|
Ucapan "Semoga Semua
Mahluk Berbahagia" Hanyalah Lip Service?
Tanya:
Umat Buddha selalu mendoakan "semoga semua mahluk
bahagia". Menurut saya, sudah jelas tidak
mungkin doa tersebut terkabul. Kedengaran hanya doa
yang lip service atau bapak bisa menjelaskan
kepada saya makna dan manfaat dari 'doa' semacam itu?
Terima kasih.
Abby, Pekanbaru.
Jawaban dari Y.M.
Uttamo Thera dan Selamat Rodjali:
Namo Buddhaya,
Makna kalimat : "Semoga semua
mahluk berbahagia", memang berisikan harapan agar kebahagiaan
dapat DIRASAKAN oleh semua mahluk. Kebahagiaan ini jelas
bukan sesuatu yang tidak mungkin terjadi. Kebahagiaan
sesungguhnya bukan karena terkabulnya suatu keinginan
melainkan kemampuan suatu mahluk atau seseorang untuk
menerima kenyataan. Semakin mudah seseorang menerima
kenyataan yang sedang dihadapinya, semakin besar pula
kemungkinannya untuk merasakan kebahagiaan.
Meskipun demikian, apabila belum semua mahluk mempunyai
kemampuan untuk mengendalikan pikiran agar ia dapat
menerima kenyataan, maka paling tidak orang yang sering
mengucapkan kalimat tersebut telah mulai mengisi batinnya
sendiri dengan pikiran yang baik. Pengucapan dalam batin
secara terus menerus kalimat ini akan mengkondisikan orang
tersebut melakukan kamma baik melalui pikirannya. Semakin
sering ia mengucapkan kalimat itu, semakin banyak pula
kamma baik yang dilakukannya melalui pikiran. Banyaknya
kamma baik inilah yang akan memberikan kebahagiaan untuk
dirinya sendiri. Apabila ia telah dapat merasakan
kebahagiaan, maka ia pun akan lebih mudah untuk memandang
lingkungannya dari sudut pikiran positifnya. Ia lebih mudah
memahami segala kekungan serta kelebihan yang dimiliki oleh
lingkungannya. Ia tidak mudah mengeluh pada situasi apapun
yang dihadapinya. Sikap mental yang positif ini tentu akan
memberikan ketenangan dan kedamaian kepada lingkungannya
pula. Lingkungannya akan dapat terbebas dari rasa saling
dendam, jengkel maupun bermusuhan.
Jadi, dengan sering mengucapkan kalimat 'Semoga semua
mahluk berbahagia' seseorang telah berusaha melangkah
secara nyata untuk meraih kebahagiaan diri sendiri,
lingkungannya bahkan semua mahluk. Sesungguhnya, kalimat
cinta kasih tersebut bukan hanya sekedar lip service belaka.
Sdr. Abby yang baik,
doa-nya Agama Buddha harus disertai pikiran yang sesuai
dengan perkataan, jadi ketika melakukan doa tersebut
pikiran dan perkataan cocok. Pikiran dan perkataan yang
baik dan diulang-ulang, tentu akan memperkecil kemungkinan
munculnya pikiran buruk. Jadi, yang paling penting adalah
pikirannya. Karena pikiran baik diulang-ulang dengan
penuh konsentrasi dan perhatian, maka tentu saja akan
mengkondisikan tindak tanduk dan perkataan baik yang
lebih sering di dalam kehidupan sehari-hari. Di dalam
pembacaan 'doa' itu, umat Buddha juga harus mencoba
sebanyak mungkin untuk tidak melekat terhadap objek
yang di'doa'kan.
Dengan demikian, pikiran baik akan bertubi-tubi muncul,
dan ini akan sangat positif ketimbang pikiran buruk
yang muncul, Saya yakin saudara
juga menyadari hal ini.
Salam sejahtera dan bahagia
Semoga bermanfaat.
Kirim
Artikel ini ke Teman Anda!
|