|
Mencintai Pacar Orang
Lain
Tanya:
Namo Buddhaya,
Saya mempunyai masalah. Saya mencintai seorang wanita
namun wanita tersebut telah mempunyai pacar. Namun saya
tetap cuek dan masih ingin merebut hatinya. Tetapi menurut
teman-teman saya, perbuatan tersebut tidak baik karena
hal tersebut akan membuahkan kamma buruk terhadap diri
saya di mana suatu saat nanti pacar saya juga akan direbut
orang. Saya percaya hal tersebut, tapi bagaimana yah...
saya benar-benar mencintai dia dan saya ingin dapat
bersamanya. Apa yang harus saya lakukan? Apakah saya
tetap tidak boleh merebut hatinya, walaupun saya benar-benar
mencintainya? Apakah saya tidak dapat berbuat apa-apa
sama sekali, karena saya tidak mau begitu? Saya ingin
dapat berbuat sesuatu. Saya juga tidak mau kalau disuruh
merelakan dia pergi dan mencari yang lain, karena tekad
saya sudah bulat. Mohon bantuan dan saran serta alternatif
yang bisa saya lakukan?
Steven, Jakarta
Jawaban dari Samaggi
Phala (Y.M. Uttamo
Thera):
Namo Buddhaya,
Mencintai seseorang adalah merupakan
kewajaran dalam hidup ini. Merupakan satu kebahagiaan
kalau seseorang bisa memperoleh balasan cinta. Namun,
jika seseorang mencintai orang yang telah memiliki pacar,
walaupun wajar, namun tidak baik untuk dilanjutkan.
Hal ini memang ada hubungannya dengan Hukum Kamma, bahwa
kalau kita merebut pacar orang lain, maka bisa juga
pacar tersebut suatu ketika direbut orang lain pula.
Hal ini bisa terjadi, karena mungkin mental pacar itu
memang kurang bagus, gampang terpengaruh oleh orang
lain yang mencintainya. Konsep mencintai, sesungguhnya
adalah mengharapkan orang yang dicintai memperoleh kebahagiaan.
Kalau mencintai agar diri sendiri bahagia, maka ini
adalah bentuk egoisme saja. Oleh karena itu, apabila
memang wanita yang dicintai itu bahagia dengan pacar
yang sekarang, maka sesungguhnya itulah kebahagiaan
orang yang mencintai wanita tersebut.
Sesungguhnya cinta adalah memberi,
bukan menuntut. Dengan demikian, dalam situasi ini,
ada beberapa hal yang bisa dikerjakan:
- Menanyakan secara langsung
atau tidak langsung kepada wanita itu, apakah dia
memang mencintai pacarnya dan apakah pacarnya juga
cinta padanya. Kalau memang jawabnya positif, maka
sebagai orang yang memberikan cinta sejati, hendaknya
merelakan dia bersama dengan pacarnya yang sekarang.
Biarlah dia berbahagia. Melihat dia berbahagia adalah
merupakan bukti ketulusan cinta.
- Apabila dia tidak bahagia dengan pacar yang sekarang,
maka hendaknya berusaha menasehatinya agar dia lebih
bisa menerima pacar sekarang ini sebagaimana adanya,
sehingga akhirnya diapun akan memperoleh kebahagiaan
bersamanya. Hindarilah menghasut wanita itu agar berpisah
dengan pacarnya, karena itu adalah merupakan kamma
buruk pula.
- Apabila di satu saat nanti,
ternyata memang wanita itu putus cinta dengan pacarnya
tanpa hasutan darimanapun juga, maka pada saat itulah,
baru bisa berusaha mendapatkan perhatian dan cinta
wanita itu.
Oleh karena itu, dalam waktu
dekat ini sikap yang harus dikerjakan adalah menunggu
kesempatan itu, dan sebaiknya juga memperluas pergaulan
sehingga terbuka kesadaran bahwa ternyata banyak juga
wanita yang bisa diharapkan menjadi pacar, bukan hanya
wanita itu satu-satunya di dunia ini. Dengan demikian,
akan timbullah semangat hidup yang positif, bebas dari
keirihatian dan kebencian melihat wanita itu bahagia
dengan pacarnya.
Paling akhir, hendaknya seseorang
mempunyai perenungan, daripada memikirkan wanita yang
tidak menerima cintanya, sebaiknya dia merenungkan kualitas
diri yang bagaimana yang harus diperbaiki sehingga diri
ini layak dicintai oleh wanita itu. Jadi, perbaikilah
diri sendiri dahulu, sebelum berusaha memperoleh perhatian
dari orang lain.
Semoga bermanfaat.
Semoga semua mahluk berbahagia.
Kirim
Artikel ini ke Teman Anda!
|