BuddhistOnline.com
»  
MENGENAI KAMI FAQ KONTAK
Index | Ajaran-Dasar | Berita | Dhammadesana | Tanya-Dhamma | Forum | Galeri | Vihara | Dokumen | Sejarah | Link
Dhamma Study Group Bogor
 
[]

Update Terakhir:
Wednesday, September 28, 2005
Masa Pembenahan BuddhistOnline.com

Tuesday, May 24, 2005
Selamat Hari Tri Suci Waisak 2549

Tuesday, May 24, 2005
Renungan Waisak 2549 STI

Friday, May 20, 2005
Tanya Dhamma: Hubungan Deja Vu dan Kamma Masa Lampau

Sunday, May 1, 2005
Benarkah Mahabodhi Vihara Bodh Gaya Dicoret dari Daftar Cagar Budaya Dunia UNESCO?

 

[]    
[]
Click Here!

 

Membalas Budi Almarhum Ortu, Bagaimana?

Tanya:

Namo Buddhaya,
Bagaimana seharusnya seorang Buddhis memperingati sanak keluarganya yang telah meninggal? Bagaimana saya bisa membalas budi ibu yang telah meninggal, karena saya merasa belum cukup berbakti dan membalas jasanya selama hidupnya?

Edy Huang, Pekanbaru.

 

Jawaban dari Samaggi Phala (Y.M. Uttamo Thera) dan Silakumaro Tonny Coason:
Namo Buddhaya,

Tugas seorang umat Buddha telah diuraikan dengan jelas dalam Sigalovada Sutta. Sutta ini salah satunya menerangkan tugas anak kepada orangtua ketika mereka masih hidup dan juga setelah meninggal dunia. Ketika orangtua masih hidup, seorang anak hendaknya menolong, merawat, menjaga nama baik dan perilaku agar orangtua selalu berbahagia.

Sedangkan, apabila orangtua telah meninggal dunia, anak hendaknya sering melakukan berbagai bentuk kebajikan melalui ucapan, perbuatan dan pikiran atas nama orangtua yang telah meninggal tersebut. Dengan demikian, apabila orangtua terlahir di alam yang dapat menerima jasa kebajikan anaknya itu, mereka akan berbahagia. Kebahagiaan di alam itu akan mengkondisikan mereka terlahir di alam yang lebih baik lagi. Jadi, walaupun orangtua telah meninggal, anak masih memiliki kesempatan untuk berbakti kepada mereka.

Untuk memperingati sanak keluarga yang telah meninggal, umat Buddha bisa melakukan pelimpahan jasa (patidana). Pelimpahan jasa disini adalah kita berbuat kebajikan (entah itu berdana, baca paritta, menolong orang, atau perbuatan baik apapun juga) dan kemudian kita merenung mengajak sanak keluarga yang telah meninggal untuk ikut bergembira melihat kita telah berbuat kebaikan. Dengan demikian kita bisa mengajak mereka untuk membangkitkan mudita-citta, merasa bahagia, sehingga bisa tercipta kondisi untuk lepas dari penderitaan.

Untuk membalas jasa kepada seorang ibu, rasanya tidak mudah. Karena jasa seorang ibu kepada kita teramat sangat besar. Sang Buddha menunjukkan cara balas budi dengan mengajarkan Dhamma pada almarhumah ibunya di alam surga, sehingga beliau mencapai kesucian. Bagi kita yang belum punya kemampuan untuk itu, mungkin bisa ditempuh dengan jalan mengundang bhikkhu pada saat upacara peringatan, lalu dalam kesempatan itu dilakukan pembabaran Dhamma.

Kalau misalnya ibu kita telah lahir kembali menjadi manusia, maka perbuatan kita tidak mungkin diketahui olehnya. Namun demikian, perbuatan
baik kita tidak akan sia-sia, karena perbuatan itu tetap akan membuahkan kebahagiaan bagi kita, atau juga bagi makhluk lain yang ikut mengetahui.

Mengingat bahwa membalas kebaikan ibu setelah meninggal itu tidak selalu dapat dirasakan oleh ibu kita, maka sebaiknya semasa ibu masih hidup, dia diperlakukan dengan baik dan penuh bakti.

Semoga bermanfaat.

 

 

Kirim Artikel ini ke Teman Anda!

 

[]
[]
Copyright © 2000-2003, BuddhistOnline.com. Hak cipta dilindungi undang-undang. Tidak diperkenankan mereproduksi seluruh maupun sebagian isi halaman ini tanpa ijin tertulis dari BuddhistOnline.com dan mencantumkan sumber dari: BuddhistOnline.com (http://www.buddhistonline.com).
Hosting powered by HostingAnda.com. Designed by mediacyber.com.
[]