|
Agama Buddha dan
'Mahluk Halus'
Tanya:
Apakah dalam Agama Buddha percaya adanya 'mahluk
halus' yang bisa merasuki kedalam tubuh manusia? Dan
apakah benar ada orang yang bisa berkomunikasi dengan
para dewa? Ayah saya pernah bermimpi bertemu dengan
Sang Buddha Sakyamuni, apakah hal itu dapat dipercaya?
Ari Sardjono, Kansas City, Missouri, Amerika Serikat
Jawaban dari Samaggi
Phala (Y.M. Uttamo
Thera) dan Dhamma
Study Group Bogor (Sdr. Selamat Rodjali):
Namo Buddhaya,
'Mahluk halus' yang bergentayangan, sebenarnya dalam
istilah Buddhis dikenal sebagai alam peta. Memang mereka
bisa mempengaruhi manusia sehingga orang berbicara dan
bertindak sesuai dengan pengaruh mereka. Kondisi ini
sering disebut sebagai kesurupan. Selain mahluk peta,
di sekitar kita juga ada mahluk dari alam yang lebih
bahagia yaitu alam dewa. Untuk orang-orang tertentu,
mereka bisa berkomunikasi dengan alam ini. Namun, kadang,
orang juga sering salah mengerti bahwa komunikasi dengan
mahluk tak tampak, pasti dengan alam dewa, padahal mungkin
dengan alam peta atau alam asura. Oleh karena itu, dalam
Dhamma tidak dianjurkan orang untuk menyediakan dirinya
sebagai sarana untuk kesurupan atau berkomunikasi dengan
mahluk peta maupun dewa.
Sedangkan untuk mimpi ketemu dengan Sang Buddha Sakyamuni
tentunya adalah hasil kemelekatan pikiran atau kesan-kesan
terhadap Sang Buddha. Hal ini karena Sang Buddha sudah
tidak terlahirkan kembali, sehingga otomatis tidak akan
pernah memberikan mimpi maupun masuk ke tubuh orang
tertentu.
Sdr. Ari yang baik, Buddha Dhamma mengenal 'mahluk
halus' yang hidup di sekitar kita. Mereka bisa mempengaruhi
manusia yang lemah (orang umum sering menyebutnya kemasukan
'roh halus'). Orang tertentu juga bisa berkomunikasi
dengan para 'mahluk halus', termasuk komunikasi dengan
para dewa.
Mimpi bertemu Sang Buddha bisa saja terjadi, namun
perlu disadari bahwa Sang Buddha Sakyamuni sudah lama
parinibbana. Mimpi bisa terjadi karena 4 kemungkinan
penyebab, yaitu: kesan yang kuat akan sesuatu yang telah
lewat, hasrat yang kuat akan sesuatu yang belum terjadi,
kondisi unsur-unsur internal dan eksternal yang tidak
seimbang, atau bisa juga terjadi karena pengaruh intervensi
mahluk lain.
Semoga bermanfaat.
Semoga semua mahluk berbahagia.
Kirim
Artikel ini ke Teman Anda!
|