|
Antara Musik, Teman
Sekamar, dan Kamma
Tanya:
Bagaimana suatu perbuatan bisa dikatakan kamma buruk
atau baik? Misalnya, bila saya menyalakan musik klasik,
roommate saya A terganggu
tidurnya (tapi hal itu tak pernah disampaikan ke saya),
sementara roommate B merasa nyaman. Dalam hal ini, saya
melakukan kamma buruk, baik, atau netral? Terima kasih.
Tedy Ruslim, New Jersey, Amerika Serikat
Jawaban dari Samaggi
Phala (Y.M. Uttamo Thera) dan Dhamma
Study Group Bogor (Sdr. Selamat Rodjali):
Namo Buddhaya,
Dikatakan dalam Dhamma bahwa
kamma adalah niat. Jadi, niat yang muncul pada saat
menyalakan musik adalah hal yang paling menentukan.
Kalau niatnya baik, maka jadilah perbuatan itu sebagai
kamma baik. Kalau niatnya memang ingin mengganggu orang
lain, maka tentu perbuatan itu adalah merupakan kamma
buruk.
Sedangkan, perasaan si A dan
si B adalah merupakan BUAH kamma yang mereka dapatkan.
Dengan demikian, bila si A merasa terganggu, dia telah
memetik buah kamma buruk yang dimilikinya. Si B merasa
nyaman adalah karena ia memetik buah kamma baik dengan
memiliki kesempatan mendengar musik klasik tersebut.
Meskipun demikian, dalam melakukan
suatu perbuatan, seseorang hendaknya tetap memperhatikan
perasaan dan reaksi orang lain terhadap perilakunya.
Karena dalam pengertian Hukum Sebab dan Akibat ada istilah
'kalau diri sendiri tidak mau dicubit, maka janganlah
mencubit orang lain'. Kalau diri sendiri tidak mau terganggu,
janganlah mengkondisikan orang lain terganggu. Dengan
demikian, bila berminat mendengar lagu klasik, usahakan
ketika di kamar hanya ada si B namun tidak ada si A
yang kurang suka dengan musik klasik.
Sdr. Tedy yang baik, menyalakan musik klasik dengan
niat yang baik merupakan kusala kamma, contoh
bila prinsipnya kita memberikan kesempatan mahluk lain
untuk mengalami objek pendengaran yang menyenangkan.
Suara musik itu sendiri merupakan hal yang netral,
dan kesadaran mendengar suara tersebut juga netral merupakan
vipaka (hasil).
Apabila si A marah-marah karena mendengar suara tak
menyenangkan, maka saat marah itu si A sedang melakukan
kamma buruk (mendengar suara jelek adalah vipaka
buruk); sebaliknya apabila si B bersimpati atas kebaikan
kita memperdengarkan musik indah, maka si B sedang melakukan
kamma baik (mendengar suara indah itu adalah vipaka
baik).
Kesimpulan dari pernyataan di atas, suara dapat menjadi
kondisi berbuahnya kamma baik atau kamma buruk bagi
seseorang. Tindakan orang tersebut atas mendengar (yang
merupakan hasil tadi) merupakan kamma baru, yang bisa
baik (kusala) juga bisa tidak baik (akusala).
Saudara mau pilih yang mana?
Saudara, kamma (perbuatan) dan vipaka (hasilnya)
merupakan dua hal yang berbeda dan sangat tipis sekali
jarak waktu terjadinya di dalam rangkaian proses di
atas. Apabila kita memahami ini, maka kita akan selalu
berniat baik untuk memperdengarkan sesuatu yang menyenangkan
dan selalu beresponse positif atas setiap suara yang
kita dengar. Ini artinya positive thinking di
dalam bertindak dan positive thinking di dalam
menerima. Dengan demikian dari baik akan menjadi lebih
baik, from good to great. Semoga Saudara dapat
memahaminya.
Semoga semua mahluk berbahagia.
Semoga bermanfaat.
Kirim
Artikel ini ke Teman Anda!
|