|
Makan Daging Dukung
Penjagalan?
Tanya:
Apakah dengan memakan daging itu kita secara tidak
langsung ikut mendukung mata pencaharian yang tidak sesuai
dengan Dhamma seperti penjagalan, peternakan, dan nelayan?
Goenawan Harianto, Jombang
Jawaban dari Samaggi
Phala (Y.M. Uttamo Thera) dan Dhamma
Study Group Bogor (Sdr. Selamat Rodjali):
Namo Buddhaya,
Selama Anda makan daging dari
hasil pembelian bangkai di pasar, bukan karena pesanan
Anda, maka sesungguhnya Anda tidak termasuk mendukung
mata pencahariaan yang salah tersebut. Hal ini karena
jumlah penduduk dunia selalu bertambah setiap saat,
sehingga setiap saat juga selalu bertambah orang yang
memakan daging. Dengan berkurangnya satu orang tidak
makan daging, bukan berarti mata pencaharian yang tidak
sesuai Dhamma itu akan berhenti. Buktinya, di Indonesia
dengan penduduk yang 90% tidak makan daging babi, daging
babi masih dengan mudah dapat diketemukan di pasar manapun
juga.
Sdr. Goenawan yang baik, istilah dukung-mendukung seperti dukung mendukung partai
saja ya. Makan daging tidak seperti itu memandangnya.
Bila ada daging yang sudah teronggok dan dijual, kita
boleh untuk membelinya kalau kita memang makan daging.
Tapi bila kita MEMINTA untuk disediakan daging, maka
itulah yang menyebabkan terjadinya pembunuhan-pembunuhan.
Bila memandang dari sisi adanya mahluk yang mati, maka
pertanian sayur mayur juga mengandung unsur matinya
mahluk karena cacing dicangkul, hama disemprot, dan
sebagainya. Adanya kematian mahluk dalam proses di atas
tidak ada hubungannya dengan dukung-mendukung pembunuhan.
Cobalah telaah pikiran orang-orang itu direfleksikan
ke dalam pikiranmu, apakah saat kamu beli daging ada
pikiran mendukung pembunuhan? Saya yakin kamu tidak
sampai muncul pikiran buruk seperti itu lho.
Semoga semua mahluk berbahagia.
Semoga bermanfaat.
Kirim
Artikel ini ke Teman Anda!
|