|
Anjuran "Mengalahkan
Diri Sendiri" dan Konsep Anatta
Tanya:
Saya mau tanya soal ungkapan "mengalahkan diri
sendiri" yang sering disebut-sebut dalam dhammadesana-dhammadesana
di vihara. Jika ada yang mengalahkan, berarti ada yang
dikalahkan dong? Bagaimana jika dikaitkan dengan
konsep tanpa aku (anatta)?
Diman
Jawaban dari Dhamma
Study Group Bogor (Sdr. Selamat Rodjali):
Namo Buddhaya,
Memang antara 'aku' dan 'tanpa aku' sering menimbulkan
kontroversi. Sang Buddha menerangkan dua jenis kebenaran,
yaitu:
- Kebenaran konvensi (kesepakatan) ==> disebut
pula sebagai Sammutti Sacca
Kebenaran ini digunakan di dalam pergaulan sehari-hari
untuk sebutan, penamaan, dan kemudahan berkomunikasi.
Di dalam pergaulan konvensi ini selalu digunakan,
oleh karena itulah muncul istilah aku, diriku dan
sebagainya hanya dalam pergaulan kehidupan yang dicengkeram
oleh konvensi.
- Kebenaran mutlak (hakekat sesungguhnya) ==> disebut
sebagai Paramatha Sacca
Kebenaran ini digunakan di dalam hakekat sesungguhnya
segala sesuatu, di mana tidak ada 'aku', 'diriku',
'milikku' dan seterusnya.
Ketika seseorang bertanya: "Kalau tidak ada aku,
siapa dong yang mengalahkan diriku". Sebenarnya
pertanyaan ini tidak tepat, karena ada dua kebenaran
dicampuradukkan, yaitu:
- Kebenaran mutlak, yang tercakup di dalam kumpulan
kata : 'kalau tidak ada aku' dan
- Kebenaran konvensi, yang tercakup di dalam kumpulan
kata: 'siapa yang mengalahkan diriku'
Jadi, bila kita berbicara kebenaran konvensi, maka
seyogyanya semua kalimat itu meliput perihal konvensi.
Demikian pula sebaliknya, bila kita berbicara kebenaran
mutlak, maka seyogyanya semua kalimat itu meliput perihal
kebenaran mutlak.
Setelah mengetahui kedua jenis kebenaran ini yang
sangat berbeda satu sama lain, maka seyogyanya pula
kita tidak terkecoh dan bingung. Karena pada satu saat
kesempatan Sang Buddha menjelaskan perihal kehidupan
yang penuh konvensi (kebenaran kesepakatan), dan di
saat yang lain dengan konteks lain Beliau menjelaskan
perihal kehidupan di dalam hakekat yang sesungguhnya
(kebenaran mutlak). Sayangnya, hal ini jarang sekali
dijelaskan oleh para pembabar Dhamma, sehingga kadang
kala muncul di dalam pikiran umat pencampuradukkan kedua
kebenaran itu di dalam satu kalimat. Seperti pertanyaan
penanya.
Untuk memahami perbedaan keduanya, Kitab Suci Tipitaka
bagian Abhidhamma pitaka menjelaskan secara rinci tentang
hakekat sesungguhnya segala sesuatu. Pemahaman penembusannya
harus diimbangi dengan praktik vipassana bhavana di
bawah bimbingan guru yang memadai. Di Indonesia, kami
mengetahui ada beberapa guru yang tepat, seorang sudah
almarhum yaitu Y.M. Bhante Girirakkhito, seorang lagi
sudah pensiun, dan seorang lagi yang masih 'in' di dalam
hal ini adalah Y.M. Bhante Thitaketuko.
Semoga semua mahluk berbahagia.
Kirim
Artikel ini ke Teman Anda!
|