|
Berdana Seluruhnya
= Bodoh?
Tanya:
Namo Buddhaya,
Di jelaskan dalam cerita Anathapindika bahwa Anathapindika
menyumbangkan kekayaannya demi Sangha sampai ia tidak
mempunyai kekayaan lagi. Mahluk yang ada di rumahnya
menjadi tidak suka dengan Anathapindika walaupun akhirnya
mahluk itu membantu mencarikan harta untuknya. Pertanyaan
saya, jika dalam berdana kita memberikan seluruh bagian
dari harta kita, apakah itu bukan yang bodoh?
Mettacitena,
Heryanto Goeyana, Surabaya
Jawaban dari Samaggi
Phala (Y.M. Uttamo
Thera) dan Dhamma
Study Group Bogor (Sdr. Selamat Rodjali):
Namo Buddhaya,
Kalau dilihat sepintas dari cerita
di atas, memang kelihatannya itu adalah kebodohan. Namun,
kita hendaknya bisa memahami bahwa setiap orang tentu
memiliki alasan masing-masing untuk membenarkan tindakannya.
Demikian pula dengan Anathapindika. Beliau melakukan
hal itu yaitu berdana besar-besaran, sesungguhnya adalah
dalam rangka untuk menghilangkan kemelekatan yang disebabkan
oleh kekotoran batin yaitu lobha, dosa,
dan moha.
Perilaku berdana besar-besaran
ini sebenarnya juga dengan mudah dijumpai dalam masyarakat
saat ini. Misalnya saja mereka yang bertekad memasuki
kehidupan kebhikkhuan. Mereka juga melepas segalanya.
Mereka bahkan meninggalkan rumah tangganya. Dan, memang,
kadang orang lain pun menganggap hal ini sebagai kebodohan.
Padahal, mereka punya alasan yang kuat pula untuk melakukan
hal ini.
Oleh karena itu, untuk menilai
tindakan seseorang, kita tidak bisa menilainya secara
global dengan hanya melihat satu sisi saja, tetapi hendaknya
melihat dan mempertimbangkan segala kondisi dan tujuan
dari masing-masing pelakunya.
Sdr. Heryanto, berdana banyak sekali tingkatannya.
Tergantung pada kemajuan batin dan tingkat tidak melekatnya
orang yang berdana akan mencerminkan seberapa besar
dana tersebut. Bagi orang tertentu mungkin harta bukan-apa-apa,
bahkan dia bisa berdana anggota tubuhnya. Bagi orang
tertentu bahkan mungkin saja berdana kehidupannya yang
jauh lebih luhur dari barang ataupun tubuhnya.
Bagi seseorang yang tingkat kemelekatannya masih tinggi,
maka akan sangat sulit dan pasti akan merasa seolah
tak masuk akal untuk menyerahkan barang semuanya.
Nah, Sang Buddha tidak memaksakan untuk menyerahkan
barang semuanya, tapi sesuai dengan kemampuan seseorang.
Dalam arti sesuai kemampuan batin seseorang untuk tidak
melekat kepada sesuatu yang diberikan.
Semoga bermanfaat.
Semoga semua mahluk berbahagia.
Kirim
Artikel ini ke Teman Anda!
|