BuddhistOnline.com
»  
MENGENAI KAMI FAQ KONTAK
Index | Ajaran-Dasar | Berita | Dhammadesana | Tanya-Dhamma | Forum | Galeri | Vihara | Dokumen | Sejarah | Link
Dhamma Study Group Bogor
 


Update Terakhir:
Wednesday, September 28, 2005
Masa Pembenahan BuddhistOnline.com

Tuesday, May 24, 2005
Selamat Hari Tri Suci Waisak 2549

Tuesday, May 24, 2005
Renungan Waisak 2549 STI

Friday, May 20, 2005
Tanya Dhamma: Hubungan Deja Vu dan Kamma Masa Lampau

Sunday, May 1, 2005
Benarkah Mahabodhi Vihara Bodh Gaya Dicoret dari Daftar Cagar Budaya Dunia UNESCO?

   
[an error occurred while processing this directive]

 

Perkawinan Beda Agama

Tanya:
Namo Buddhaya,

Saya hendak bertanya bagaimana penjelasan Agama Buddha tentang perjodohan dalam hal beda agama. Apakah bisa dilangsungkan? Atau adakah halangan-halangan yang akan ditembus dan resiko-resiko apa saja yang akan dihadapi. Terima kasih sebelumnya. Sãdhu! Sãdhu! Sãdhu!

Mettacitena,

Chow Yen Hai, Jakarta

 

Jawaban dari Samaggi Phala (Y.M. Uttamo Thera):
Namo Buddhaya,

Perkawinan beda agama memang tidak terlalu disarankan dalam Agama Buddha. Hal ini sesuai dengan petunjuk Sang Buddha tentang syarat kebahagiaan dalam rumah tangga, yang salah satunya menyebutkan 'keyakinan yang setara'.

Mungkin, pada saat awal perkawinan beda agama, masing-masing pasangan bisa menahan diri untuk tidak mempermasalahkan perbedaan yang ada. Namun, sampai kapan hal ini bisa dilakukan? Jika telah lahir anak-anak, akan dididik menurut agama siapakah mereka? Kalau salah satu pasangan itu jatuh sakit dan membutuhkan upacara keagamaan, akan diupacarakan menurut agama siapakah? Agama yang sakit ataukah yang sehat? Belum lagi kalau meninggal, akan diupacarakan menurut agama yang meninggal ataukah yang hidup? Masih banyak problem lain yang tidak bisa disebutkan satu per satu di sini.

Oleh karena itu, kalau masih dalam tahap pendekatan antar calon pasangan hidup, ada baiknya masalah perbedaan agama diselesaikan dahulu, jangan dibiarkan saja. Karena hal ini hanya akan menunda permasalahan. Kalau bisa diketemukan jalan keluarnya sehingga dua agama menjadi satu agama, maka hubungan bisa dilanjutkan menjadi perkawinan.

Namun, kalau masalah agama tidak bisa dicari titik temunya, maka ada baiknya h! ubungan tetap sebagai sahabat saja, tidak perlu dilanjutkan menjadi pasangan suami istri. Hal ini agar dapat menghindari konflik rumah tangga yang berkepanjangan.

Sedangkan untuk pasangan beda agama yang sudah 'terlanjur' hidup sebagai suami istri, maka sebaiknya, masing-masing pihak berusaha memahami agama pasangan hidupnya, walau tanpa harus dipaksa mengikutinya. Hal ini agar menumbuhkan pengertian bahwa sesungguhnya bukan hanya agama sendiri yang mempunyai kebenaran; agama lainpun juga memiliki kebenaran tersendiri. Dengan pola pikir positif inilah diharapkan pasangan bisa saling mengerti dan dapat membina rumah tangga beda agamanya dengan penuh keharmonisan.

Semoga bermanfaat.

Semoga semua mahluk berbahagia.

 

 

Kirim Artikel ini ke Teman Anda!

 

[]
Copyright © 2000-2003, BuddhistOnline.com. Hak cipta dilindungi undang-undang. Tidak diperkenankan mereproduksi seluruh maupun sebagian isi halaman ini tanpa ijin tertulis dari BuddhistOnline.com dan mencantumkan sumber dari: BuddhistOnline.com (http://www.buddhistonline.com).
Hosting powered by HostingAnda.com. Designed by mediacyber.com.
[]