jasmani / fisik. Fisik mahluk hidup dikondisikan
oleh empat jenis penyebab, yaitu perbuatan (kamma),
kesadaran (citta), makanan / nutrisi lewat mulut
atau lewat manapun (ahara), suhu / kelembaban
lingkungan (utu).
Semoga bermanfaat.
Semoga semua mahluk berbahagia.
Kirim
Artikel ini ke Teman Anda!
|