|
Membalas Budi Almarhum
Ortu, Bagaimana?
Tanya:
Namo Buddhaya,
Bagaimana seharusnya seorang Buddhis memperingati sanak
keluarganya yang telah meninggal? Bagaimana saya bisa
membalas budi ibu yang telah meninggal, karena saya
merasa belum cukup berbakti dan membalas jasanya selama
hidupnya?
Edy Huang, Pekanbaru.
Jawaban dari Samaggi
Phala (Y.M. Uttamo Thera) dan Silakumaro
Tonny Coason:
Namo Buddhaya,
Tugas seorang umat Buddha telah
diuraikan dengan jelas dalam Sigalovada Sutta. Sutta
ini salah satunya menerangkan tugas anak kepada orangtua
ketika mereka masih hidup dan juga setelah meninggal
dunia. Ketika orangtua masih hidup, seorang anak hendaknya
menolong, merawat, menjaga nama baik dan perilaku agar
orangtua selalu berbahagia.
Sedangkan, apabila orangtua telah
meninggal dunia, anak hendaknya sering melakukan berbagai
bentuk kebajikan melalui ucapan, perbuatan dan pikiran
atas nama orangtua yang telah meninggal tersebut. Dengan
demikian, apabila orangtua terlahir di alam yang dapat
menerima jasa kebajikan anaknya itu, mereka akan berbahagia.
Kebahagiaan di alam itu akan mengkondisikan mereka terlahir
di alam yang lebih baik lagi. Jadi, walaupun orangtua
telah meninggal, anak masih memiliki kesempatan untuk
berbakti kepada mereka.
Untuk memperingati
sanak keluarga yang telah meninggal, umat Buddha bisa
melakukan pelimpahan jasa (patidana). Pelimpahan jasa
disini adalah kita berbuat kebajikan (entah itu berdana,
baca paritta, menolong orang, atau perbuatan baik apapun
juga) dan kemudian kita merenung mengajak sanak keluarga
yang telah meninggal untuk ikut bergembira melihat kita
telah berbuat kebaikan. Dengan demikian kita bisa mengajak
mereka untuk membangkitkan mudita-citta, merasa bahagia,
sehingga bisa tercipta kondisi untuk lepas dari penderitaan.
Untuk membalas jasa kepada seorang
ibu, rasanya tidak mudah. Karena jasa seorang ibu kepada
kita teramat sangat besar. Sang Buddha menunjukkan cara
balas budi dengan mengajarkan Dhamma pada almarhumah
ibunya di alam surga, sehingga beliau mencapai kesucian.
Bagi kita yang belum punya kemampuan untuk itu, mungkin
bisa ditempuh dengan jalan mengundang bhikkhu pada saat
upacara peringatan, lalu dalam kesempatan itu dilakukan
pembabaran Dhamma.
Kalau misalnya ibu kita telah
lahir kembali menjadi manusia, maka perbuatan kita tidak
mungkin diketahui olehnya. Namun demikian, perbuatan
baik kita tidak akan sia-sia, karena perbuatan itu tetap
akan membuahkan kebahagiaan bagi kita, atau juga bagi
makhluk lain yang ikut mengetahui.
Mengingat bahwa membalas kebaikan
ibu setelah meninggal itu tidak selalu dapat dirasakan
oleh ibu kita, maka sebaiknya semasa ibu masih hidup,
dia diperlakukan dengan baik dan penuh bakti.
Semoga bermanfaat.
Kirim
Artikel ini ke Teman Anda!
|