|
Di Antara Dua Agama
Tanya:
Walaupun secara "KTP" dan secara resmi saya - sejak
sekitar 15 tahun lalu - adalah Kat****, tetapi beberapa
bulan ini saya sangat tertarik mempelajari ajaran Sang
Buddha. Hingga kini, saya masih ke Ger***, walau tidak
sesering dulu. Saya merasakan perbandingan yang terdapat
dalam Agama Buddha dengan Kri**** / Kat**** -- dan terus
terang lebih applicable, universal, lebih berdasarkan
kasih, dan lebih mendalam. Yang utama, ajaran-ajaran
Sang Buddha jauh lebih dapat menjawab berbagai pertanyaan
saya selama ini mengenai teka-teki kehidupan yang tidak
terjawab dalam kepercayaan Kri****.
Pertanyaan saya adalah:
- Bagaimana seharusnya sikap batin dan yang seharusnya
ada dalam pikiran orang seperti saya ini ketika berada
di Ger***?
- Walaupun di rubrik ini pernah dibahas bahwa tidak
apa-apa bila tetap ke Ger***, namun (penentuan sikap
akan) hal itu sangat penting bagi saya karena konsep
dasar Agama Buddha sangat berbeda dengan agama lain
mengenai ketuhanan. Selama berada di Ger***, seluruh
umat 'diarahkan' / 'diminta' untuk menyembah satu
oknum yang maha kuasa itu, yang secara prinsipil tidak
dikenal dalam Agama Buddha. Selama di tempat itu pula,
pernyataan bahwa Yes** adalah Tuhan senantiasa dikumandangkan.
Bukankah jika sikap batin saya (yang notabene telah
lebih 'mengimani' Agama Buddha dibanding Kat****)
juga turut menyembah 'oknum' tersebut, berarti bertentangan
dengan apa yang telah saya yakini selama beberapa
bulan ini? Konflik batin terjadi dalam diri saya.
- Sementara itu, istri saya masih menentang kepercayaan
terhadap ajaran-ajaran Sang Buddha. Dengan demikian,
tujuan saya masih tetap ke Ger*** (bersama istri),
sebenarnya hanya untuk "menyenangkannya"/ "mencegah
kemarahannya" belaka. Bagaimana?
- Dan bagaimana pula saya harus menyikapi pembuatan
tanda salib (atas-bawah-kiri-kanan) dengan tangan
sebagaimana layaknya yang harus dilakukan selama di
Ger***? Selama ini, saat membuat tanda salib, saya
berkata dalam hati "Saya menghormati Yes** sebagai
salah seorang pembabar kebenaran" dan saat yang lain
berdoa secara Kat****, maka di dalam hati saya mengumandangkan
"Namo Tassa ....".
Demikian, mohon jawaban terperinci, dan koreksi atas
sikap batin / pikiran saya di atas.
Mettacittena,
Surja Muliadi, Jakarta Utara
Jawaban dari Samaggi
Phala (Y.M. Uttamo
Thera):
Namo Buddhaya,
- Membandingkan, memilih, dan menentukan salah satu
agama dari berbagai agama yang ada dalam masyarakat,
memanglah hak asasi. Namun, hendaknya pemilihan agama
ini bukan berdasarkan baik dan buruknya suatu agama,
juga bukan karena benar dan salahnya suatu agama,
melainkan karena COCOK dan TIDAK COCOK nya suatu agama
untuk diri kita.
Dengan pola pikir ini, maka pada saat kita telah memilih
satu agama, kita tidak akan menjelekkan agama yang
lain. Dengan kita menjelekkan agama lain, sesungguhnya
menunjukkan bahwa kita belum mengerti tentang ajaran
agama sendiri, dalam Agama Buddha, adalah ajaran tentang
cinta kasih.
Kalau pola pikir 'tidak menjelekkan agama lain' sudah
timbul dalam pikiran kita, maka, apabila kita masuk
ke tempat ibadah manapun juga, pikiran kita bisa diarahkan
untuk hal yang positif dengan selalu mengucap dalam
hati: "Semoga semua mahluk berbahagia."
Ucapan ini akan memberikan manfaat baik untuk diri
sendiri maupun lingkungan. Dengan ucapan ini, kita
bisa mengikuti doa agama lain, karena semua doa adalah
untuk mengharapkan kebaikan, bukan penderitaan. Sedangkan,
dengan ucapan ini pula, kita dapat ikut mendoakan
siapapun juga yang berada di sana, baik mahluk tampak
maupun tak tampak. Dengan demikian, akan timbul kebahagiaan
dalam diri kita secara lahir dan batin.
- Meskipun ada perbedaan konsep ketuhanan, namun,
dengan selalu mengucap "Semoga semua mahluk berbahagia"
maka seseorang tidak akan lagi membahas konsep ketuhanan,
namun akan menjadikan masalah kebahagiaan universal
sebagai sentral pikiran, sedangkan cara mendapatkan
kebahagiaan itu,biarlah tergantung masing-masing individu,
apakah menggantungkan diri pada figur tertentu atau
tidak, hanya akan bersifat teknis jadinya.
Dengan selalu menguncarkan dalam hati kalimat: "Semoga
semua mahluk berbahagia"; maka kita tetap bisa
mengikuti upacara mereka, karena kita akan ikut mengharapkan
semoga siapapun yang mereka doakan akan selalu bahagia,
karena mereka mungkin masih menjadi mahluk di salah
satu dari 31 alam yang dikenal. Pikiran kita tidak
lagi diisi dengan kegelisahan dan kebencian, namun,
yang ada adalah pikiran penuh kasih kepada siapapun
juga.
Dengan cara di atas, maka konflik batin tentunya akan
bisa diatasi, karena kita sudah tidak lagi menyembah
satu figur tertentu, melainkan kita malah memancarkan
cinta kasih kepada mereka semua. Dan, tentunya, cinta
kasih adalah dasar kehidupan ini, semua agamapun akan
mengajarkan tentang cinta kasih. Batin akhirnya menjadi
selaras dengan lingkungan, terbebas dari konflik.
Ketenangan dan kebahagiaan akan dapat dirasakan walau
mengikuti ibadah agama apa saja, dan di mana saja.
- Tidak masalah. Dengan bisa menyesuaikan diri dengan
pasangan hidup, akan membuatnya berpikir positif tentang
Agama Buddha, dan ada kemungkinan dia akan mau belajar
Agama Buddha. Namun, kalau kita berlaku sebaliknya
dan bahkan memusuhinya, maka jadinya dia pun akan
membenci Agama Buddha. Oleh karena itu, selain mau
mengikuti pasangan hidup, ada baiknya juga mengenalkan
padanya tentang Agama Buddha, baik melalui kaset ceramah
maupun perilaku nyata diri kita.
- Anda mungkin saja bisa melakukannya, kalau Anda
melihat ini sebagai simbol atau tradisi, semacam tanda
pengenal yang mungkin bisa dianggap sebagai anjali
atau namaskãra. Walaupun tentu saja
masing-masing perilaku ini mempunyai latar belakang
alasan yang berbeda. Kalau memang hal itu dapat membahagiakan
Anda, maka tentunya, untuk sementara ini, masih bisa
dilakukan.
Semoga bermanfaat.
Semoga semua mahluk berbahagia.
Kirim
Artikel ini ke Teman Anda!
|