|
Update Terakhir:
|
Wednesday, September 28, 2005 Masa Pembenahan BuddhistOnline.com
Tuesday, May 24, 2005 Selamat Hari Tri Suci Waisak 2549
Tuesday, May 24, 2005 Renungan Waisak 2549 STI
Friday, May 20, 2005 Tanya Dhamma: Hubungan Deja Vu dan Kamma Masa Lampau
Sunday, May 1, 2005 Benarkah Mahabodhi Vihara Bodh Gaya Dicoret dari Daftar Cagar Budaya Dunia UNESCO?
|
[an error occurred while processing this directive]
|
|
|
 |
|
|
|
Siddhatta Tidak Bertanggungjawab?
Tanya:
Namo Buddhaya,
Saya ingin menanyakan 3 pertanyaan. Yaitu:
- Dalam buku berjudul "Sakyamuni Buddha, Biografi
tafsir" karangan Daisaku Ikeda, disebutkan bahwa Kapilavastu
adalah negara yang kecil dan mudah dikuasai oleh negara
besar lainnya. Oleh karenanya, Raja Suddhodhana ingin
mewariskan tahtanya kepada Siddhatta. Tetapi Siddhatta
malah pergi bertapa, bukankah ini adalah sikap yang
tidak bertanggung jawab?
- Darimanakah kata "neraka" diambil? Apakah dari
kata "Niraya"? Jika ya, apakah berarti Sang Buddha
adalah orang pertama yang mengemukakan tentang alam
neraka diantara para pemuka agama lainnya? Jika tidak,
dari bahasa manakah kata neraka diambil?
- Bagaimana konsep ketuhanan dalam Agama Buddha? Karena
konsep dalam Udana VIII kurang saya pahami.
Atas jawabannya saya ucapkan terima kasih.
Mettacitena,
Hendra Dedi, Jakarta Utara
Jawaban dari Samaggi Phala
(Y.M. Uttamo Thera) dan Dhamma Study Group Bogor
(Sdr. Selamat Rodjali):
Namo Buddhaya,
- Alasan kepergian Pangeran
Siddhattha meninggalkan istana untuk menjadi pertapa
bukanlah karena sebab yang sesaat, melainkan memenuhi
dorongan yang sudah muncul sejak kecil. Dalam riwayat
Beliau, tentu bisa dibaca bahwa Beliau sudah bisa
bermeditasi sejak usia dini, yaitu tujuh tahun. Begitu
pula perilaku Beliau terhadap binatang maupun sesama
manusia juga sudah menunjukkan perbedaan dengan anak-anak
sebayanya, termasuk Devadatta. Beliau memang sudah
mengarah pada kehidupan pertapaan. Oleh karena itu,
warisan kedudukan bukanlah harapan yang Beliau dambakan,
ketika Beliau melihat kenyataan bahwa hal itu tidak
bisa mengatasi ketuaan, penyakit, dan kematian. Jadi,
akhirnya Beliau meninggalkan istana dan menjadi pertapa.
Pangeran Siddhattha memandang misi yang jauh lebih
luhur termasuk keluarganya. Bukankah mereka semuanya
akhirnya merealisasi pencerahan menjadi mahluk suci,
bahkan amat bangga atas perjuangan Pangeran Siddhattha?
- Untuk saat ini, kata 'neraka'
masih belum diketahui asal katanya, namun dalam pengertian
Buddhis, memang alam menderita semacam itu disebut
sebagai 'Niraya' bukan neraka. Dan istilah ini tampaknya
sudah ada sejak Pangeran Siddhattha belum mencapai
keBuddhaan.
Cerita tentang alam neraka, mahluk-mahluknya, syarat
tumimbal lahir di sana, diceritakan lengkap di Tipitaka
Pali. Buddha hanya membabarkan fenomena ini karena
sejak di jamannya banyak juga orang yang pandai melihat
alam-alam tersebut. Di kitab lain, kami meragukan
apakah neraka diceritakan secara detail seperti di
Tipitaka.
- Secara sederhana, konsep ketuhanan
dalam Agama Buddha adalah 'tidak terceritakan' karena
'tidak bersyarat' alias Asankhata Dhamma. Hal
ini sebenarnya wajar saja, karena kita tidak akan
bisa menceritakan tentang 'nasi' sehingga orang yang
kita ajak berbicara mengerti dengan jelas tentang
'nasi' baik warna, rasa maupun kualitas lainnya. Sangat
terbatas kata-kata yang kita miliki. Namun, tak terceritakannya
'nasi' tersebut, bukan berarti tidak adanya 'nasi'.
Orang akan mengerti segala kualitas 'nasi' kalau sudah
membuktikannya sendiri dengan mengamati dan merasakan
sendiri 'nasi' tersebut. Demikian pula dengan konsep
ketuhanan Agama Buddha, tidak bisa diceritakan namun
bisa dibuktikan (ehipassiko) dengan melaksanakan
Jalan Mulia Berunsur Delapan sehingga tercapainya
Nibbana.
Konsep Ketuhanan Di dalam Agama Buddha, HANYA ADA
di Indonesia...
Di Tipitaka Pali, bahkan, tidak ada konsep Ketuhanan.
Perbedaan tambahan konsep-konsep yang merebak di berbagai
sekte di Indonesia inilah yang menyebabkan perpecahan
Sangha di Indonesia. Yang jelas Buddha Dhamma tidak
menganut ketergantungan terhadap Tuhan dan Ketuhanan
seperti yang dimaksud secara umum. Konsep ketuhanan
dalam Agama Buddha yang jauh lebih mendingan ketimbang
konsep Ketuhanan di dalam agama Buddha yang lainnya
dapat Saudara baca buku "Ketuhanan Yang Maha
Esa di Dalam Agama Buddha", karya Cornelis Wowor
MA. Di dalam buku itu diterangkan tentang ayat Udana
VIII seperti yang Saudara maksudkan.
Semoga bermanfaat.
Semoga semua mahluk berbahagia.
Kirim
Artikel ini ke Teman Anda!
|
|
 |
|
|