|
Antara Vipassana
dan Samatha
Tanya:
Namo Buddhaya,
Saya pernah mengikuti latihan meditasi vipassana bhavana
sekali dan saat ini saya rutin mengikuti samatha bhavana
yang diadakan di Vihara - vihara Jakarta. Permasalahannya,
setiap latihan meditasi samantha bhavana ini saya sering
salah dalam menggunakan objek. Kadang saya memakai objek
naik turunnya perut, kadang tercampur dengan objek keluar
masuknya nafas. Apakah ini salah? Mana yang lebih baik,
memakai objek perut atau nafas? Mana yg lebih baik vipassana
atau samatha? Mohon penjelasannya? Terima kasih.
Mettacitena,
Subharini
Jawaban dari Dhamma Study Group Bogor (Sdr. Selamat
Rodjali):
Namo Buddhaya,
Vipassana mengandung arti kualitas batin yang memiliki
kemampuan untuk 'mengamati' segala sesuatu dalam hakekat
yang sesungguhnya yang dicengkram oleh tiga sifat umum,
yaitu tidak kekal, tidak memuaskan, dan tidak berkepemilikan
pada saat itu (jadi bukan konseptual / sebutan / nama
/ gambaran). Sedangkan samatha mengandung arti kualitas
batin yang memiliki kemampuan menekan lima rintangan
batin sehingga tenang dalam objek pengamatan yang berupa
konseptual / sebutan / gambaran. Jadi, keduanya merupakan
kualitas batin, bukan metode.
Nah, metodenya ada macam-macam, naik turunnya perut
atau masuk keluarnya nafas bisa menjadi sarana objek
pengamatan untuk merealisasi salah satu kualitas batin
di atas.
Jika seseorang berlatih mengamati proses naik turunnya
perut atau masuk keluarnya nafas yang dicengkeram tiga
sifat umum di atas pada saat itu, maka ia melatih metode
untuk merealisasi vipassana. Sedangkan bila seseorang
berlatih mengamati proses naik turunnya perut atau masuk
keluarnya nafas dengan membayangkan satu titik terus-menerus,
atau memikirkan lafal kata baik dalam ucapan ataupun
dalam batin sebagai catatan 'naik-turun' atau 'masuk-keluar',
maka metode tersebut semata-mata untuk membantu batin
merealisasi samatha.
Jadi, yang saudara latih yang mana? Keduanya tidak
salah, keduanya merupakan metode untuk merealisasi kualitas
batin yang berbeda, keduanya bersifat komplemen (saling
mendukung) dan dibutuhkan di dalam melaksanakan jalan
mulia berunsur delapan secara utuh.
Saran saya, carilah guru yang pandai, bekalilah dengan
pengetahuan teori yang cukup, termasuk pengetahuan dasar
fenomena batin dan jasmani. Teori itu akan menjadi katalis
untuk merealisasi kebijaksanaan yang lebih luhur di
dalam bermeditasi. Sayangnya, guru di Indonesia sangat
langka, salah satu yang paling berpengalaman saat ini
adalah Bhante Thitaketuko. Lain dengan di negara tetangga,
seperti Singapura dan Malaysia, di mana banyak sekali
guru-guru meditasi baik untuk vipassana maupun samatha.
Demikian pula pembabaran teori pencapaian vipassana
dan samatha juga sangat intensif dibahas dan dibicarakan.
Demikian masukan saya, semoga saudara lebih giat berlatih,
semoga berbahagia.
Semoga semua mahluk berbahagia.
Kirim
Artikel ini ke Teman Anda!
|