|
'Menghapus' Kamma
Buruk
Tanya:
Namo Buddhaya,
Apakah nasib buruk yang saya alami selama satu tahun
terakhir ini dapat dihapuskan dengan melaksanakan meditasi
dan membaca paritta setiap hari pada malam hari? Terima
kasih.
Uttamaviriya, Jakarta
Jawaban dari Samaggi
Phala (Y.M. Uttamo Thera) dan Dhamma
Study Group Bogor (Sdr. Selamat Rodjali):
Namo Buddhaya,
Membaca paritta dan meditasi
sesungguhnya adalah usaha untuk menambah kebajikan.
Hal ini bisa terjadi karena selama meditasi dan membaca
paritta, seluruh badan, ucapan, dan pikiran kita diarahkan
untuk melakukan kebajikan. Bahkan dengan meditasi, kita
bisa mengarahkan pikiran agar terbebas dari ketamakan,
kebencian, dan kegelapan batin. Penambahan kebajikan
yang rutin, memang bisa berpengaruh pada buah kamma
buruk yang kita miliki. Hal ini bisa digambarkan dengan
secangkir air yang dimasuki sesendok garam. Garam sudah
tidak bisa dipisahkan lagi dari air, namun rasa asin
garam bisa dikurangi dengan banyak menambah air. Apabila
air menjadi satu botol, maka garam yang satu sendok
tetap di sana, hanya saja rasa asinnya sudah jauh berkurang.
Demikian pula dengan penambahan kebajikan yang terus
menerus dengan membaca paritta dan melaksanakan meditasi
seolah-olah seperti menambah air pada cangkir yang berisi
garam kamma buruk yang pernah dilakukan. Dengan kesabaran
melakukan kebajikan, maka kamma buruk yang dimiliki,
lama kelamaan tidak begitu terasa buahnya, walau ia
masih tetap ada di dalam kehidupan kita.
Saudara Uttamaviriya, keburukan yang terjadi dimasa
lalu tidak selalu punah oleh kebaikan saat ini. Namun
kebaikan saat ini merupakan benih yang mengkondisikan
beberapa hal sebagai berikut:
- mengkondisikan berbuahnya kamma baik yang pernah
dilakukan.
- mengkondisikan lebih sempurnanya hasil kamma baik
yang pernah dilakukan
- mengkondisikan tertekannya kamma buruk yang pernah
dilakukan sehingga hasil kamma buruk itu menjadi lebih
ringan dirasakan.
- mengkondisikan terpotongnya kamma buruk yang pernah
dilakukan / terpotongnya hasil kamma buruk yang diterima,
sehingga sama sekali terbebas dari akibat keburukan
tersebut.
- dan sebagainya.
Saudara, semua itu sangat tergantung (pada) kekuatan
kamma kita, keyakinan kita, dan tekad kita serta kondisi
lainnya, yang sepenuhnya saling tergantung (depends
on conditions). Kamma hanya salah satu faktor kondisi.
Di dalam Buddha Dhamma dikenal 24 kondisi (Paccaya).
Kami harap saudara tekun melakukan kebaikan, niscaya
akan mengkondisikan hal yang positif.
Semoga bermanfaat.
Semoga semua mahluk berbahagia.
Kirim
Artikel ini ke Teman Anda!
|