|
Perkawinan Beda Agama
Tanya:
Namo Buddhaya,
Saya hendak bertanya bagaimana penjelasan Agama Buddha
tentang perjodohan dalam hal beda agama. Apakah bisa
dilangsungkan? Atau adakah halangan-halangan yang akan
ditembus dan resiko-resiko apa saja yang akan dihadapi.
Terima kasih sebelumnya. Sãdhu! Sãdhu!
Sãdhu!
Mettacitena,
Chow Yen Hai, Jakarta
Jawaban dari Samaggi Phala
(Y.M. Uttamo Thera):
Namo Buddhaya,
Perkawinan beda agama memang
tidak terlalu disarankan dalam Agama Buddha. Hal ini
sesuai dengan petunjuk Sang Buddha tentang syarat kebahagiaan
dalam rumah tangga, yang salah satunya menyebutkan 'keyakinan
yang setara'.
Mungkin, pada saat awal perkawinan
beda agama, masing-masing pasangan bisa menahan diri
untuk tidak mempermasalahkan perbedaan yang ada. Namun,
sampai kapan hal ini bisa dilakukan? Jika telah lahir
anak-anak, akan dididik menurut agama siapakah mereka?
Kalau salah satu pasangan itu jatuh sakit dan membutuhkan
upacara keagamaan, akan diupacarakan menurut agama siapakah?
Agama yang sakit ataukah yang sehat? Belum lagi kalau
meninggal, akan diupacarakan menurut agama yang meninggal
ataukah yang hidup? Masih banyak problem lain yang tidak
bisa disebutkan satu per satu di sini.
Oleh karena itu, kalau masih
dalam tahap pendekatan antar calon pasangan hidup, ada
baiknya masalah perbedaan agama diselesaikan dahulu,
jangan dibiarkan saja. Karena hal ini hanya akan menunda
permasalahan. Kalau bisa diketemukan jalan keluarnya
sehingga dua agama menjadi satu agama, maka hubungan
bisa dilanjutkan menjadi perkawinan.
Namun, kalau masalah agama tidak
bisa dicari titik temunya, maka ada baiknya h! ubungan
tetap sebagai sahabat saja, tidak perlu dilanjutkan
menjadi pasangan suami istri. Hal ini agar dapat menghindari
konflik rumah tangga yang berkepanjangan.
Sedangkan untuk pasangan beda
agama yang sudah 'terlanjur' hidup sebagai suami istri,
maka sebaiknya, masing-masing pihak berusaha memahami
agama pasangan hidupnya, walau tanpa harus dipaksa mengikutinya.
Hal ini agar menumbuhkan pengertian bahwa sesungguhnya
bukan hanya agama sendiri yang mempunyai kebenaran;
agama lainpun juga memiliki kebenaran tersendiri. Dengan
pola pikir positif inilah diharapkan pasangan bisa saling
mengerti dan dapat membina rumah tangga beda agamanya
dengan penuh keharmonisan.
Semoga bermanfaat.
Semoga semua mahluk berbahagia.
Kirim
Artikel ini ke Teman Anda!
|