|
Update Terakhir:
|
Wednesday, September 28, 2005 Masa Pembenahan BuddhistOnline.com
Tuesday, May 24, 2005 Selamat Hari Tri Suci Waisak 2549
Tuesday, May 24, 2005 Renungan Waisak 2549 STI
Friday, May 20, 2005 Tanya Dhamma: Hubungan Deja Vu dan Kamma Masa Lampau
Sunday, May 1, 2005 Benarkah Mahabodhi Vihara Bodh Gaya Dicoret dari Daftar Cagar Budaya Dunia UNESCO?
|
|
|
 |
|
[an error occurred while processing this directive]
|
|
Menemukan Kebenaran Hakiki
Tanya:
Salam hormat,
Dapat kiranya menerangkan apakah arti dari kebenaran
hakiki? Kebanyakan manusia di alam ini masing-masing
mengklaim paham yang dianut adalah benar, walaupun hanya
berdasarkan dari tekstual. Terima kasih.
Azfar Arif, Singapore
Jawaban dari Samaggi
Phala (Y.M. Uttamo
Thera) dan Dhamma
Study Group Bogor (Sdr. Selamat Rodjali):
Namo Buddhaya,
Kebingungan untuk menentukan kebenaran sejati ini sudah
ada sejak jaman Sang Buddha. Oleh karena itu, dalam
Kalama Sutta (Anguttara Nikaya I, 191) diterangkan bahwa
Suku Kalama bertanya kepada Sang Buddha:
"......Mereka ini juga menerangkan dan membahas dengan
panjang lebar ajaran mereka sendiri, dan mencaci maki,
menghina, merendahkan dan mencela habis-habisan ajaran
orang lain. Kami yang mendengar merasa ragu-ragu dan
bingung. Siapa diantara mereka yang berbicara benar
dan siapa yang berdusta."
Menanggapi hal ini, Sang Buddha menjawab:
"Benar, warga suku Kalama, sudah sewajarnyalah kamu
ragu-ragu, sudah sewajarnyalah kamu bingung. Dalam hal
yang meragukan memang akan menimbulkan kebingungan.
Oleh karena itu, warga Suku Kalama, janganlah percaya
begitu saja berita yang disampaikan kepadamu, atau oleh
karena sesuatu yang sudah merupakan tradisi, atau sesuatu
yang didesas-desuskan. Janganlah percaya begitu saja
apa yang tertulis di dalam kitab-kitab suci; juga apa
yang dikatakan sesuai dengan logika atau kesimpulan
belaka; juga apa yang katanya telah direnungkan dengan
seksama; juga apa yang kelihatannya cocok dengan pandanganmu;
atau karena ingin menghormat seorang pertapa yang menjadi
gurumu. Tetapi, warga suku Kalama, kalau setelah diselidiki
sendiri, kamu mengetahui, "Hal ini tidak berguna,
hal ini tercela, hal ini tidak dibenarkan oleh para
Bijaksana, hal ini kalau terus dilakukan aka mengakibatkan
kerugian dan penderitaan," maka sudah selayaknya
kamu menolak hal-hal tersebut."
Dengan demikian, menyimak sebagian sutta di atas bisa
disimpulkan bahwa kebenaran adalah merupakan hasil proses
pembuktian manfaat suatu ajaran untuk mewujudkan kebahagiaan
dalam diri sendiri maupun lingkungan.
The Ultimate Reality (kebenaran hakiki) of
the mundane phenomenas are mental phenomena and phisical
phenomena which are unstable, unsatisfactory and unsubstantial.
They rise and fall successively every moment. Their
characteristics are beyond concept and valid for everyone,
everywhere and everytime.
Semoga bermanfaat.
Semoga semua mahluk berbahagia.
Kirim
Artikel ini ke Teman Anda!
|
|
 |
|
|