|
Bagaimana 'Sang Objek'
Mengerti Pelimpahan Jasa?
Tanya:
Saya ingin menanyakan tentang pelimpahan jasa. Jika kita melakukan perbuatan baik,
kemudian melimpahkan jasa dengan membaca paritta dalam hati dan menyebut nama si almarhum,
bagaimana si almarhum bisa tahu bahwa kita melakukan pelimpahan jasa untuknya?
Juga bagaimana jika ia semasa hidupnya tidak megerti tentang paritta yang saya bacakan itu
atau tentang pelimpahan jasa itu sendiri?
Ersy, Jakarta Barat
Jawaban dari Samaggi
Phala (Y.M. Uttamo Thera) dan Dhamma
Study Group Bogor (Sdr. Selamat Rodjali):
Namo Buddhaya,
Apabila almarhum terlahir di
alam paradatupajivika peta, maka ia akan bisa menerima
pelimpahan jasa yang dikirimkan. Penerimaan ini tidak
tergantung dengan bahasa yang kita gunakan maupun cara
mengespresikan, baik diucapkan di dalam hati maupun
diucapkan keras-keras. Karena dalam 'komunikasi' semacam
ini, mahluk tersebut lebih mementingkan 'gelombang pikiran'
yang berisikan niat baik kita daripada cara maupun bahasa
yang digunakan untuk mengekspresikan pikiran tersebut.
Almarhum belum tentu mengetahui perbuatan kita. Ini
sepenuhnya tergantung Almarhum, di alam apa dia
tumimbal lahir dan di mana serta sebagai mahluk apa.
Bila almarhum tumimbal lahir sebagai binatang, mahluk
neraka, nijjhamatanhika peta, manusia yang tidak ingat
kehidupan lampaunya, mahluk asannasatta, arupa brahma,
maka ia tidak akan tahu bahwa pelimpahan jasa itu ditujukan
untuknya.
Prinsip pelimpahan jasa sebenarnya prinsip batin.
Mirip seperti seorang dewasa melihat seorang anak kecil
menyeberangkan seorang nenek-nenek (anggaplah ketiganya
berbahasa yang berbeda). Orang dewasa itu terinspirasi
perbuatan baik anak itu sehingga muncul mudita citta
(pikiran simpati atas kebaikan mahluk lain). Mudita
citta orang dewasa ini akan mengkondisikan kebahagiaan
baginya. Di dalam perumpamaan ini, bisa saja ada kasus
di mana orang dewasa yang melihat tindakan anak kecil
itu tidak muncul mudita cittanya. Untuk kasus ini, orang
dewasa itu tidak mendapatkan manfaat apapun.
Ada kasus lain, di mana orang dewasa itu mungkin saja
malah menunjukkan sikap sinis karena tak mengerti tindakan
anak kecil itu. Untuk kasus ini, justru pikiran buruk
(akusala citta) yang muncul. Akusala citta ini malah
mengkondisikan penderitaan baginya. Dari ketiga kasus
di atas, perbuatan anak kecil itu tetap perbuatan baik
(kusala kamma) yang akan membawa akibat baik tersendiri
baginya, tak peduli orang dewasa itu mendapatkan manfaat
ataukah tidak. Jadi bagi umat Buddha, pelimpahan jasa
seyogyanya tetap dilakukan, karena minimal akan membawa
manfaat bagi dirinya sendiri. Dan jenis pelimpahan jasa
yang dilakukan akan lebih efektif jika merupakan pengulangan
perbuatan baik yang pernah atau sering dilakukan oleh
almarhum ketika masih hidup.
Kirim
Artikel ini ke Teman Anda!
|